Ilmu Alamiah Dasar Sepuluh Misteri Tata Surya
Nama : Erwin H. Manurung
NIM : 08. 2328
Mata Kuliah : Ilmu Alamiah Dasar
Judul Tugas : Sepuluh Misteri Tata Surya
Sepuluh Misteri Tata Surya
Tata Surya (bahasa Inggris: solar system) terdiri dari sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang yang mengelilinginya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, meteor, asteroid, komet, planet-planet kerdil/katai, dan satelit-satelit alami.Tata surya dipercaya terbentuk semenjak 4,6 milyar tahun yang lalu dan merupakan hasil penggumpalan gas dan debu di angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilinginya. Tata surya terletak di tepi galaksi Bima Sakti dengan jarak sekitar 2,6 x 1017 km dari pusat galaksi, atau sekitar 25.000 hingga 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Tata surya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 220 km/detik, dan dibutuhkan waktu 225–250 juta tahun untuk untuk sekali mengelilingi pusat galaksi. Dengan umur tata surya yang sekitar 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita telah mengelilingi pusat galaksi sebanyak 20–25 kali dari semenjak terbentuk. Tata surya dikekalkan oleh pengaruh gaya gravitasi matahari dan sistem yang setara tata surya, yang mempunyai garis pusat setahun kecepatan cahaya, ditandai adanya taburan komet yang disebut awan Oort. Selain itu juga terdapat awan Oort berbentuk piring di bagian dalam tata surya yang dikenali sebagai awan Oort dalam. Disebabkan oleh orbit planet yang membujur, jarak dan kedudukan planet berbanding kedudukan matahari berubah mengikut kedudukan planet di orbit.
Asal Usul Tata Surya Banyak hipotesis tentang asal usul tata surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :
Hipotesis Nebula Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.
Hipotesis Planetisimal Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.
Hipotesis Pasang Surut Bintang Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.
Hipotesis Kondensasi Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
Hipotesis Bintang Kembar Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil.
Sejarah penemuan Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang. Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) sebelumnya. Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter. Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya.
Pada 1781, William Hechell (1738-1782) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930. Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh dengan Pluto.
Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Obyek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).
Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Obyek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.
Daftar jarak planet
Daftar planet dan jarak rata-rata planet dengan matahari dalam tata surya adalah seperti berikut:
57,9 juta kilometer ke Merkurius
108,2 juta kilometer ke Venus
149,6 juta kilometer ke Bumi
227,9 juta kilometer ke Mars
778,3 juta kilometer ke Jupiter
1.427,0 juta kilometer ke Saturnus
2.871,0 juta kilometer ke Uranus
4.497,0 juta kilometer ke Neptunus
Terdapat juga lingkaran asteroid yang kebanyakan mengelilingi matahari di antara orbit Mars dan Jupiter. Karena rotasinya terhadap sumbu masing-masing, garis khatulistiwa menjadi lingkar terpanjang yang terdapat di setiap planet dan bintang.
Meskipun tata surya sudah cukup banyak dieksplorasi, mulai dari pengamatan dari bumi, pengamatan menggunakan teleskop ruang angkasa Hubble, wahana-wahana ruang angkasa yang diluncurkan untuk kemudian mengorbit dan mendarat di permukaan anggota-anggota tata surya di luar bumi, ternyata masih banyak misteri yang ada di tata surya kita ini.
Untuk itu, para astronom mengumpulkan sepuluh aspek tata surya yang menurut mereka masih misterius dan menantang mereka untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut.
1. Temperatur kutub-kutub matahari yang tidak sama
Para ahli fisika matahari melihat bahwa temperatur kutub selatan matahari lebih rendah dibandingkan dengan temperatur kutub utaranya. Wahana Ulysses yang diluncurkan pada tahun 1990 oleh Pesawat Ulang Alik Discovery adalah wahana yang pertama kali bisa mengamati kutub-kutub matahari. Lintasan wahana ini bisa mencapai daerah di atas tata surya karena dengan menggunakan gravitasi Yupiter Ulysses dikatapel ke atas bidang ekliptika sehingga mencapai lintasan yang memungkinkannya untuk bisa mengamati kutub-kutub matahari. Setelah beroperasi selama 17 tahun dan memberikan banyak informasi tentang kutub-kutub matahari, pada tanggal 1 Juli 2008 wahana ini menghentikan kegiatannya. Dari data yang diperoleh melalui pengamatan oleh wahana ini didapat bahwa temperatur kutub selatan matahari 80.000 Kelvin lebih rendah dari temperatur kutub utaranya, dan tampak bahwa hal ini tidak terkait dengan peristiwa pembalikan kutub matahari yang terjadi setiap 22 tahun. Pengukuran temperatur ini dilakukan dengan mengambil sampel ion angin surya pada jarak 300 juta kilometer yang terletak di atas dan bawah kutub utara dan selatan matahari. Kemudian dengan mengukur perbandingan ion-ion oksigen (O6/O7), maka karakteristik plasma yang terdapat di bagian bawah korona bisa dihitung, dan dari sinilah didapat temperatur kutub-kutub matahari.
