KITAB OBAJA DAN KITAB MALEAKHI
KITAB OBAJA DAN KITAB MALEAKHI
Nama Erwin H. Manurung (08.2328)
Pendahuluan
Nabi Obaja berbeda dengan nabi yang lain. Dia tidak memprotes dosa Israel dan tidak memberitakan murka Allah karena Yerusalem pada waktu itu sudah jatuh. Dia bernubuat melawan dan memprotes bangsa-bangsa lain terutama Edom. Menurut tradisi, bangsa Edom adalah keturunan Esau saudara laki-laki dari Yakub (Israel) (bnd. Kej 25:30; 36:1, 9). Bukti-bukti non-Alkitabiah mengenai Edom dikemukakan oleh Nelson Glueck. Selama pemerintahan Bronze Age (zaman perunggu, + 3000-2100 s.M), daerah yang dikenal sebagai Transyordania telah diduduki orang asing dan pada zaman leluhur Israel (2000-1900), Edom telah diduduki. Antara 2300-1800 s.M telah berkembang budaya agrikulturil di daerah tersebut dan juga dibangun kota-kota tembok, dan dilanjutkan kembali tahun 1300 sM.
Berbagai pandangan dijadikan bahan studi untuk menghubungkan nama pengarang ini dengan hamba (kepala istana) raja Ahab (1 Raj 18:1-16), dengan seorang guru dalam pemerintahan Yosafat (II Taw 17:7), serta seorang pengawas yang bekerja bagi raja Yosia (II Taw 34:12). Dan ini menjadi masalah untuk menentukan tanggal penulisannya. Sejak kematian Salomo sampai abad ke-9, pengawasan atas Edom makin bertambah lemah. Lima puluh tahun kemudian pelabuhan Ezion-Geber yang didirikan oleh Salomo di Edom tak dapat digunakan lagi meskipun Yosafat berusaha membukanya kembali (I Raj. 22:47). Dalam masa pemerintahan Yoram tahun 849-842 s.M, Edom merebut kesempatan untuk merdeka. Setelah mengalami masa jaya selama 50 tahun kemerdekaan, Edom kembali dikuasai Yehuda selama pemerintahan Amazia (801-783) (II Taw 25:14-15). Waktu Yehuda dipimpin Ahaz (735-715) Edom kembali memperoleh kemerdekaan. Pelabuhan Ezion-Geber kembali ke tangan suku Edom (II Raj. 16:6). Yehuda tidak pernah lagi menguasai Edom. Kedua kerajaan memusatkan perhatian kepada intervensi Assyria.
Selama kerajaan Israel masih eksis, daerah Edom dijajah oleh Israel. Sehingga pada waktu Yerusalem jatuh Edom bersukacita. Sikap Edom yang demikian digambarkan dalam kitap Ratapan, “Bergembira dan bersukacitalah, hai puteri Edom,...juga kepadamu piala akan sampai,...” (Rat. 4:21). Dalam Mazmur disebut, “Ingatlah ya Tuhan kepada bani Edom...(Mzm. 137:7). Sikap Edom tersebut sangat menyakiti hati orang Yerusalem yang tinggal di Yehuda selama pembuangan, terlebih lagi karena Edom datang menjarah daerah-daerah di Yehuda.
Masalah Penulisan
Tanggal penulisan yang dianjurkan adalah dari abad 9 s.M sampai pertengahan abad 4 s.M. Banyak ahli yang menganggap bahwa nabi ini tampil pada masa setelah kehancuran Yerusalem pada tahun 587 s.M (Deden, Edelkoort, Eissfeldt). Pada masa itu, nabi memberikan suatu upacara yang layak untuk mengancam melawan Edom (16-18), dan ancaman-ancaman yang lain seperti Amos 1:11-12. Pada saat itu Edom akan diserang oleh musuh karena telah bergembira melihat kemalangan Yehuda. Detail Obaja secara seksama melebihi deskripsi lainnya yang menunjukkan bahwa dia adalah saksi mata pada peristiwa tersebut dan segera menyampaikan perintah suci tersebut kemudian.
Ucapan dalam ayat 19-21 harus dipertimbangkan dengan suatu tambahan yang memberitahukan pendudukan Palestina wilayah barat dari Yordan dengan pengecualian Yehuda oleh orang-orang Israel dan Yahudi diaspora bersama-sama dengan pasukan militer melawan Edom. Bagian ini diperoleh dari masa pembuangan.
Pembagian kitab berdasarkan zaman menurut Sellin:
ayat 1-10 : masa setelah peninggalan Edom atas Yehuda (2 raj 8: 20-21) sekitar 850 s.M.
11-14 : masa setelah tahun 586 s.M
15b, 16-21: abad ke 5 s.M.
Fakta pertama untuk ayat 1-10 digunakan oleh Obaja dalam ayat-ayat Yeremia 49. Yang lain dianjurkan pada abad 8 (Kutal, bic). Welhausen menginterpretasi ayat 2-9 sebagai suatu penggambaran atas pasukan Arab yang menginvasi Edom, merupakan gagasan dari abad 5 s.M. Robinson menyebutkan penanggalannya melalui masa dari akhir abad 6 s.M sampai permulaan abad 4 s.M. Menurut C. F. Keil, posisi kitab Obaja sebagai jilid keempat dari kumpulan ke-12 nabi kecil memberikan indikasi bahwa kitab ini ditulis sekitar abad ke-8 s.M.
Suatu penelitian terhadap ayat 10-14 dan 16 menunjukkan bahwa buku ini ditulis di sekitar peristiwa yang terjadi dalam sejarah Edom maupun Yehuda (lih. juga ayat 5-8 dan 19-20). Edom gagal memberikan pertolongan pada saudaranya. Masalahnya adalah bilamana peristiwa itu terjadi? Suatu usul berdasarkan II Taw 20, mengidentifikasikan peristiwa itu dengan suatu peperangan yang melibatkan Moab, Amon dan Edom, dimana Yehuda terluput dari peristiwa itu. Peristiwa itu terjadi selama pemerintahan Yosafat (875-852 s.M), sehingga peristiwa itu dilihat sebagai latar belakang buku ini. Dalam II raj 8:20-22 (bnd II Taw 21:8-10) Edom berhasil memberontak pada Yehuda. Hasil pemberontakan ini adalah Edom menjadi satu negeri yang berdiri sendiri sampai dengan masa penulisan kitab Raja-raja.
Beberapa ahli perjanjian lama memandang bagian pertama dari buku ini adalah ayat 1-10 sebagai bagian yang kuno, yang lain adalah bagian yang muda yang berasal dari jaman sesudah pembuangan di Babel. Menurut pandangan ahli yang lain, kitab ini merupakan suatu kesatuan yang berasal dari jaman pembuangan. Nabi ini bernubuat sesudah tahun 587 s.M. yaitu pada waktu Yerusalem telah jatuh dan dihancurkan. Namun, waktu yang jelas tentang penulisan kitab ini tidak dapat ditentukan dengan pasti, tetapi para ahli telah menentukan jarak waktu antara tahun 889 s.M hingga tahun 312 s.M (Lasor).
