metode hermeneutik............ dogmatika


Metode Hermeneutik Gerakan Pentakosta dalam Hubungannya dengan Post-Modernisme:
Untuk memahami metode hermeneutik gerakan Pentakosta terlebih dahulu kita mengetahui hal-hal berikut ini. Gerakan Modernisasi merupakan bentuk perubahan yang dilakukan oleh Pentakosta untuk mengembangkan teologinya melalui tafsiran yang dilakukan pada Alkitab, di mana awal pembentukan teologi hanya berupa bacaan Alkitab kini mereka mencoba melakukan penafsiran Alkitab oleh Roh. Gerakan Fundamentalis merupakan gerakan untuk mempertahankan prinsip studi kritik-historis dari Kitab Suci, yaitu dengan bentuk narasi. Doktrin diperoleh dari pengalaman mereka dengan Allah secara khusus dan pribadi sehinmgga tidak membatasi pandangan sepistemologi yang sama. Gerakan pentakosta yaitu persekutuan yang menekankan hal-hal yang supernatural dalam mengjarkan Kitab Suci kepada semua orang hingga mencapai kehadiran Allah pada masa eskatologi. Dalam hal ini, gerakan ini dapat dilakukan oleh setiap individu yang telah diselamatkan, dikuduskan dan dibaptis dengan Roh Kudus. Evangelikal merupakan isi dari Kitab Suci yang telah diterangi oleh Roh Kudus sehingga dapat dipejarai dan dipahami semua orang.
Berdasarkan hal dia atas, maka metode hermeneutik gerakan Pentakosta pada masa modernisasi adalah 1. pheumatik;2. pengalaman; 3.Sejarah naratif. Apabila ketiga hal ini dihubungkan maka dapat dirangkai: sejarah naratif terungkap dalam Kitab Suci merupakan hasil pengalaman Roh Kudus. Di mana Dia mendorong para nabi/rasul-rasul untuk menytatakan kesaksiannya yang sejati. Kemudian kesaksian itu dituangkan dalam bahasa oleh penulis Kitab Suci dan penulis inipun dipimpin oleh Roh Kudus. Oleh karena itu umtuk memahami Kitab Suci hanya melalui Roh Kudus sebagaimana ditegaskan dalam Yohanes 14:26 dan Yohanes 16:13. dengan demikian peranan Roh Kudus dalam hermeneutik adalah: Roh memberikan inspirasi dan memelihara terang dalam Kitab Suci meliputi mengajari, membimbing, meyakinkan dan mentranformasi Firman tersebut.




BAB 1
Metode Hermeneutik Gerakan Pentakosta dalam Hubungannya dengan Post-Modernisme:
Untuk memahami metode hermeneutik gerakan Pentakosta terlebih dahulu kita mengetahui hal-hal berikut ini. Gerakan Modernisasi merupakan bentuk perubahan yang dilakukan oleh Pentakosta untuk mengembangkan teologinya melalui tafsiran yang dilakukan pada Alkitab, di mana awal pembentukan teologi hanya berupa bacaan Alkitab kini mereka mencoba melakukan penafsiran Alkitab oleh Roh. Gerakan Fundamentalis merupakan gerakan untuk mempertahankan prinsip studi kritik-historis dari Kitab Suci, yaitu dengan bentuk narasi. Doktrin diperoleh dari pengalaman mereka dengan Allah secara khusus dan pribadi sehinmgga tidak membatasi pandangan sepistemologi yang sama. Gerakan pentakosta yaitu persekutuan yang menekankan hal-hal yang supernatural dalam mengjarkan Kitab Suci kepada semua orang hingga mencapai kehadiran Allah pada masa eskatologi. Dalam hal ini, gerakan ini dapat dilakukan oleh setiap individu yang telah diselamatkan, dikuduskan dan dibaptis dengan Roh Kudus. Evangelikal merupakan isi dari Kitab Suci yang telah diterangi oleh Roh Kudus sehingga dapat dipejarai dan dipahami semua orang.
Berdasarkan hal dia atas, maka metode hermeneutik gerakan Pentakosta pada masa modernisasi adalah 1. pheumatik;2. pengalaman; 3.Sejarah naratif. Apabila ketiga hal ini dihubungkan maka dapat dirangkai: sejarah naratif terungkap dalam Kitab Suci merupakan hasil pengalaman Roh Kudus. Di mana Dia mendorong para nabi/rasul-rasul untuk menytatakan kesaksiannya yang sejati. Kemudian kesaksian itu dituangkan dalam bahasa oleh penulis Kitab Suci dan penulis inipun dipimpin oleh Roh Kudus. Oleh karena itu umtuk memahami Kitab Suci hanya melalui Roh Kudus sebagaimana ditegaskan dalam Yohanes 14:26 dan Yohanes 16:13. dengan demikian peranan Roh Kudus dalam hermeneutik adalah: Roh memberikan inspirasi dan memelihara terang dalam Kitab Suci meliputi mengajari, membimbing, meyakinkan dan mentranformasi Firman tersebut.