Informasi ini membingungkan para ahli fisika matahari dan mereka menduga bahwa perbedaan temperatur ini berasal dari perbedaan struktur matahari di kedua kutub ini.
2. Misteri Mars
Bila diamati dengan teliti, tampak bahwa belahan utara dan selatan Mars tampak sangat berbeda. Ini jadi seperti dua belahan planet yang berbeda yang disetangkupkan. Belahan utara Mars kebanyakan terdiri atas daerah-daerah dataran rendah, sedangkan belahan selatan Mars merupakan daerah yang dipenuhi dengan gunung-gunung tinggi. Teori awal yang mengatakan bahwa planet ini telah ditumbuk oleh objek langit yang sangat besar sehingga mengakibatkan munculnya kawah yang sangat besar sehingga muncul daerah dataran rendah yang sangat besar sudah ditolak karena daerah dataran rendah ini tidak menunjukkan ciri-ciri sebuah kawah bekas tumbukan, misalnya tidak ada bibir kawah, dan daerah yang dianggap menjadi tempat tumbukan ini tidak berbentuk lingkaran. Akan tetapi, ada juga yang masih berpendapat bahwa dataran rendah di Mars ini dibentuk oleh peristiwa tumbukan akibat jatuhnya batuan berukuran antara 1600-2700 km.
3. Peristiwa Tunguska
Pada tahun 1908 di atas Sungai Podkamennaya di Tunguska, Rusia terjadi suatu ledakan yang berlangsung di udara dan kilacan cahaya dari ledakan ini bisa terlihat dari jarak ratusan kilometer jauhnya. Setelah daerah tersebut didatangi, tampak bahwa sekitar 80 juta pohon hangus terbakar, dan sekitar 2000 kilometer persegi daerah menjadi rata dengan tanah. Meskipun demikian, para peneliti tidak menemukan adanya kawah di situ dan ini membingungkan mereka, ledakan macam apa yang terjadi di daerah Tunguska ini? Apa yang jatuh dari langit pada saat itu? Ada ahli yang berpendapat bahwa ledakan ini berasal dari masuknya komet atau meteor ke atmosfer bumi yang kemudian meledak di udara. Akan tetapi, sejauh ini mereka belum berhasil menemukan adanya sisa-sisa meteorit di permukaan tanah di bawah pusat ledakan.
Bumi merupakan suatu magnet yang sangat besar. Konfigurasi dua kutub magnet bumi terdapat disekitar permukaan bumi, dimana kutub magnet bumi tidak sama dengan kutub geografi bumi, tetapi berdekatan. Medan magnet bumi tidak sepenuhnya bulat seperti medan magnet pada umumnya. Hal ini dikarenakan medan magnet bumi terdorong oleh angin matahari yang berhembus dari matahari dan tak pernah berhenti. Angin matahari mendorong medan magnet menuju bumi di sisi siang hari yang berhadapan dengan matahari. Dan disisi malam hari, angin matahari mendorong dan memperlebar daerah medan magnet menjadi ekor magnet (magnetotail) yang panjang.
4. Kemiringan sumbu Uranus
Uranus adalah sebuah planet yang sangat aneh. Manakala planet-planet lain di tata surya memiliki sumbu rotasi yang mengarah ke atas bila dilihat dari bidang ekliptika, maka sumbu rotasi Uranus tampak nyaris terletak di bidang ekliptika (kemiringan sumbunga 98o). Hal ini membuat kutub utara dan selatan secara bergantian mengarah ke matahari (setiap 42 tahun). Fakta ini membingungkan para astronom dan ada yang berpendapat bahwa kemiringan sebesar ini disebabkan oleh adanya tumbukan oleh benda langit yang sangat besar sehingga Uranus menjadi memiliki orbit yang seperti sekarang ini. Akan tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa pada saat tata surya masih muda konfigurasi orbit Yupiter dan Saturnus secara bersama-sama memberikan pengaruh pada orbit Uranus sehingga berhasil mendorong sumbu orbit Uranus yang ukurannya lebih kecil dari kedua planet tersebut dan akibatnya Uranus berada dalam keadaannya yang sekarang.
5. Atmosfer Titan
Titan, salah satu satelit Saturnus adalah satu-satunya satelit planet yang memiliki atmosfer. Ukurannya di tata surya hanya dikalahkan Ganymede (salah stu satelit Yupiter), dan massanya 80% lebih besar daripada massa bulan, satelit bumi. Walaupun Mars dan Venus sering disebut sebagai kembaran bumi, atmosfer kedua planet ini sangat berbeda dengan bumi. Atmosfer Mars 100 kali lebih tipis dariapda atmosfer bumi, sedangkan atmosfer Venus 100 kali lebih tebal. Di pihak lain, atmosfer Titan hanya satu setengah kali lebih mampat daripada atmosfer bumi, dan tersusun hampir seluruhnya dari nitrogen (95%). Bagaimana Titan bisa memiliki keadaannya yang seperti ini masih menjadi bahan perdebatan, tetapi setelah para ahli menemukan banyaknya senyawa hidrokarbon di permukaannya mereka lalu berpikir bahwa Titan ini suatu bisa menjadi tempat berevolusinya kehidupan. Meskipun demikian, mereka masih bingung mengenai dari mana datangnya atmosfer Titan ini dan apakah memang betul suatu saat akan ada kehidupan di Titan ini.