Struktur Kitab Obaja
Kitab Obaja adalah suatu kumpulan ucapan-ucapan yang dikemukakan atas nama YHWH sebagai suatu penghukuman atas Edom atau suatu bangsa yang menunjukkan dirinya sebagai musuh YHWH. Nubuat itu diucapkan mungkin dalam suatu liturgi selama upacara pesta tahun baru yang bentuknya sekarang dalam perjanjian lama merupakan suatu kesatuan. Hal ini tidak berarti bahwa seluruh ayat kitab Obaja disusun pada masa yang sama.
Beberapa penafsir memelihara kesatuan dari seluruh kitab, menolak membaginya ke dalam beberapa ucapan (Aalders, Edelkoort, Bic). Bic memahaminya sebagai suatu ramalan liturgis untuk pestival penobatan yang diperolehnya dari drama kultus. Bagaimanapun, lebih banyak penafsir membagi jadi dua ucapan.
Rudolph membagi; 1-14, 15b dan 15a, 16-18, dan 19-21 sebagai suatu kesimpulan. Weiser menggabungkan 19-21 dengan ucapan yang terdahulu. Eissfeldt, menemukan satu ucapan dalam 1-14, 15b + 15a, 16-18 dan 19-21 tambahan yang disusun orang kedua penulis yang berbeda. Sellin Rost membaginya atas ayat 1-10 adalah ramalan asli, 11-14 adalah tambahan kemudian, 15a, 16-18 dan19-21 adalah dua tambahan. Robinson menganalisis kesatuan kitab tersebut dalam 8 ucapan.
Pertimbangan dari materi subjek dan corak khas atau formula nasehat, ucapan Obaja dibagi dalam 6 bagian dengan tambahan atau jenis yang berbeda:
1. 1b-4: ancaman melawan Edom, dengan formula ne’um YHWH
2. 5-7 : ancaman melawan Edom, dalam ayat 7 (diubah dalam urutan 7a +a, 7a +b)
3. 8-11: ancaman dengan melawan Edom, dengan formula ne”um YHWH tertarik ke dalam pernyataan pengantar dan satu setengah ayat dalam bentuk kesimpulan.
4. 12-14, 15b: ancaman melawan Edom, memotipasi dengan suatu peringatan tambahan.
5. 15a, 16-18: ancaman melawan Edom pada masa hari Tuhan, ketika semua bangsa akan dimusnahkan. Ayat 15a dengan tanda yang jelas pada suatu permulaan dan kita mempunyai ki YHWH dibber sebagai suatu kesimpulan.
6. 19-21: janji kepada Israel
Kesejajaran Kitab Obaja
Banyak ayat dalam surat ini mirip dengan ayat dari surat nabi lain. Misalnya, ayat 3 dan 4 mirip dengan Amos 9:2b dan Yes 14:13 dst; ayat 7b mirip dengan Yer 38:22 dan Mzr 41:10. ayat ib-10 ada banyak persamaan dengan Yer 49:7-22. Jika Yer 49:7-22 dari Yeremia sendiri, maka Obaja mengutipnya. Tapi jika Yeremia 49:7-22 tidak autentik, ada kemungkinan juga Yeremia mengutip dari Obaja. Perkara ini sukar ditentukan.
Ayat-ayat yang sejajar dengan Obaja:
Obaja Yeremia 49 Obaja Yoel
Ay 1 ay 14 ay 10 3; 19
Ay 2 ay 15 ay 11 3: 3
Ay 3a ay 16a ay 15 3: 4, 7
Ay 4 ay 16b ay 15 1: 15; 2: 1; 3: 14
Ay 6 ay 9 ay 17 2: 32
Ay 6 ay 10a ay 17 3: 17
Ay 8 ay 7 ay 18 3: 8-9
Ay 9a ay 22b
Ay 16 ay 12
Obaja 1-9 lebih sejajar dengan Yer 49: 7-22 daripada dengan Yoel. Yer 49: 14-16 sangat mirip dengan Obaja 1-4. yer 49: 7-11 hampir sama degan Obaja 5-9 walaupun tampaknya bukan kutipan langsung. Kesejajaran dengan Yoel hanya berupa ungkapan-ungkapan yang mirip, bukan berupa kutipan. Kesejajaran ini menimbulkan pertanyaan apakah bahan-bahan seperti itu dipakai dalam ibadat umum sehingga menjadi bagian dari kosa kata tiap penulis.
Pendapat para ahli tentang kesejajaran kitab Obaja.
1. Muilenburg (1962), mengatakan perikop dalam kitab Yeremia ditulis sesudah kitab Obaja.
2. Eissfeldt (1965), sependapat bahwa bagian-bagian itu ditambahkan ke dalam kitab Yeremia kemudian.
3. Soggin (1976), mengatakan kedua perikop itu (Obaja dan Yeremia), mengutip perikop yang tertulis terdahulu.
4. Mengenai kesejajaran dengan Yoel, para ahli tidak sependapat, mengenai nabi yang mana yang mempengaruhi nabi yang lainnya.
Pemberitaan
Abad 8
Ayat yang diduga berasal dari abad ini adalah ayat 1-10. Pada masa ini, Edom dianggap sebagai musuh besar Yehuda dan beberapa kali Edom berhasil meraih kemerdekaan dari Yehuda. Hal ini terjadi karena faktor sejarah dan tradisi di mana Edom adalah berasal dari keturunan Esau yang merupakan saudara laki-laki Yakub. Permusuhan antara keduanya berakar dari tradisi tersebut. Pada masa ini, Edom berhasil meraih kemerdekaan dari Yehuda karena pada waktu itu Yehuda mengalami keterpurukan di bawah pemerintahan raja Yoram, walaupun pengawasan terhadap Edom sudah melemah setelah kematian Salomo. Pada saat itu, Edom merasa tinggi hati karena berhasil merdeka dari Yehuda. Edom berhasil memberontak dan menjadi negeri yang berdiri sendiri.
Kesombongan inilah yang dikritik dan ditentang oleh nabi Obaja. Pada bagian ini Edom dikatakan akan mendapat hukuman dari Tuhan karena kesombongan dan tinggi hatinya. Hukuman itu datang juga disebabkan karena Edom dianggap telah menyakiti saudaranya, yaitu Yakub. Hal ini tentunya berkenaan dengan pemberontakan yang dilakukan oleh Edom.
Abad 6/5 dan 4
Ayat yang diduga berasal dari abad ini adalah ayat 11-21. Pada masa ini, Yehuda mengalami pembuangan. Yerusalem dan Bait Suci hancur dan seluruh rakyat Yehuda dibuang ke Babel. Pada saat inilah Edom bersukacita. Musuh bebuyutannya telah hancur. Mereka dapat merdeka. Bangsa Edom melihat kecelakan bangsa Yehuda dengan rasa gembira. Obaja menubuatkan bahwa Edom juga akan mengalami seperti yang dihadapi oleh Yehuda (15b). Ayat 15a dan 16-21 tidak lagi khusus memperhatikan Edom. Ayat ini menubuatkan datangnya hari TUHAN. Pada hari itu bangsa-bangsa kafir akan lenyap, tetapi gunung Sion akan menjadi tempat perlindungan dan bangsa Isarel akan menduduki daerahnya kembali, bahkan daerah itu akan diluaskan. TUHAN sendiri akan menjadi Rajanya.