Bab 2
Persamaan dan perbedaan pandangan katolik dan Pentakosta terhadap otoritas alkitab dan tradisi
Bagi RK dan Pentakosta, mereka memahami otoritas alkitab itu bergantung pada otoritas Allah melalui Roh Kudus, jadi pengajaran gereja tidak mutlak dilakukan di dalam dan tidak di bawah gereja. Pandangan inilah yang mempengaruhi bagaimana cara pandang mereka dalam menafsirkan alkitab. Bagi RK lebih menekankan bahwa gereja sebagai komunitas orang percaya yang diterangi Roh Kudus sehingga mampu merumuskan eksegese alkitab dan dilihat sebagai pengajaran gereja. Sedangkan bagi Pentakosta, siapa saja (subjektivisme) berhak menafsirkan alkitab karena itu di bawah terang Roh Kudus untuk menuntun mereka memahami otoritas Firman Tuhan yang hidup bagi orang percaya. Pandangan ini terbentuk atas dasar pemahaman mereka terhadap tradisi yang termuat dalam alkitab itu sendiri. Satu sisi bagi RK, mereka memahami bahwa tradisi itu di bawah bimbingan Roh kudus sehingga tradisi itu hidup dan terus berkelanjutan dan diyakini menjadi sebuah tulisan Firman Allah. Di sisi lain bagi Pentakosta menganggap bahwa tradisi tidak semuanya memiliki legitimasi dan disinilah Roh Kudus berperan menyingkap kebenaran tradisi.
Peranan Roh Kudus dalam metode penafsiran alkitab dan tradisi
Adapun peranan Roh kudus dalam penafsiran alkitab dan tradisi yaitu
  1. Roh Kudus menerangi pikiran orang percaya sehingga dapat menafsirkan Firman Allah, karena orang percaya sebagai komunitas orang kudus yang sudah disatukan oleh Roh Kudus juga.
  2. Roh Kudus mengingatkan semua orang percaya tentang tradisi yang berlaku dalam Alkitab.








Bab 3
Pergeseran visi Pentakosta dari Christian Unity pada Spiritual Unity hingga pada Ekumenisme
Yang dimaksudkan visi kesatuan umat yaitu sebuah gerakan oikumene gereja di mana gerakan ini bersifat toleran, berpikir secara umum dan terbuka. Dalam arti ada penyatuan pandangan mengenai kesatuan Kristiani. Hubungannya dengan Pentakosta yaitu Pentakosta merupakan gerakan Oikumene pada awalnya dalam membentuk jemaat lokal yang bersifat fundamental dan evangelis. Akan tetapi pandangan itu menjadi kabur karena mereka ekslusif dengan oikumene spiritualnya. Kendati demikian pandangan itu dikembangkan lagi/diperbaiki demi menjalin relasi dengan denominasi gereja lainnya. Kemudian visi itu dikaitkan dengan Yoh.17:21 “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Dengan demikian ini adalah jawaban atas doa Yesus di dalam visi Pentakosta menggerakan usaha semangat gerakan oikumene bersama-sama dengan gereja-gereja tradisional dan ini menjadi etos kerja dari para pemimpin pendahulu gerakan Pentakosta demi kesatuan orang-orang Kristen.
Menuju Ekumenisme:pergeseran visi ini mulai tampak dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan Pentakosta yaitu kegiatan yang berbau oikumene:
  1. David du Pleiss yang adalah utusan gereja Pentakosta dalam visi Imam Kerasulan di Afrika Selatan (1928). Dia yang awalnya menganggap separatis dengan gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan karena biasanya di gereja-gereja ini berlaku pengeluaran anggota jemaat dari gereja. Pada akhirnya pandangan itu pudar dan melakukan hubungan oikumene dengan gereja-gereja tersebut. Perubahan ini berawal dari kesaksiannya yang mana Tuhan memerintahkan dirinya untuk pergi dan bersaksi kepada seluruh Pemimpin Dewan Gereja-gereja Dunia.
  2. Partisipasi Pentakosta dalam Pertemuan Dewan Dunia di Canberra pada tahun 1991. Kehadiran mereka menjadikan tema terfokus pada “Datanglah Roh Kudus-Baharuilah Seluruh Ciptaan” dan dibahas juga “Gerakan Pentakosta dan Karismatik” serta “Roh akan Kesatuan Mendamaikan Pentakosta dalam Bersaksi”.