6. Pemanasan korona matahari
Sudah sejak lama para astronom dibingungkan dengan fakta bahwa korona matahari lebih panas dibandingkan dengan permukaannya. Temperatur fotosfer matahari sekitar 6000 kelvin sedangkan temperatur korona matahari mencapai jutaan derajat. Tampak bahwa ini melanggar hukum-hukum fisika. Para astronom yang sudah cukup lama bekerja keras dalam pengamatan matahari dan pembuatan simulasi model atmosfer matahari kemudian mulai mendapatkan gambaran mengenai proses pemanasan korona matahari ini. Mereka kemudian sampai pada simpulan bahwa pemanasan korona matahari berasal dari proses yang melibatkan medan magnet matahari dan di sini ada dua mekanisme yang menyebabkannya, yaitu nanoflare dan pemanasan gelombang (wave heating) yang bekerja secara bersama-sama. Meskipun demikian, sebelum ada pengamatan secara in situ pada daerah korona matahari, hal ini masih menjadi bahan perdebatan. Untuk itu para ahli fisika matahari berencana untuk meluncurkan wahana yang bisa bergerak ke dalam korona matahari, dan wahana ini dinamakan Solar Probe.
7. Debu komet
Bagaimana debu yang terbentuk dalam temperatur tinggi bisa terdapat di komet yang beku? Komet ini dibentuk di daerah tata surya yang jauh dari matahari, yaitu di daerah Sabuk Kuiper (sekitar orbit Pluto), atau di daerah yang disebut sebagai Awan Oort. Daerah ini kadang-kadang mendapatkan gaya tarik gravitasi dari matahari dan sebagian materinay kemudian bergerak ke arah bidang ekliptika. Ketika bergerak ke matahari, bahan-bahan ini mendapatkan radiasi dari matahari sehingga sebagian dari permukaannya akan menguap dan membentuk ekor yang dinamakan coma. Dari komet-komet ini ada yang jatuh langsung ke matahari, tetapi ada juga yang karena ikut tertarik oleh gravitasi Yupiter menjadi komet periodik seperti komet Halley yang terkenal itu.
Akan tetapi, dalam sebuah ekspedisi yang diluncurkan ke komet Wild-2 oleh misi Stardust milik NASA pada tahun 2004, didapat bahwa karakteristik bulir-bulir debu yang terdapat di permukaan komet ini menunjukkan bahwa mereka terbentuk dalam lingkungan yang memiliki temperatur sangat tinggi. Komet Wild-2 diyakini berasal dari daerah Sabuk Kuiper, tetapi bagaimana bisa butiran-butiran ini bisa terbentuk di daerah yang temperatur lingkungannya lebih dari 1000 K? Tata surya berevolusi dari sebuah nebula sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu dan membentuk sebuah piringan akresi ketika nebula ini sudah dingin. Tampaknya sampel-sampel ini terbentuk di daerah pusat piringan di dekat matahari yang masih muda dan kemudian terlempar ke bagian luar piringan akresi ini, dan akhirnya sampailah di daerah Sabuk Kuiper. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah mekanisme apa yang membuat itu terjadi.
8. Jurang Kuiper
Sabuk Kuiper adalah daerah di tata surya yang berbentuk cincin yang letaknya berada di luar orbit Neptunus. Sabuk Kuiper ini mirip dengan sabuk asteroid yang terletak di antara Mars dan Yupiter dan mengandung jutaan objek batuan dan yang bersifat logam dan massanya 200 kali lebih besar dibandingkan dengan daerah sabuk asteroid. Di daerah ini banyak terdapat air, amonia, dan metana yang semuanya ada dalam keadaan beku. Daerah Sabuk Kuiper ini adalah daerah tata surya yang paling sedikit dieksplorasi dan oleh sebab itu NASA meluncurkan sebuah wahana ruang angkasa melalui misi New Horizon yang diharapkan sampai di sana pada tahun 2015. Walaupun informasi tentang daerah Sabuk Kuiper belum terlalu banyak, para astronom sudah berhasil mendapatkan sedikit gambaran tentang karakteristik daerah Sabuk Kuiper ini yang cukup membingungkan. Mereka mendapatkan bahwa pada jarak sekitar 50 satuan astronomi dari matahari (50 kali jarak bumi matahari) jumlah anggota Sabuk Kuiper ini turun secara mendadak. Hal ini tidak sesuai dengan perhitungan mereka karena secara teoretis jumlah anggota Sabuk Kuiper akan meningkat pada jarah yang lebih besar dari 50 satuan astronomi.
Mereka mengusulkan bahwa sedikitnya jumlah anggota Sabuk Kuiper pada jarak lebih besar dari 50 satuan astronomi adalah karena mereka belum mengalami proses akumulasi untuk menjadi sebuah objek yang cukup besar. Ada lagi yang mengusulkan bahwa objek-objek yang terdapat pada jarak itu sudah diakresi oleh objek seukuran Mars atau bumi yang terletak tidak terlalu jauh.