Ada beberapa hal yang sering dinyatakan oleh nabi mengenai hari TUHAN ini:
1. Allah menuntut kebenaran, Allah tidak akan selalu membiarkan tingkah laku yang berlawanan dengan kehendakNya, Ia menghendaki agar hidup lebih benar dan menghukum jika tidak taat (ay. 10-12, 17-21), juga (Amos 1-2).
2. Allah adalah penguasa langit dan bumi, Allah dari segala bangsa. Jika Allah hanya Allah Israel, bagaimana Allah dapat menghukum Edom, atau bertanggungjawab atas kekerasan yang dilakukannya terhadap saudaranya Yakub? Nubuat ini mula-mula didasari dari Amos dan terdapat hampir di seluruh kitab nabi-nabi.
3. Jika Allah adalah kudus dan menuntut kekudusan dari umatNya, tetapi Ia membiarkan bangsa-bangsa melakukan segala kejahatan, bagaimana Ia menjadi penguasa bangsa-bangsa. Obaja menjawab dengan menyebtukan dahulu kejahatan Edom, kemudian mengumumkan hari Tuhan yang akan datang (ay. 15), setelah penghakiman akan tiba pemulihan dan pembaharuan (ay. 21).
4. TUHAN tidak akan membiarkan kejahatan orang yang menganiaya umat-Nya dan TUHAN akan merubah nasib umat-Nya yang celaka itu. TUHAN Allah akan melepaskan jemaatNya dari segala bahaya dan malapetaka dan pada akhirnya umat Allah akan sejahtera dan TUHAN sendiri akan menjadi Rajanya.
KITAB MALEAKHI
Latar belakang
Waktu nubuatan Maleakhi adalah sekitar tahun 450 s.M. Bait Suci telah didirikan kembali dan sistem peribadahan sudah berlangsung seperti sedia kala (1:10). Nubuat yang menentang perkawinan campur dalam kitab ini (2;10-16) sejajar dengan pandangan Nehemia (Neh 13:23-27), sehingga para ahli memperkirakan kemungkinan besar Maleakhi sejaman dengan Nehemia atau sebelum masa Nehemia dan Ezra. Kondisi bangsa Israel pada masa itu setelah kembali dari pembuangan diharapkan membawa satu zaman Mesianis, akan tetapi hal itu tidak terlaksana sehingga hati mereka menjadi tawar. Muncul keragu-raguan (1:2; 2:17; 3:14-15), perzinahan, sumpah palsu, penindasan dan ketidakadilan merajalela (3:5). Nubuatan Maleakhi menggambarkan penyataan Allah tentang sesuatu yang baru dan yang diperlukan oleh umat Israel, yaitu hati yang baru, jiwa baru, hukum yang tertulis dalam hati, gembala yang dengan sempurna mencerminkan sikap Allah. Semuanya itu akan diperoleh jika umat Allah mau berjalan lagi menurut kehendakAllah.
Masalah penulisan
Hampir secara keseluruhan penulisan kitab ini pada pertengahan abad ke lima —kurang lebih kira-kira 465 — setelah Hagai dan Zakharia karena dia mengisyaratkan bait dan cara pemujaan (1:10; 3:1,10). Bolmeriq mengatakan bahwa kitab ini ditulis pada dekade 485-445 s.M dan menyampaikan Maleakhi sebagai asisten dari Ezra. Ungkapan pada 3:6 berisikan kata-kata berikut yang dibicarakan oleh seorang tokoh, mereka menyebutnya reformasi Ezra. Mungkin, bagaimanapun Ezra seharusnya ditulis dalam periode yang berbeda.
Holtzmann menyampaikan bahwa ‘yang takut akan Yahweh’ (3:16) adalah identik dengan ‘synagoge’ seperti yang disebutkan Hasideanz dalam 1 Maccabe 2:42 dan bahwa buku ini dikombinasikan pada pertengahan abad ke tiga. Dalam pasal 1:8 dipakai perkataan bahasa Persia mengenai Bupati, jadi kitab ini dikarang sesudah Persia menguasai tanah suci (539 s.M). Akan tetapi menurut pasal 1:7; 2:1; 3:1, 10, sudah ada imam-imam di Bait Allah, sehingga sesudah tahun 516 s.M, lebih kemudian daripada zaman nabi-nabi Haggai dan Zakharia. Dalam kitab Maleakhi ini disebutkan bahwa pada keadaan masa itu tidak baik di tengah-tengah bangsa Yehuda, hal ini dapat diterangkan seperti adanya perceraian dan perkawinan campuran bangsa asing. Namun hal yang kontras di sini telah terjadi yaitu keadaan yang disebutkan di atas tersebut diterangkan bahwa Ezra dan Nehemialah yang membersihkannya pada abad ke lima dan seharusnya kitab Maleakhi ditempatkan pada permulaan abad 5 s.M. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kitab Maleakhi ditulis kira-kira abad 5 s.M atau sekitar tahun 450 ..
Isi kitab Maleakhi
1:2-5 : mem,bicarakan perbuatan cinta kasih Yahweh untuk Israel (Yakub); atas pemeliharaannya, dan Edom akan binasa.
1:6-2:9 : ancaman dan kutukan terhadap imam yang mempersembahkan persembahan yang tidak layak.
2:10-16 : menentang perkawinan campur dan perceraian.
2:17-3:5 : Tuhan akan membalas keraguan terhadap kemuliaan Tuhan dan semua orang sama pada hari penghakiman.
3:6-12 : pembayaran persepuluhan untuk menghindari malapetaka.
3:13-21 (Ing 3:13-4:3) : penghakiman bagi yang takut akan Tuhan akan menerima penyembuhan Tuhan.