Bab 5
Peranan Gereja Ortodok menghadapi Pneumatologi dalam WCC:
Dalam hal ini gereja Ortodoks memberikan kritikan pada gereja barat yang lebih menekankan Kristologi dalam gereja dengan mengesampingkan pneumatologi. Melalui kritikan ini Ortodoks ingin menegaskan bahwa betapa pentingnya pneumatologi dalam ajaran keselamatan di gereja. Karena di sini pneumatologi berfungsi sebagai eklesiologi serta berada dalam “theosis” laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu gereja Ortodoks berusaha pneumatologi berkembang dalam teologi WCC. Dengan demikian gereja tidak hanya bagian dari Kristologi tetapi juga bagian dari Roh Kudus. Sebagaimana Jhon Zizioulas menjelaskan bahwa gereja adalah institusi oleh Kristus dan konstitusi oleh Roh Kudus.

Prospek pendekatan Oikumenis Pneumatologis:
1.      pneumatologi muncul dalam setiap sudut teologi yang menghasilkan pengertian yang semakin dalam lagi tentang teologi dari segi metode, batas-batas maupun pernyataan lainnya.
2.      kesatuan semakin tampak dengan partisipasi dari teologi Ortodoks Timur serta gerakan Pentakosta dan karismatik dalam WCC.
3.      sasaran pneumatologi dalam meningkatkan spiritualitas dari gerakan Pentakosta-Karismatik serta dari Ortodoks Timur.
4.      pneumatologi menekankan peranan Roh dalam mencapai kesatuan Kristen mesti ditingkatkan dalam gerakan oikumene.
5.      gerakan oikumene menegaskan bahwa Roh Kudus memang sebagai pemersatu selain trinitas ad intra, sebab di dalam tiap individu ada kuasa Roh Allah yang sama.
6.      pneumatologi merupakan bagian dari teologi yang tak dapat terpisahkan begitu juga bagian kesatuan dari trinitarian.







Bab 8
Ketegangan dalam gereja sebagai sebuah struktur yang karismatis dan gereja sebagai persekutuan karismatis:































Bab X
Hubungan Roh Kudus dan Perjamuan Kudus dalam perspektif anamnesis; epiklesis dan eskatologis
Anamnesis: dasar Perjamuan Kudus dilakukan oleh gereja sebagai perjamuan Kudus adalah sebagaimana yang diperintahkan Yesus sendiri untuk menjadi peringatan/mengingatkan  akan Dia (1 Kor 11:24; Luk. 22:19). Oleh karena itu, Roh Kudus berperan di sini untuk mengingatkan umat yang percaya kepada Yesus dan perkataanNya (Yoh.14:26). Mengingatkan manusia akan penyaliban dan kebangkitan Kristus. Dan dengan demikian Roh Kudus juga lah yang hadir dalam sakramen Perjamuana Kudus karena Yesus sudah mengutus Roh Kudus tersebut sebagai pengganti kehadiranNya.
Epiklesis: sebelum Roh kudus berperan dalam Perjamuan Kudus, maka umat melakukan epiklesis terlebih dahulu yaitu berdoa. Doa ini dilakukan untuk memanggil Roh Kudus, maka diucapkanlah “datanglah ya Tuhan” (1 Kor.16:22). Perkataan ini dalam liturgi merupakan bentuk kedatangan Roh Kudus, yang mana melalui Dialah sakramen muncul dan adanya sakramen maka gereja terbentu. Artinya, gereja berasal dari sakramen yang dikuatkan oleh Roh Kudus.
Eskatologis: hubungan Roh Kudus dalam eskatologis ini dimaksudkan dalam kehadiranNya dalam Perjamuan Kudus. Dengan maksud bahwa ketika umat berdoa untuk memanggil Roh kudus (sebagaimana dalam epiklise) ini sebagai bentuk antisipasi umat dalam menyambut kedatangan Tuhan kedua kalinya (eskatologi). Artinya melalui Perjamuan Kudus dunia sudah mengalami perubahan terlebih dahulu. Karena kehadiran Roh Kudus makanya umat tahu bagaimana mereka mengucap syukur pada Tuhan melalui doa; atau memberkati satu sama lain. Lebih dari itu, Roh Kudus telah menyembuhkan setiap orang yang mengikuti Perjamuan Kudus, dalam arti ada pembaharuan hati dan jiwa manusia. Dengan demikian umat mendapat bagian dalam perjamuan Allah tersebut.