9. Anomali Pioneer
Wahana ruang angkasa Pioneer 10 dan 11 diluncurkan pada tahun 1072 dan 1973 untuk melakukan eksplorasi pada tata surya bagian luar. Perjalanan wahana-wahana ini dipantau terus oleh apra astronom NASA dan mereka mendapatkan bahwa kedua ini bergerak melenceng ke arah yang tidak dirancang sebelumnya karena mendapatkan percepatan ke arah matahari. Walaupun secara astronomi penyimpangan ini tidak terlalu besar (simpangan sebesar 386,000 km setelah bergerak 10 miliar km), tetap saja ini adalah penyimpangan dan para astronom masih belum bisa menjealskan hal ini.
Salah satu teori mengatakan bahwa radiasi infra merah yang tak seragam di sekeliling wahana akibat pancaran radio isotop plutonium yang menjadi sumber energi yang dibawa wahana ini mengakibatkan adanya tekanan radiasi yang membuatnya mengalami dorongan kecil ke arah matahari. Meskipun demikian, radiasi ini masih terlalu kecil untuk menghasilkan penyimpangan sebagaimana yang ditemukan para astronom. Ada yang berpikir bahwa di sini materi gelap mulai memainkan peranannya dalam memperlambat gerakan Pioneer tersebut.
10. Awan Oort
Apakah Awan Oort itu? Awan Oort adalah daerah berbentuk bola yang menyelubungi tata surya dan terletak sejauh 50.000 satuan astronomi dari bidang tata surya. Jarak ini membuatnya terlalu jauh untuk bisa diamati secara langsung karena harga jarak ini sama dengan seperempat jarak ke bintang terdekat dengan matahari (Proxima Centauri).
Daerah Awan Oort merupakan daerah tepian tata surya dan oleh sebab itu gravitasi matahari sudah sangat lemah sehingga adanya gangguan oleh bintang yang lewat bisa mengakibatkan objek-objek yang terdapat di tempat itu terlempar ke daerah tata surya sebelah dalam, dan menghasilkan komet-komet perioda panjang. Hal inilah yang membuat para astronom percaya bahwa Awan Oort itu memang ada. Meskipun demikian, eksistensinya tidak mungkin dibuktikan sekarang, dan mungkin suatu saat nanti dengan adanya pesawat-pesawat angkasa yang bisa melakukan perjalanan jauh, eksistensi Awan Oort ini bisa dibuktikan.
Pemikikiran Kritis Saya Tentang Sepuluh Misteri Tata Surya
Saya sengaja mengambil topik ini, karena banyak orang yang mempunyai pengetahuanya tidak digunakan dengan baik hanya sebagian yang bersifat positif. Seperti topik yang saya angkat ini ,para astronom yang pintar dalam bidang astronomi ingin dan selalu ingin pendapatnya itu diabadikan , padahal itu tidak lama, Karena diatas yang pintar masih banyak lagi orang pintar. Sehingga pendapat para ilmuan itu tidak dapat abadi sehingga sehingga pendapat para astronom itu tidak bisa di pastikan kebenaranya. Jadi sangat sulit untuk memastikan kebenaran pendapat tersebut. Jadi seharusnya para ilmuan itu jangan hanya bersifat ego yang hanya merasa pendapat nya itu lebih baik. Agar tidak ada kebingunggan para awam untuk membaca karyanya.
Kita tahu ternyata pendapat ilmuan itu hanya sementara saja sedangkan firman Tuhan itu kekal dan abadi. Jadi masukan dari saya seharusnya jika kita mempunyai talenta atau keahlian, kita harus menggunakannya dengan baik.
Tuhan sudah memberikan kita segalanya dan kita sudah menikmatinya. Jadi, hemaat saya seharusnya kita harus menjaga nya dengan baik bukan untuk di lenyapkan.Seperti planet kita ini( bumi) banyak sekali yang terjadi di bumi kita ini akibat gempah bumi. Itu semua karena perlakuan orang-orang yang tidak wajar hanya sewenang–wenangnya saja.
Banyak para atronom meneliti dan mengetahui status planet duniai ini tetapi mereka belum juga menemukan bagaimana caranya melindungi palnet-planet tersebut. Contohnya Bumi kita ini merupakan tempat tinggal makhluk hidup.
Jika Bumi ini hancur apakah masih ada tempat tinggal manusia di planet lain? Ini seharusnya diteliti dan bagaimana caranya agar manusia hidup di planet yang lain? Memang pernah para ilmuan Amerika menelitinya tetapi tidak berhasil mengetahui seluruhnya.
Seharusnya kita mengabadikan segala karya astronom itu bukan untuk meninggalkan begitu saja. Kita tahu di Indonesia ini banyak para ilmuan tetapi belum ada para astronom yang bisa mengetahui keaadan Indonesia ini, sehingga kita harus menyewa para ilmuan luar negeri seperti para ilmuan Rusia. Jadi masukan dari saya, seharusnya anak-anak bangsa Indonsia bukan hanya terjun kedalam dunia politik saja tetapi juga kedalam dunia teknologi. Dan jangan bermalas-malas mengharapkan dunia perkantoran.