Kitab Maleakhi dapat kita ketahui dengan memperhatikan ciri khasnya yang dapat kita analisa seperti berikut:
1. Judul (1:1)
2. Kasih Tuhan dilukiskan oleh nasib Edom (1:2-5)
3. Kecaman terhadap para imam (1:6-2:9)
4. Penyembuhan berhala dan kawin campur (2:10-16)
5. Allah yang adil (2:17-3:5)
6. Persepuluhan yang tidak diberikan (3:6-12)
7. Orang benar dan orang fasik (3:13-18)
8. Elia dan hari Tuhan (4)
Garis besar ini disusun dalam pola tanya jawab, “Aku mengasihi kamu” kata Tuhan (1:2a). “Dengan cara apakah Engkau mengasihi kami?” tanya bangsa itu (ay. 2b). Jawaban diberikan dan kebenaran Allah ditegakkan. Akhirnya bangsa itu akan mengatakan: “Tuhan maha besar sampai di luar daerah Israel” (ay. 5). Pola tanya jawab ini diteruskan dengan pokok yang kedua (1:6-7), ketiga (2:14-15,17), keempat (2:17), kelima (3:7-8), keenam (3:13). Gaya perdebatan ini adalah suatu ciri khas kitab Maleakhi dan menunjukkan sikap perlawanan bangsa itu. Entah itu ditujukan terhadap nabi atau terhadap Tuhan, tidak dinyatakan namun penggunaan metode ini menunjukkan bahwa bangsa itu suka berbantah, mempertanyakan kepercayaan dan praktik-praktik yang berlaku sebelumnya. Mereka mempertanyakan kasih Tuhan yang telah Ia tunjukkan dengan memilih bangsa Israel. Baik para imam maupun seluruh bangsa itu memandang rendah ibadat kepada Tuhan.
Pemberitaan
Tema teologis dari pemberitaan atau nubuatan dalam kitab Maleakhi dapat dibagi menjadi beberapa poin:
1. Tuhan semesta alam.
Sebutan Allah yang paling umum dalam kitab Maleakhi adalah YHWH tseva’ot. Hal ini diberitakan nabi Maleakhi karena bangsa Israel pada saat itu bersungut-sungut dan meragukan tindakan Tuhan. Maleakhi mengatakan bahwa TUHANlah yang akan memimpin Israel dan menjai Raja Israel yang bertakhta di Sion untuk memerintah bangsa Israel.
2. Teodisi.
Tema ini muncul ketika bangsa Israel pulang ke tanahnya dan berharap keadaan berubah. Mereka mengharapkan keadaan yang menyenangkan, namun ternyata yang diraih adalah yang sebaliknya, keadaan tidak membaik. Oleh karena itu, mereka meragukan tindakan Tuhan dalam hidup mereka. Ini juga dinubuatkan karena pada saat itu bangsa Israel jauh dari jalan Tuhan. Perkawinan campur, perceraian, dan ibadat yang salah marak terjadi di tengah-tengah bangsa Israel setelah kembali dari pembuangan di Babel.
Teodisi adalah pembenaran tindakan Allah bahwa orang benar akan diberkati sedangkan orang fasik akan mendatangkan penderitaan. Perdebatan dalam kitab ini memperlihatkan bahwa tuduhan yang dilontarkan bangsa itu dinyatakan dengan bermacam-macam cara, antara lain: Tuhan tidak ada, Tuhan tidak mempertahankan kasih-Nya terhadap Israel, dan juga tidak memperhatikan kualitas kurban, dan sebenarnya Ia merasa senang dengan mereka yang berbuat jahat di hadapan-Nya.
Jawaban Tuhan terhadap berbagai serangan mengenai keadilan-nya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Allah adalah Allah segala sesuatu (Allah yang universal).
Tuhan semesta alam adalah Raja yang Besar dan nama-Nya, Ia “ditakuti di antara bangsa-bangsa” (1:14). Seandainya gagasan Allah yang univerasal hanya muncul sesudah masa pembuangan, maka gagasan ini terasa agak maju untuk zaman Maleakhi. Tetapi, sebagaimana terlihat dalam pasal-pasal terdahulu, ada banyak bukti bahwa gagasan tersebut sudah tua, kemudian menjadi kabur karena masuknya ide-ide agama lain, lalu ditegakkan kembali oleh para nabi, terutama oleh Yesaya.
2. Israel, putra dan hamba Allah.
Meskipun Allah adalah Allah seluruh dunia, namun Israel mendapat tempat yang istimewa sebagai akibat pemilihan oleh Allah. Pemilihan atas Yakub dan penolakan atas Esau melukiskan hal itu (1:2 dst.). Israel adalah putra dan hamba Tuhan, sehingga mereka harus hormat dan takut akan Dia (1:6).
3. Hari Tuhan.
Hari Tuhan, yang telah dikenal pada masa nabi Amos dan dibicarakan secara panjang lebar pada masa Yoel dan Zefanya, muncul lagi dalam kitab nabi yang terakhir ini. Gagasan tentang tentang hari itu terdapat dalam seluruh kitab Maleakhi. Ia akan memurnikan dan mentahirkan para imam-Nya, mengadili tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah, orang-orang yang bersumpah dusta, yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu—dengan kata lain, orang-orang “yang tidak taku kepada-Ku”. Namun hari itu tidak sepenuhnya berupa kegelapan dan api. Ia akan membedakan antara orang benar dan orang fasik, yaitu orang yang beribadat kepada Allah dan orang yang tidak beribadat kepada-Nya (ay. 18). Hari itu akan datang, menyala seperti perapian, “tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayap-Nya” (4:2). Pemusnahan orang-orang fasik dan keselamatan orang-orang yang melayani Tuhan, dinantikan sebagai babak terakhir sejarah dunia ini (4:1-2). Nama orang-orang yang menghormati nana Tuhan ditulis dalam sebuah kitab peringatan (3:16).
Maleakhi tetap menegakkan nubuatan Deutero-Yesaya tentang persiapan dari sebuah tujuan eskhatologis. Penghakiman (mispat) akan segera berlaku suatu hari. Ini akan terjadi kemudian. Pertama, jalan untuk itu akan disediakan dan disiapkan oleh seorang pelopor, seorang pengirim pesan misterius. Tuhan Yesus menyamakan utusan Tuhan yang disebut dalam Mal 3:1, 23 dengan Yohanes Pembaptis (Matius 11:10,15).
Seperti kitab nabi-nabi lainnya, pada kitab Maleakhi juga ditambahkan ajakan untuk menghayati hukum dan peraturan yang dinyatakan melalui Musa dan dijanjikan bahwa menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu, Allah akan mengutus nabi Elia ke tengah-tengah bangsa Israel. Pada saat itu, hati bapa-bapa akan berbalik kepada anak-anak dan hati anak-anak kepada bapa-bapa. Angkatan generasi penerus dianggap memerlukan nabi Elia untuk mempersiapkan jalan menjelang datangnya hari Tuhan. Nubuatan mengenai nabi Elia dan melaksanakan hukum Taurat dalam pasal 3:22-26 ini diduga berasal dari zaman kemudian.
4. Perjanjian.
Pokok pengajaran Maleakhi adalah konsep perjanjian. Terkandung dalam pembukaan tema, cinta Raja untuk Israel (1:2-5) dan suatu panggilan untuk memenuhi kewajiban dari perjanjian yang mengakhiri kitab ketika dinyatakan dalam hukum (4:4). Tuhan, yang memulai perjanjian, dan dalam kaitannya dengan siapa perjanjian diikat, adalah juru bicara kepala dan figur yang utama. Agar konsep Tuhan sebagai Bapa tidak disalahgunakan, Maleakhi menetapkan berhadapan dengan hak Tuhan sebagai Raja dan Guru (1:16, 14). Tuhan keadilan (2:17) akan melakukan sesuatu yang baru.