Bab IX
Pemahaman Luther tentang imamat orang percaya dan hubungannya dengan struktur karismatik
1 Petrus 2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”. Melalui ayat ini Luther memahami bahwa gereja merupakan kumpulan orang-orang kudus, yang dipanggil dengan perantaraan Baptisan dan diteguhkan oleh Roh Kudus. Pemanggilan itu menunjukkan bahwa kumpulan itu adalah orang-orang yang mendapat tugas panggilan  untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar tentang Yesus (memikul beban kita dan berdoa bagi kita umatNya), dan inilah yang disebut dengan tugas keimamam. Hal ini sesuai dengan Yesus lakukan. Oleh karena umat mendapat bagian dalam Baptisan maka dengan demikian umat juga mendapat bagian dalam imamNya. Berbeda halnya pemahaman Luther ini apabila dibandingkan dengan struktur karismatik yang ada sekarang ini. Di dalam struktur karismatik, ditegaskan bahwa anggota-anggota yang terkumpul dalam komunitas adalah Tubuh Krsitus. Di mana Tubuh Kristus itu telah menyatukan karisma masing-masing anggota yang diperolehnya dari Roh kudus. Jadi setiap anggota mempunyai karisma yang berbeda-beda sesuai pilihan Roh Kudus itu sendiri. Adanya karisma itu, maka masing-masing anggota menggunakan karisma dirinya untuk melayani satu sama lain diantara komunitas sehingga saling melengkapilah mereka. Inilah yang disebut struktur karismatik. Karisma menjadi kekuatan untuk melaksanakan tugas pelayanan sesuai dengan fungsinya. Oleh karena itu, setiap anggota harus memahami dirinya sebagai anggota yang aktif  karena karisma itu untuk kepentingan bersama (1 Kor. 12:7) dan ini dikaruniai oleh Roh Yang sama dan satu (ayat 11). Dengan demikian gereja menjadi perwakilan dari pemanggilan orang-orang yang telah dikaruniai karisma untuk menjadi umat Allah yang terberkati. Akan tetapi gereja tidak dapat menentukan bagaimana Roh menganugerahkan karunia tersebut. Karena itu karisma dapat berubah-ubah sesuai dengan kehendakNya dari waktu ke waktu maupun dari seorang ke orang lain. Dengan kata lain setiap orang mesti memperbaharui karismanya agar bermanfaat bagi orang lain, sebab tidak selamanya karisma itu bersama kita.


Bab VII
Hubungan eklesiologi-pneumatologi-Kristologi dan Trinity: eklesiologi merupakan persekutuan orang-orang percaya yang berada dalam gereja. Persekutuan itu disatukan melalui pemanggilan Allah menjadi umatNya yang dikasihi oleh perantara Roh Kudus karena Roh Kudus-lah dasar persekutuan (2 Kor. 13:13 “kasih karunia Tuhan Yesus Kritus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”). Selain mempersatukan gereja Roh Kudus juga yang menggerakkan orang-orang percaya sehingga setiap orang berani mengakui Yesus sebagai Tuhan (1 Kor. 12:3 karena itu aku mau menyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun dapat mengaku “Yesus adalah Tuhan” selain oleh Roh Kudus). Yesus yang adalah anak-Nya Allah yang dikaruniakan bagi orang-orang percaya. Di mana Yesus bentuk kasih karunia Allah bagi manusia. Karena melalui Yesus-lah maka kita dapat turut menikmati kasih Allah tersebut. Dengan demikian Roh Kudus juga turut mendukung pemberian kasih Allah tersebut, di mana kita dapat mengakui Yesus adalah Tuhan. Apabila tidak ada Roh Kudus bagaimana mungkin kita dapat menikmati kasih karunia Allah melalui Yesus. Dengan inilah maka ada bentuk Trinity di dalam gereja. Artinya gereja mengakui adanya peran Roh  Kudus, Yesus Kristus dan Allah Bapa yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Gereja sebagai persekutuan yang trinitaris: hal ini berkaitan dengan kebutuhan gereja untuk menunjukkan bahwa dirinya sebagai komunitas Allah. Dalam arti gereja merupakan persekutuan yang disatukan oleh Roh. Yang mana gereja mengakui persekutuan itu atas dasar Allah Bapa, Yesus Kristus dan persekutuan Roh Kudus. Dengan demikian tampak bahwa gereja bukan sekedar lembaga umum dan biasa saja. Akan tetapi, gereja merupakan jenis persekutuan yang disatukan oleh Trinitatis. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, Eklesiologi disatukan oleh Pneumatologi untuk terpusat pada Kristologi yang mana Allah bertindak dalamNya.







Bab IV
Pentakosta merupakan Gerakan oikumenis:



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilmu Alamiah Dasar Sepuluh Misteri Tata Surya