NIM : 08. 2328
Mata Kuliah : Ilmu Alamiah Dasar
Judul Tugas : Sepuluh Misteri Tata Surya
Sepuluh Misteri Tata Surya
Tata Surya (bahasa Inggris: solar system) terdiri dari sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang yang mengelilinginya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, meteor, asteroid, komet, planet-planet kerdil/katai, dan satelit-satelit alami.Tata surya dipercaya terbentuk semenjak 4,6 milyar tahun yang lalu dan merupakan hasil penggumpalan gas dan debu di angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilinginya. Tata surya terletak di tepi galaksi Bima Sakti dengan jarak sekitar 2,6 x 1017 km dari pusat galaksi, atau sekitar 25.000 hingga 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Tata surya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 220 km/detik, dan dibutuhkan waktu 225–250 juta tahun untuk untuk sekali mengelilingi pusat galaksi. Dengan umur tata surya yang sekitar 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita telah mengelilingi pusat galaksi sebanyak 20–25 kali dari semenjak terbentuk. Tata surya dikekalkan oleh pengaruh gaya gravitasi matahari dan sistem yang setara tata surya, yang mempunyai garis pusat setahun kecepatan cahaya, ditandai adanya taburan komet yang disebut awan Oort. Selain itu juga terdapat awan Oort berbentuk piring di bagian dalam tata surya yang dikenali sebagai awan Oort dalam. Disebabkan oleh orbit planet yang membujur, jarak dan kedudukan planet berbanding kedudukan matahari berubah mengikut kedudukan planet di orbit.
Asal Usul Tata Surya Banyak hipotesis tentang asal usul tata surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :
Hipotesis Nebula Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.
Hipotesis Planetisimal Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.
Hipotesis Pasang Surut Bintang Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.
Hipotesis Kondensasi Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
Hipotesis Bintang Kembar Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil.
Sejarah penemuan Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang. Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) sebelumnya. Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter. Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya.
Pada 1781, William Hechell (1738-1782) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930. Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh dengan Pluto.
Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Obyek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).
Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Obyek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.
Daftar jarak planet
Daftar planet dan jarak rata-rata planet dengan matahari dalam tata surya adalah seperti berikut:
57,9 juta kilometer ke Merkurius
108,2 juta kilometer ke Venus
149,6 juta kilometer ke Bumi
227,9 juta kilometer ke Mars
778,3 juta kilometer ke Jupiter
1.427,0 juta kilometer ke Saturnus
2.871,0 juta kilometer ke Uranus
4.497,0 juta kilometer ke Neptunus
Terdapat juga lingkaran asteroid yang kebanyakan mengelilingi matahari di antara orbit Mars dan Jupiter. Karena rotasinya terhadap sumbu masing-masing, garis khatulistiwa menjadi lingkar terpanjang yang terdapat di setiap planet dan bintang.
Meskipun tata surya sudah cukup banyak dieksplorasi, mulai dari pengamatan dari bumi, pengamatan menggunakan teleskop ruang angkasa Hubble, wahana-wahana ruang angkasa yang diluncurkan untuk kemudian mengorbit dan mendarat di permukaan anggota-anggota tata surya di luar bumi, ternyata masih banyak misteri yang ada di tata surya kita ini.
Untuk itu, para astronom mengumpulkan sepuluh aspek tata surya yang menurut mereka masih misterius dan menantang mereka untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut.
1. Temperatur kutub-kutub matahari yang tidak sama
Para ahli fisika matahari melihat bahwa temperatur kutub selatan matahari lebih rendah dibandingkan dengan temperatur kutub utaranya. Wahana Ulysses yang diluncurkan pada tahun 1990 oleh Pesawat Ulang Alik Discovery adalah wahana yang pertama kali bisa mengamati kutub-kutub matahari. Lintasan wahana ini bisa mencapai daerah di atas tata surya karena dengan menggunakan gravitasi Yupiter Ulysses dikatapel ke atas bidang ekliptika sehingga mencapai lintasan yang memungkinkannya untuk bisa mengamati kutub-kutub matahari. Setelah beroperasi selama 17 tahun dan memberikan banyak informasi tentang kutub-kutub matahari, pada tanggal 1 Juli 2008 wahana ini menghentikan kegiatannya. Dari data yang diperoleh melalui pengamatan oleh wahana ini didapat bahwa temperatur kutub selatan matahari 80.000 Kelvin lebih rendah dari temperatur kutub utaranya, dan tampak bahwa hal ini tidak terkait dengan peristiwa pembalikan kutub matahari yang terjadi setiap 22 tahun. Pengukuran temperatur ini dilakukan dengan mengambil sampel ion angin surya pada jarak 300 juta kilometer yang terletak di atas dan bawah kutub utara dan selatan matahari. Kemudian dengan mengukur perbandingan ion-ion oksigen (O6/O7), maka karakteristik plasma yang terdapat di bagian bawah korona bisa dihitung, dan dari sinilah didapat temperatur kutub-kutub matahari.
Informasi ini membingungkan para ahli fisika matahari dan mereka menduga bahwa perbedaan temperatur ini berasal dari perbedaan struktur matahari di kedua kutub ini.