Nama Erwin H. Manurung (08.2328)
Pendahuluan
Nabi Obaja berbeda dengan nabi yang lain. Dia tidak memprotes dosa Israel dan tidak memberitakan murka Allah karena Yerusalem pada waktu itu sudah jatuh. Dia bernubuat melawan dan memprotes bangsa-bangsa lain terutama Edom. Menurut tradisi, bangsa Edom adalah keturunan Esau saudara laki-laki dari Yakub (Israel) (bnd. Kej 25:30; 36:1, 9). Bukti-bukti non-Alkitabiah mengenai Edom dikemukakan oleh Nelson Glueck. Selama pemerintahan Bronze Age (zaman perunggu, + 3000-2100 s.M), daerah yang dikenal sebagai Transyordania telah diduduki orang asing dan pada zaman leluhur Israel (2000-1900), Edom telah diduduki. Antara 2300-1800 s.M telah berkembang budaya agrikulturil di daerah tersebut dan juga dibangun kota-kota tembok, dan dilanjutkan kembali tahun 1300 sM.
Berbagai pandangan dijadikan bahan studi untuk menghubungkan nama pengarang ini dengan hamba (kepala istana) raja Ahab (1 Raj 18:1-16), dengan seorang guru dalam pemerintahan Yosafat (II Taw 17:7), serta seorang pengawas yang bekerja bagi raja Yosia (II Taw 34:12). Dan ini menjadi masalah untuk menentukan tanggal penulisannya. Sejak kematian Salomo sampai abad ke-9, pengawasan atas Edom makin bertambah lemah. Lima puluh tahun kemudian pelabuhan Ezion-Geber yang didirikan oleh Salomo di Edom tak dapat digunakan lagi meskipun Yosafat berusaha membukanya kembali (I Raj. 22:47). Dalam masa pemerintahan Yoram tahun 849-842 s.M, Edom merebut kesempatan untuk merdeka. Setelah mengalami masa jaya selama 50 tahun kemerdekaan, Edom kembali dikuasai Yehuda selama pemerintahan Amazia (801-783) (II Taw 25:14-15). Waktu Yehuda dipimpin Ahaz (735-715) Edom kembali memperoleh kemerdekaan. Pelabuhan Ezion-Geber kembali ke tangan suku Edom (II Raj. 16:6). Yehuda tidak pernah lagi menguasai Edom. Kedua kerajaan memusatkan perhatian kepada intervensi Assyria.
Selama kerajaan Israel masih eksis, daerah Edom dijajah oleh Israel. Sehingga pada waktu Yerusalem jatuh Edom bersukacita. Sikap Edom yang demikian digambarkan dalam kitap Ratapan, “Bergembira dan bersukacitalah, hai puteri Edom,...juga kepadamu piala akan sampai,...” (Rat. 4:21). Dalam Mazmur disebut, “Ingatlah ya Tuhan kepada bani Edom...(Mzm. 137:7). Sikap Edom tersebut sangat menyakiti hati orang Yerusalem yang tinggal di Yehuda selama pembuangan, terlebih lagi karena Edom datang menjarah daerah-daerah di Yehuda.
Masalah Penulisan
Tanggal penulisan yang dianjurkan adalah dari abad 9 s.M sampai pertengahan abad 4 s.M. Banyak ahli yang menganggap bahwa nabi ini tampil pada masa setelah kehancuran Yerusalem pada tahun 587 s.M (Deden, Edelkoort, Eissfeldt). Pada masa itu, nabi memberikan suatu upacara yang layak untuk mengancam melawan Edom (16-18), dan ancaman-ancaman yang lain seperti Amos 1:11-12. Pada saat itu Edom akan diserang oleh musuh karena telah bergembira melihat kemalangan Yehuda. Detail Obaja secara seksama melebihi deskripsi lainnya yang menunjukkan bahwa dia adalah saksi mata pada peristiwa tersebut dan segera menyampaikan perintah suci tersebut kemudian.
Ucapan dalam ayat 19-21 harus dipertimbangkan dengan suatu tambahan yang memberitahukan pendudukan Palestina wilayah barat dari Yordan dengan pengecualian Yehuda oleh orang-orang Israel dan Yahudi diaspora bersama-sama dengan pasukan militer melawan Edom. Bagian ini diperoleh dari masa pembuangan.
Pembagian kitab berdasarkan zaman menurut Sellin:
ayat 1-10 : masa setelah peninggalan Edom atas Yehuda (2 raj 8: 20-21) sekitar 850 s.M.
11-14 : masa setelah tahun 586 s.M
15b, 16-21: abad ke 5 s.M.
Fakta pertama untuk ayat 1-10 digunakan oleh Obaja dalam ayat-ayat Yeremia 49. Yang lain dianjurkan pada abad 8 (Kutal, bic). Welhausen menginterpretasi ayat 2-9 sebagai suatu penggambaran atas pasukan Arab yang menginvasi Edom, merupakan gagasan dari abad 5 s.M. Robinson menyebutkan penanggalannya melalui masa dari akhir abad 6 s.M sampai permulaan abad 4 s.M. Menurut C. F. Keil, posisi kitab Obaja sebagai jilid keempat dari kumpulan ke-12 nabi kecil memberikan indikasi bahwa kitab ini ditulis sekitar abad ke-8 s.M.
Suatu penelitian terhadap ayat 10-14 dan 16 menunjukkan bahwa buku ini ditulis di sekitar peristiwa yang terjadi dalam sejarah Edom maupun Yehuda (lih. juga ayat 5-8 dan 19-20). Edom gagal memberikan pertolongan pada saudaranya. Masalahnya adalah bilamana peristiwa itu terjadi? Suatu usul berdasarkan II Taw 20, mengidentifikasikan peristiwa itu dengan suatu peperangan yang melibatkan Moab, Amon dan Edom, dimana Yehuda terluput dari peristiwa itu. Peristiwa itu terjadi selama pemerintahan Yosafat (875-852 s.M), sehingga peristiwa itu dilihat sebagai latar belakang buku ini. Dalam II raj 8:20-22 (bnd II Taw 21:8-10) Edom berhasil memberontak pada Yehuda. Hasil pemberontakan ini adalah Edom menjadi satu negeri yang berdiri sendiri sampai dengan masa penulisan kitab Raja-raja.
Beberapa ahli perjanjian lama memandang bagian pertama dari buku ini adalah ayat 1-10 sebagai bagian yang kuno, yang lain adalah bagian yang muda yang berasal dari jaman sesudah pembuangan di Babel. Menurut pandangan ahli yang lain, kitab ini merupakan suatu kesatuan yang berasal dari jaman pembuangan. Nabi ini bernubuat sesudah tahun 587 s.M. yaitu pada waktu Yerusalem telah jatuh dan dihancurkan. Namun, waktu yang jelas tentang penulisan kitab ini tidak dapat ditentukan dengan pasti, tetapi para ahli telah menentukan jarak waktu antara tahun 889 s.M hingga tahun 312 s.M (Lasor).
Struktur Kitab Obaja
Kitab Obaja adalah suatu kumpulan ucapan-ucapan yang dikemukakan atas nama YHWH sebagai suatu penghukuman atas Edom atau suatu bangsa yang menunjukkan dirinya sebagai musuh YHWH. Nubuat itu diucapkan mungkin dalam suatu liturgi selama upacara pesta tahun baru yang bentuknya sekarang dalam perjanjian lama merupakan suatu kesatuan. Hal ini tidak berarti bahwa seluruh ayat kitab Obaja disusun pada masa yang sama.
Beberapa penafsir memelihara kesatuan dari seluruh kitab, menolak membaginya ke dalam beberapa ucapan (Aalders, Edelkoort, Bic). Bic memahaminya sebagai suatu ramalan liturgis untuk pestival penobatan yang diperolehnya dari drama kultus. Bagaimanapun, lebih banyak penafsir membagi jadi dua ucapan.
Rudolph membagi; 1-14, 15b dan 15a, 16-18, dan 19-21 sebagai suatu kesimpulan. Weiser menggabungkan 19-21 dengan ucapan yang terdahulu. Eissfeldt, menemukan satu ucapan dalam 1-14, 15b + 15a, 16-18 dan 19-21 tambahan yang disusun orang kedua penulis yang berbeda. Sellin Rost membaginya atas ayat 1-10 adalah ramalan asli, 11-14 adalah tambahan kemudian, 15a, 16-18 dan19-21 adalah dua tambahan. Robinson menganalisis kesatuan kitab tersebut dalam 8 ucapan.
Pertimbangan dari materi subjek dan corak khas atau formula nasehat, ucapan Obaja dibagi dalam 6 bagian dengan tambahan atau jenis yang berbeda:
1. 1b-4: ancaman melawan Edom, dengan formula ne’um YHWH
2. 5-7 : ancaman melawan Edom, dalam ayat 7 (diubah dalam urutan 7a +a, 7a +b)
3. 8-11: ancaman dengan melawan Edom, dengan formula ne”um YHWH tertarik ke dalam pernyataan pengantar dan satu setengah ayat dalam bentuk kesimpulan.
4. 12-14, 15b: ancaman melawan Edom, memotipasi dengan suatu peringatan tambahan.
5. 15a, 16-18: ancaman melawan Edom pada masa hari Tuhan, ketika semua bangsa akan dimusnahkan. Ayat 15a dengan tanda yang jelas pada suatu permulaan dan kita mempunyai ki YHWH dibber sebagai suatu kesimpulan.
6. 19-21: janji kepada Israel
Kesejajaran Kitab Obaja
Banyak ayat dalam surat ini mirip dengan ayat dari surat nabi lain. Misalnya, ayat 3 dan 4 mirip dengan Amos 9:2b dan Yes 14:13 dst; ayat 7b mirip dengan Yer 38:22 dan Mzr 41:10. ayat ib-10 ada banyak persamaan dengan Yer 49:7-22. Jika Yer 49:7-22 dari Yeremia sendiri, maka Obaja mengutipnya. Tapi jika Yeremia 49:7-22 tidak autentik, ada kemungkinan juga Yeremia mengutip dari Obaja. Perkara ini sukar ditentukan.
Ayat-ayat yang sejajar dengan Obaja:
Obaja Yeremia 49 Obaja Yoel
Ay 1 ay 14 ay 10 3; 19
Ay 2 ay 15 ay 11 3: 3
Ay 3a ay 16a ay 15 3: 4, 7
Ay 4 ay 16b ay 15 1: 15; 2: 1; 3: 14
Ay 6 ay 9 ay 17 2: 32
Ay 6 ay 10a ay 17 3: 17
Ay 8 ay 7 ay 18 3: 8-9
Ay 9a ay 22b
Ay 16 ay 12
Obaja 1-9 lebih sejajar dengan Yer 49: 7-22 daripada dengan Yoel. Yer 49: 14-16 sangat mirip dengan Obaja 1-4. yer 49: 7-11 hampir sama degan Obaja 5-9 walaupun tampaknya bukan kutipan langsung. Kesejajaran dengan Yoel hanya berupa ungkapan-ungkapan yang mirip, bukan berupa kutipan. Kesejajaran ini menimbulkan pertanyaan apakah bahan-bahan seperti itu dipakai dalam ibadat umum sehingga menjadi bagian dari kosa kata tiap penulis.
Pendapat para ahli tentang kesejajaran kitab Obaja.
1. Muilenburg (1962), mengatakan perikop dalam kitab Yeremia ditulis sesudah kitab Obaja.
2. Eissfeldt (1965), sependapat bahwa bagian-bagian itu ditambahkan ke dalam kitab Yeremia kemudian.
3. Soggin (1976), mengatakan kedua perikop itu (Obaja dan Yeremia), mengutip perikop yang tertulis terdahulu.
4. Mengenai kesejajaran dengan Yoel, para ahli tidak sependapat, mengenai nabi yang mana yang mempengaruhi nabi yang lainnya.
Pemberitaan
Abad 8
Ayat yang diduga berasal dari abad ini adalah ayat 1-10. Pada masa ini, Edom dianggap sebagai musuh besar Yehuda dan beberapa kali Edom berhasil meraih kemerdekaan dari Yehuda. Hal ini terjadi karena faktor sejarah dan tradisi di mana Edom adalah berasal dari keturunan Esau yang merupakan saudara laki-laki Yakub. Permusuhan antara keduanya berakar dari tradisi tersebut. Pada masa ini, Edom berhasil meraih kemerdekaan dari Yehuda karena pada waktu itu Yehuda mengalami keterpurukan di bawah pemerintahan raja Yoram, walaupun pengawasan terhadap Edom sudah melemah setelah kematian Salomo. Pada saat itu, Edom merasa tinggi hati karena berhasil merdeka dari Yehuda. Edom berhasil memberontak dan menjadi negeri yang berdiri sendiri.
Kesombongan inilah yang dikritik dan ditentang oleh nabi Obaja. Pada bagian ini Edom dikatakan akan mendapat hukuman dari Tuhan karena kesombongan dan tinggi hatinya. Hukuman itu datang juga disebabkan karena Edom dianggap telah menyakiti saudaranya, yaitu Yakub. Hal ini tentunya berkenaan dengan pemberontakan yang dilakukan oleh Edom.
Abad 6/5 dan 4
Ayat yang diduga berasal dari abad ini adalah ayat 11-21. Pada masa ini, Yehuda mengalami pembuangan. Yerusalem dan Bait Suci hancur dan seluruh rakyat Yehuda dibuang ke Babel. Pada saat inilah Edom bersukacita. Musuh bebuyutannya telah hancur. Mereka dapat merdeka. Bangsa Edom melihat kecelakan bangsa Yehuda dengan rasa gembira. Obaja menubuatkan bahwa Edom juga akan mengalami seperti yang dihadapi oleh Yehuda (15b). Ayat 15a dan 16-21 tidak lagi khusus memperhatikan Edom. Ayat ini menubuatkan datangnya hari TUHAN. Pada hari itu bangsa-bangsa kafir akan lenyap, tetapi gunung Sion akan menjadi tempat perlindungan dan bangsa Isarel akan menduduki daerahnya kembali, bahkan daerah itu akan diluaskan. TUHAN sendiri akan menjadi Rajanya.