2. Misteri Mars
Bila diamati dengan teliti, tampak bahwa belahan utara dan selatan Mars tampak sangat berbeda. Ini jadi seperti dua belahan planet yang berbeda yang disetangkupkan. Belahan utara Mars kebanyakan terdiri atas daerah-daerah dataran rendah, sedangkan belahan selatan Mars merupakan daerah yang dipenuhi dengan gunung-gunung tinggi. Teori awal yang mengatakan bahwa planet ini telah ditumbuk oleh objek langit yang sangat besar sehingga mengakibatkan munculnya kawah yang sangat besar sehingga muncul daerah dataran rendah yang sangat besar sudah ditolak karena daerah dataran rendah ini tidak menunjukkan ciri-ciri sebuah kawah bekas tumbukan, misalnya tidak ada bibir kawah, dan daerah yang dianggap menjadi tempat tumbukan ini tidak berbentuk lingkaran. Akan tetapi, ada juga yang masih berpendapat bahwa dataran rendah di Mars ini dibentuk oleh peristiwa tumbukan akibat jatuhnya batuan berukuran antara 1600-2700 km.
3. Peristiwa Tunguska
Pada tahun 1908 di atas Sungai Podkamennaya di Tunguska, Rusia terjadi suatu ledakan yang berlangsung di udara dan kilacan cahaya dari ledakan ini bisa terlihat dari jarak ratusan kilometer jauhnya. Setelah daerah tersebut didatangi, tampak bahwa sekitar 80 juta pohon hangus terbakar, dan sekitar 2000 kilometer persegi daerah menjadi rata dengan tanah. Meskipun demikian, para peneliti tidak menemukan adanya kawah di situ dan ini membingungkan mereka, ledakan macam apa yang terjadi di daerah Tunguska ini? Apa yang jatuh dari langit pada saat itu? Ada ahli yang berpendapat bahwa ledakan ini berasal dari masuknya komet atau meteor ke atmosfer bumi yang kemudian meledak di udara. Akan tetapi, sejauh ini mereka belum berhasil menemukan adanya sisa-sisa meteorit di permukaan tanah di bawah pusat ledakan.
Bumi merupakan suatu magnet yang sangat besar. Konfigurasi dua kutub magnet bumi terdapat disekitar permukaan bumi, dimana kutub magnet bumi tidak sama dengan kutub geografi bumi, tetapi berdekatan. Medan magnet bumi tidak sepenuhnya bulat seperti medan magnet pada umumnya. Hal ini dikarenakan medan magnet bumi terdorong oleh angin matahari yang berhembus dari matahari dan tak pernah berhenti. Angin matahari mendorong medan magnet menuju bumi di sisi siang hari yang berhadapan dengan matahari. Dan disisi malam hari, angin matahari mendorong dan memperlebar daerah medan magnet menjadi ekor magnet (magnetotail) yang panjang.
4. Kemiringan sumbu Uranus
Uranus adalah sebuah planet yang sangat aneh. Manakala planet-planet lain di tata surya memiliki sumbu rotasi yang mengarah ke atas bila dilihat dari bidang ekliptika, maka sumbu rotasi Uranus tampak nyaris terletak di bidang ekliptika (kemiringan sumbunga 98o). Hal ini membuat kutub utara dan selatan secara bergantian mengarah ke matahari (setiap 42 tahun). Fakta ini membingungkan para astronom dan ada yang berpendapat bahwa kemiringan sebesar ini disebabkan oleh adanya tumbukan oleh benda langit yang sangat besar sehingga Uranus menjadi memiliki orbit yang seperti sekarang ini. Akan tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa pada saat tata surya masih muda konfigurasi orbit Yupiter dan Saturnus secara bersama-sama memberikan pengaruh pada orbit Uranus sehingga berhasil mendorong sumbu orbit Uranus yang ukurannya lebih kecil dari kedua planet tersebut dan akibatnya Uranus berada dalam keadaannya yang sekarang.
5. Atmosfer Titan
Titan, salah satu satelit Saturnus adalah satu-satunya satelit planet yang memiliki atmosfer. Ukurannya di tata surya hanya dikalahkan Ganymede (salah stu satelit Yupiter), dan massanya 80% lebih besar daripada massa bulan, satelit bumi. Walaupun Mars dan Venus sering disebut sebagai kembaran bumi, atmosfer kedua planet ini sangat berbeda dengan bumi. Atmosfer Mars 100 kali lebih tipis dariapda atmosfer bumi, sedangkan atmosfer Venus 100 kali lebih tebal. Di pihak lain, atmosfer Titan hanya satu setengah kali lebih mampat daripada atmosfer bumi, dan tersusun hampir seluruhnya dari nitrogen (95%). Bagaimana Titan bisa memiliki keadaannya yang seperti ini masih menjadi bahan perdebatan, tetapi setelah para ahli menemukan banyaknya senyawa hidrokarbon di permukaannya mereka lalu berpikir bahwa Titan ini suatu bisa menjadi tempat berevolusinya kehidupan. Meskipun demikian, mereka masih bingung mengenai dari mana datangnya atmosfer Titan ini dan apakah memang betul suatu saat akan ada kehidupan di Titan ini.