Ada beberapa hal yang sering dinyatakan oleh nabi mengenai hari TUHAN ini:
1. Allah menuntut kebenaran, Allah tidak akan selalu membiarkan tingkah laku yang berlawanan dengan kehendakNya, Ia menghendaki agar hidup lebih benar dan menghukum jika tidak taat (ay. 10-12, 17-21), juga (Amos 1-2).
2. Allah adalah penguasa langit dan bumi, Allah dari segala bangsa. Jika Allah hanya Allah Israel, bagaimana Allah dapat menghukum Edom, atau bertanggungjawab atas kekerasan yang dilakukannya terhadap saudaranya Yakub? Nubuat ini mula-mula didasari dari Amos dan terdapat hampir di seluruh kitab nabi-nabi.
3. Jika Allah adalah kudus dan menuntut kekudusan dari umatNya, tetapi Ia membiarkan bangsa-bangsa melakukan segala kejahatan, bagaimana Ia menjadi penguasa bangsa-bangsa. Obaja menjawab dengan menyebtukan dahulu kejahatan Edom, kemudian mengumumkan hari Tuhan yang akan datang (ay. 15), setelah penghakiman akan tiba pemulihan dan pembaharuan (ay. 21).
4. TUHAN tidak akan membiarkan kejahatan orang yang menganiaya umat-Nya dan TUHAN akan merubah nasib umat-Nya yang celaka itu. TUHAN Allah akan melepaskan jemaatNya dari segala bahaya dan malapetaka dan pada akhirnya umat Allah akan sejahtera dan TUHAN sendiri akan menjadi Rajanya.
KITAB MALEAKHI
Latar belakang
Waktu nubuatan Maleakhi adalah sekitar tahun 450 s.M. Bait Suci telah didirikan kembali dan sistem peribadahan sudah berlangsung seperti sedia kala (1:10). Nubuat yang menentang perkawinan campur dalam kitab ini (2;10-16) sejajar dengan pandangan Nehemia (Neh 13:23-27), sehingga para ahli memperkirakan kemungkinan besar Maleakhi sejaman dengan Nehemia atau sebelum masa Nehemia dan Ezra. Kondisi bangsa Israel pada masa itu setelah kembali dari pembuangan diharapkan membawa satu zaman Mesianis, akan tetapi hal itu tidak terlaksana sehingga hati mereka menjadi tawar. Muncul keragu-raguan (1:2; 2:17; 3:14-15), perzinahan, sumpah palsu, penindasan dan ketidakadilan merajalela (3:5). Nubuatan Maleakhi menggambarkan penyataan Allah tentang sesuatu yang baru dan yang diperlukan oleh umat Israel, yaitu hati yang baru, jiwa baru, hukum yang tertulis dalam hati, gembala yang dengan sempurna mencerminkan sikap Allah. Semuanya itu akan diperoleh jika umat Allah mau berjalan lagi menurut kehendakAllah.
Masalah penulisan
Hampir secara keseluruhan penulisan kitab ini pada pertengahan abad ke lima —kurang lebih kira-kira 465 — setelah Hagai dan Zakharia karena dia mengisyaratkan bait dan cara pemujaan (1:10; 3:1,10). Bolmeriq mengatakan bahwa kitab ini ditulis pada dekade 485-445 s.M dan menyampaikan Maleakhi sebagai asisten dari Ezra. Ungkapan pada 3:6 berisikan kata-kata berikut yang dibicarakan oleh seorang tokoh, mereka menyebutnya reformasi Ezra. Mungkin, bagaimanapun Ezra seharusnya ditulis dalam periode yang berbeda.
Holtzmann menyampaikan bahwa ‘yang takut akan Yahweh’ (3:16) adalah identik dengan ‘synagoge’ seperti yang disebutkan Hasideanz dalam 1 Maccabe 2:42 dan bahwa buku ini dikombinasikan pada pertengahan abad ke tiga. Dalam pasal 1:8 dipakai perkataan bahasa Persia mengenai Bupati, jadi kitab ini dikarang sesudah Persia menguasai tanah suci (539 s.M). Akan tetapi menurut pasal 1:7; 2:1; 3:1, 10, sudah ada imam-imam di Bait Allah, sehingga sesudah tahun 516 s.M, lebih kemudian daripada zaman nabi-nabi Haggai dan Zakharia. Dalam kitab Maleakhi ini disebutkan bahwa pada keadaan masa itu tidak baik di tengah-tengah bangsa Yehuda, hal ini dapat diterangkan seperti adanya perceraian dan perkawinan campuran bangsa asing. Namun hal yang kontras di sini telah terjadi yaitu keadaan yang disebutkan di atas tersebut diterangkan bahwa Ezra dan Nehemialah yang membersihkannya pada abad ke lima dan seharusnya kitab Maleakhi ditempatkan pada permulaan abad 5 s.M. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kitab Maleakhi ditulis kira-kira abad 5 s.M atau sekitar tahun 450 ..
Isi kitab Maleakhi
1:2-5 : mem,bicarakan perbuatan cinta kasih Yahweh untuk Israel (Yakub); atas pemeliharaannya, dan Edom akan binasa.
1:6-2:9 : ancaman dan kutukan terhadap imam yang mempersembahkan persembahan yang tidak layak.
2:10-16 : menentang perkawinan campur dan perceraian.
2:17-3:5 : Tuhan akan membalas keraguan terhadap kemuliaan Tuhan dan semua orang sama pada hari penghakiman.
3:6-12 : pembayaran persepuluhan untuk menghindari malapetaka.
3:13-21 (Ing 3:13-4:3) : penghakiman bagi yang takut akan Tuhan akan menerima penyembuhan Tuhan.
Kitab Maleakhi dapat kita ketahui dengan memperhatikan ciri khasnya yang dapat kita analisa seperti berikut:
1. Judul (1:1)
2. Kasih Tuhan dilukiskan oleh nasib Edom (1:2-5)
3. Kecaman terhadap para imam (1:6-2:9)
4. Penyembuhan berhala dan kawin campur (2:10-16)
5. Allah yang adil (2:17-3:5)
6. Persepuluhan yang tidak diberikan (3:6-12)
7. Orang benar dan orang fasik (3:13-18)
8. Elia dan hari Tuhan (4)
Garis besar ini disusun dalam pola tanya jawab, “Aku mengasihi kamu” kata Tuhan (1:2a). “Dengan cara apakah Engkau mengasihi kami?” tanya bangsa itu (ay. 2b). Jawaban diberikan dan kebenaran Allah ditegakkan. Akhirnya bangsa itu akan mengatakan: “Tuhan maha besar sampai di luar daerah Israel” (ay. 5). Pola tanya jawab ini diteruskan dengan pokok yang kedua (1:6-7), ketiga (2:14-15,17), keempat (2:17), kelima (3:7-8), keenam (3:13). Gaya perdebatan ini adalah suatu ciri khas kitab Maleakhi dan menunjukkan sikap perlawanan bangsa itu. Entah itu ditujukan terhadap nabi atau terhadap Tuhan, tidak dinyatakan namun penggunaan metode ini menunjukkan bahwa bangsa itu suka berbantah, mempertanyakan kepercayaan dan praktik-praktik yang berlaku sebelumnya. Mereka mempertanyakan kasih Tuhan yang telah Ia tunjukkan dengan memilih bangsa Israel. Baik para imam maupun seluruh bangsa itu memandang rendah ibadat kepada Tuhan.
Pemberitaan
Tema teologis dari pemberitaan atau nubuatan dalam kitab Maleakhi dapat dibagi menjadi beberapa poin:
1. Tuhan semesta alam.
Sebutan Allah yang paling umum dalam kitab Maleakhi adalah YHWH tseva’ot. Hal ini diberitakan nabi Maleakhi karena bangsa Israel pada saat itu bersungut-sungut dan meragukan tindakan Tuhan. Maleakhi mengatakan bahwa TUHANlah yang akan memimpin Israel dan menjai Raja Israel yang bertakhta di Sion untuk memerintah bangsa Israel.
2. Teodisi.
Tema ini muncul ketika bangsa Israel pulang ke tanahnya dan berharap keadaan berubah. Mereka mengharapkan keadaan yang menyenangkan, namun ternyata yang diraih adalah yang sebaliknya, keadaan tidak membaik. Oleh karena itu, mereka meragukan tindakan Tuhan dalam hidup mereka. Ini juga dinubuatkan karena pada saat itu bangsa Israel jauh dari jalan Tuhan. Perkawinan campur, perceraian, dan ibadat yang salah marak terjadi di tengah-tengah bangsa Israel setelah kembali dari pembuangan di Babel.
Teodisi adalah pembenaran tindakan Allah bahwa orang benar akan diberkati sedangkan orang fasik akan mendatangkan penderitaan. Perdebatan dalam kitab ini memperlihatkan bahwa tuduhan yang dilontarkan bangsa itu dinyatakan dengan bermacam-macam cara, antara lain: Tuhan tidak ada, Tuhan tidak mempertahankan kasih-Nya terhadap Israel, dan juga tidak memperhatikan kualitas kurban, dan sebenarnya Ia merasa senang dengan mereka yang berbuat jahat di hadapan-Nya.
Jawaban Tuhan terhadap berbagai serangan mengenai keadilan-nya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Allah adalah Allah segala sesuatu (Allah yang universal).
Tuhan semesta alam adalah Raja yang Besar dan nama-Nya, Ia “ditakuti di antara bangsa-bangsa” (1:14). Seandainya gagasan Allah yang univerasal hanya muncul sesudah masa pembuangan, maka gagasan ini terasa agak maju untuk zaman Maleakhi. Tetapi, sebagaimana terlihat dalam pasal-pasal terdahulu, ada banyak bukti bahwa gagasan tersebut sudah tua, kemudian menjadi kabur karena masuknya ide-ide agama lain, lalu ditegakkan kembali oleh para nabi, terutama oleh Yesaya.
2. Israel, putra dan hamba Allah.
Meskipun Allah adalah Allah seluruh dunia, namun Israel mendapat tempat yang istimewa sebagai akibat pemilihan oleh Allah. Pemilihan atas Yakub dan penolakan atas Esau melukiskan hal itu (1:2 dst.). Israel adalah putra dan hamba Tuhan, sehingga mereka harus hormat dan takut akan Dia (1:6).
3. Hari Tuhan.
Hari Tuhan, yang telah dikenal pada masa nabi Amos dan dibicarakan secara panjang lebar pada masa Yoel dan Zefanya, muncul lagi dalam kitab nabi yang terakhir ini. Gagasan tentang tentang hari itu terdapat dalam seluruh kitab Maleakhi. Ia akan memurnikan dan mentahirkan para imam-Nya, mengadili tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah, orang-orang yang bersumpah dusta, yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu—dengan kata lain, orang-orang “yang tidak taku kepada-Ku”. Namun hari itu tidak sepenuhnya berupa kegelapan dan api. Ia akan membedakan antara orang benar dan orang fasik, yaitu orang yang beribadat kepada Allah dan orang yang tidak beribadat kepada-Nya (ay. 18). Hari itu akan datang, menyala seperti perapian, “tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayap-Nya” (4:2). Pemusnahan orang-orang fasik dan keselamatan orang-orang yang melayani Tuhan, dinantikan sebagai babak terakhir sejarah dunia ini (4:1-2). Nama orang-orang yang menghormati nana Tuhan ditulis dalam sebuah kitab peringatan (3:16).
Maleakhi tetap menegakkan nubuatan Deutero-Yesaya tentang persiapan dari sebuah tujuan eskhatologis. Penghakiman (mispat) akan segera berlaku suatu hari. Ini akan terjadi kemudian. Pertama, jalan untuk itu akan disediakan dan disiapkan oleh seorang pelopor, seorang pengirim pesan misterius. Tuhan Yesus menyamakan utusan Tuhan yang disebut dalam Mal 3:1, 23 dengan Yohanes Pembaptis (Matius 11:10,15).
Seperti kitab nabi-nabi lainnya, pada kitab Maleakhi juga ditambahkan ajakan untuk menghayati hukum dan peraturan yang dinyatakan melalui Musa dan dijanjikan bahwa menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu, Allah akan mengutus nabi Elia ke tengah-tengah bangsa Israel. Pada saat itu, hati bapa-bapa akan berbalik kepada anak-anak dan hati anak-anak kepada bapa-bapa. Angkatan generasi penerus dianggap memerlukan nabi Elia untuk mempersiapkan jalan menjelang datangnya hari Tuhan. Nubuatan mengenai nabi Elia dan melaksanakan hukum Taurat dalam pasal 3:22-26 ini diduga berasal dari zaman kemudian.
4. Perjanjian.
Pokok pengajaran Maleakhi adalah konsep perjanjian. Terkandung dalam pembukaan tema, cinta Raja untuk Israel (1:2-5) dan suatu panggilan untuk memenuhi kewajiban dari perjanjian yang mengakhiri kitab ketika dinyatakan dalam hukum (4:4). Tuhan, yang memulai perjanjian, dan dalam kaitannya dengan siapa perjanjian diikat, adalah juru bicara kepala dan figur yang utama. Agar konsep Tuhan sebagai Bapa tidak disalahgunakan, Maleakhi menetapkan berhadapan dengan hak Tuhan sebagai Raja dan Guru (1:16, 14). Tuhan keadilan (2:17) akan melakukan sesuatu yang baru.
Komentar