6. Pemanasan korona matahari
Sudah sejak lama para astronom dibingungkan dengan fakta bahwa korona matahari lebih panas dibandingkan dengan permukaannya. Temperatur fotosfer matahari sekitar 6000 kelvin sedangkan temperatur korona matahari mencapai jutaan derajat. Tampak bahwa ini melanggar hukum-hukum fisika. Para astronom yang sudah cukup lama bekerja keras dalam pengamatan matahari dan pembuatan simulasi model atmosfer matahari kemudian mulai mendapatkan gambaran mengenai proses pemanasan korona matahari ini. Mereka kemudian sampai pada simpulan bahwa pemanasan korona matahari berasal dari proses yang melibatkan medan magnet matahari dan di sini ada dua mekanisme yang menyebabkannya, yaitu nanoflare dan pemanasan gelombang (wave heating) yang bekerja secara bersama-sama. Meskipun demikian, sebelum ada pengamatan secara in situ pada daerah korona matahari, hal ini masih menjadi bahan perdebatan. Untuk itu para ahli fisika matahari berencana untuk meluncurkan wahana yang bisa bergerak ke dalam korona matahari, dan wahana ini dinamakan Solar Probe.
7. Debu komet
Bagaimana debu yang terbentuk dalam temperatur tinggi bisa terdapat di komet yang beku? Komet ini dibentuk di daerah tata surya yang jauh dari matahari, yaitu di daerah Sabuk Kuiper (sekitar orbit Pluto), atau di daerah yang disebut sebagai Awan Oort. Daerah ini kadang-kadang mendapatkan gaya tarik gravitasi dari matahari dan sebagian materinay kemudian bergerak ke arah bidang ekliptika. Ketika bergerak ke matahari, bahan-bahan ini mendapatkan radiasi dari matahari sehingga sebagian dari permukaannya akan menguap dan membentuk ekor yang dinamakan coma. Dari komet-komet ini ada yang jatuh langsung ke matahari, tetapi ada juga yang karena ikut tertarik oleh gravitasi Yupiter menjadi komet periodik seperti komet Halley yang terkenal itu.
Akan tetapi, dalam sebuah ekspedisi yang diluncurkan ke komet Wild-2 oleh misi Stardust milik NASA pada tahun 2004, didapat bahwa karakteristik bulir-bulir debu yang terdapat di permukaan komet ini menunjukkan bahwa mereka terbentuk dalam lingkungan yang memiliki temperatur sangat tinggi. Komet Wild-2 diyakini berasal dari daerah Sabuk Kuiper, tetapi bagaimana bisa butiran-butiran ini bisa terbentuk di daerah yang temperatur lingkungannya lebih dari 1000 K? Tata surya berevolusi dari sebuah nebula sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu dan membentuk sebuah piringan akresi ketika nebula ini sudah dingin. Tampaknya sampel-sampel ini terbentuk di daerah pusat piringan di dekat matahari yang masih muda dan kemudian terlempar ke bagian luar piringan akresi ini, dan akhirnya sampailah di daerah Sabuk Kuiper. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah mekanisme apa yang membuat itu terjadi.
8. Jurang Kuiper
Sabuk Kuiper adalah daerah di tata surya yang berbentuk cincin yang letaknya berada di luar orbit Neptunus. Sabuk Kuiper ini mirip dengan sabuk asteroid yang terletak di antara Mars dan Yupiter dan mengandung jutaan objek batuan dan yang bersifat logam dan massanya 200 kali lebih besar dibandingkan dengan daerah sabuk asteroid. Di daerah ini banyak terdapat air, amonia, dan metana yang semuanya ada dalam keadaan beku. Daerah Sabuk Kuiper ini adalah daerah tata surya yang paling sedikit dieksplorasi dan oleh sebab itu NASA meluncurkan sebuah wahana ruang angkasa melalui misi New Horizon yang diharapkan sampai di sana pada tahun 2015. Walaupun informasi tentang daerah Sabuk Kuiper belum terlalu banyak, para astronom sudah berhasil mendapatkan sedikit gambaran tentang karakteristik daerah Sabuk Kuiper ini yang cukup membingungkan. Mereka mendapatkan bahwa pada jarak sekitar 50 satuan astronomi dari matahari (50 kali jarak bumi matahari) jumlah anggota Sabuk Kuiper ini turun secara mendadak. Hal ini tidak sesuai dengan perhitungan mereka karena secara teoretis jumlah anggota Sabuk Kuiper akan meningkat pada jarah yang lebih besar dari 50 satuan astronomi.
Mereka mengusulkan bahwa sedikitnya jumlah anggota Sabuk Kuiper pada jarak lebih besar dari 50 satuan astronomi adalah karena mereka belum mengalami proses akumulasi untuk menjadi sebuah objek yang cukup besar. Ada lagi yang mengusulkan bahwa objek-objek yang terdapat pada jarak itu sudah diakresi oleh objek seukuran Mars atau bumi yang terletak tidak terlalu jauh.
9. Anomali Pioneer
Wahana ruang angkasa Pioneer 10 dan 11 diluncurkan pada tahun 1072 dan 1973 untuk melakukan eksplorasi pada tata surya bagian luar. Perjalanan wahana-wahana ini dipantau terus oleh apra astronom NASA dan mereka mendapatkan bahwa kedua ini bergerak melenceng ke arah yang tidak dirancang sebelumnya karena mendapatkan percepatan ke arah matahari. Walaupun secara astronomi penyimpangan ini tidak terlalu besar (simpangan sebesar 386,000 km setelah bergerak 10 miliar km), tetap saja ini adalah penyimpangan dan para astronom masih belum bisa menjealskan hal ini.
Salah satu teori mengatakan bahwa radiasi infra merah yang tak seragam di sekeliling wahana akibat pancaran radio isotop plutonium yang menjadi sumber energi yang dibawa wahana ini mengakibatkan adanya tekanan radiasi yang membuatnya mengalami dorongan kecil ke arah matahari. Meskipun demikian, radiasi ini masih terlalu kecil untuk menghasilkan penyimpangan sebagaimana yang ditemukan para astronom. Ada yang berpikir bahwa di sini materi gelap mulai memainkan peranannya dalam memperlambat gerakan Pioneer tersebut.
10. Awan Oort
Apakah Awan Oort itu? Awan Oort adalah daerah berbentuk bola yang menyelubungi tata surya dan terletak sejauh 50.000 satuan astronomi dari bidang tata surya. Jarak ini membuatnya terlalu jauh untuk bisa diamati secara langsung karena harga jarak ini sama dengan seperempat jarak ke bintang terdekat dengan matahari (Proxima Centauri).
Daerah Awan Oort merupakan daerah tepian tata surya dan oleh sebab itu gravitasi matahari sudah sangat lemah sehingga adanya gangguan oleh bintang yang lewat bisa mengakibatkan objek-objek yang terdapat di tempat itu terlempar ke daerah tata surya sebelah dalam, dan menghasilkan komet-komet perioda panjang. Hal inilah yang membuat para astronom percaya bahwa Awan Oort itu memang ada. Meskipun demikian, eksistensinya tidak mungkin dibuktikan sekarang, dan mungkin suatu saat nanti dengan adanya pesawat-pesawat angkasa yang bisa melakukan perjalanan jauh, eksistensi Awan Oort ini bisa dibuktikan.
Pemikikiran Kritis Saya Tentang Sepuluh Misteri Tata Surya
Saya sengaja mengambil topik ini, karena banyak orang yang mempunyai pengetahuanya tidak digunakan dengan baik hanya sebagian yang bersifat positif. Seperti topik yang saya angkat ini ,para astronom yang pintar dalam bidang astronomi ingin dan selalu ingin pendapatnya itu diabadikan , padahal itu tidak lama, Karena diatas yang pintar masih banyak lagi orang pintar. Sehingga pendapat para ilmuan itu tidak dapat abadi sehingga sehingga pendapat para astronom itu tidak bisa di pastikan kebenaranya. Jadi sangat sulit untuk memastikan kebenaran pendapat tersebut. Jadi seharusnya para ilmuan itu jangan hanya bersifat ego yang hanya merasa pendapat nya itu lebih baik. Agar tidak ada kebingunggan para awam untuk membaca karyanya.
Kita tahu ternyata pendapat ilmuan itu hanya sementara saja sedangkan firman Tuhan itu kekal dan abadi. Jadi masukan dari saya seharusnya jika kita mempunyai talenta atau keahlian, kita harus menggunakannya dengan baik.
Tuhan sudah memberikan kita segalanya dan kita sudah menikmatinya. Jadi, hemaat saya seharusnya kita harus menjaga nya dengan baik bukan untuk di lenyapkan.Seperti planet kita ini( bumi) banyak sekali yang terjadi di bumi kita ini akibat gempah bumi. Itu semua karena perlakuan orang-orang yang tidak wajar hanya sewenang–wenangnya saja.
Banyak para atronom meneliti dan mengetahui status planet duniai ini tetapi mereka belum juga menemukan bagaimana caranya melindungi palnet-planet tersebut. Contohnya Bumi kita ini merupakan tempat tinggal makhluk hidup.
Jika Bumi ini hancur apakah masih ada tempat tinggal manusia di planet lain? Ini seharusnya diteliti dan bagaimana caranya agar manusia hidup di planet yang lain? Memang pernah para ilmuan Amerika menelitinya tetapi tidak berhasil mengetahui seluruhnya.
Seharusnya kita mengabadikan segala karya astronom itu bukan untuk meninggalkan begitu saja. Kita tahu di Indonesia ini banyak para ilmuan tetapi belum ada para astronom yang bisa mengetahui keaadan Indonesia ini, sehingga kita harus menyewa para ilmuan luar negeri seperti para ilmuan Rusia. Jadi masukan dari saya, seharusnya anak-anak bangsa Indonsia bukan hanya terjun kedalam dunia politik saja tetapi juga kedalam dunia teknologi. Dan jangan bermalas-malas mengharapkan dunia perkantoran.
Komentar