+
I.
PENDAHULUAN
Setiap
manusia dipakai Allah untuk menyatakan keselamatan bagi seluruh umat manusia,
yaitu melalui orang-orang yang telah dipilih-Nya. Dan kita telah mengetahui
orang-orang atau tokoh-tokoh di Alkitab yang dipakai Allah sebagai perpanjangan
tangan-Nya, seperti para nabi, imam juga melalui raja-raja yang dipilih-Nya
yang takut akan Tuhan. Sehubungan dengan pembahasan ini juga, bahwa banyak juga
tokoh-tokoh perempuan yang berperan dalam sejarah keselamatan. Misalnya, Ester,
Esra, Debora, Rut, dan masih banyak lagi.
Akan
tetapi dalam pembahasan ini, saya akan membahas tentang beberapa perempuan yang
ternyata berperan penting dalam sejarah keselamatan, tetapi jarang
diperbincangkan. Dan saya berfikir, tokoh-tokoh ini perlu untuk dibahas karena
peran mereka, meskipun bisa dikatakan berperan di balik layar tetapi sangat
besar maknanya bagi keselamatan. Sehingga saya dapat mengatakan, bahwa di balik
kesuksesan laki-laki, terdapat sejumlah perempuan yang beraksi di balik layar
dan yang sangat berperan penting dalam sejarah keselamatan.
II.
ISI
2.1. Etimologi
Perempuan dalam bahasa Ibrani berasal dari kata ishshah
(_h;iÞißV'a) yang artinya istri,
ibu atau perempuan.[1]
Perempuan dalam bahasa Yunani berasal dari kata gune (gunh|) yang artinya perempuan,
istri, ibu dan pengantin.[2]
Perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB), bahwa kata “perempuan”
berasal dari bahasa melayu yaitu dari kata “puan” yang artinya istri
tuan atau nyonya.[3]
2.2. Terminologi
Dalam
Perjanjian Lama, perbedaan penggunaan kata ishshah disebabkan karena dua hal yaitu, "perempuan, ibu atau
istri". Penggunaan kata Ishshah berarti "perempuan"
dipadankan dengan kata ish yang artinya laki-laki (laki-laki, perempuan). Ishshah gedholah
artinya "seorang wanita kaya"
(2 Raj. 4:8);
ishshah zonah artinya "pelacur" (Yos. 2:1), seorang pelacur jadi istri (Hosea 1:2). Kata Ishshah
yang berarti "istri"
dipadankan dengan kata ish yang artinya “suami” (suami, istri). Kata Ishshah, yang artinya "tunangan"
(Ul. 22:24) atau "pengantin"
(Kej 29:21); nathan
lo le ishshah
yang artinya “ia memberikan (pembantunya) sebagai istri” (Kej.
30: 4,9).[4]
Dalam Perjanjian Baru, kata gune
menunjuk kepada perempuan sebagai mitra
sensual (Mt. 2:28; I Kor. 7:1; Wahyu 14:4) tanpa
pertimbangan umur atau situasinya.
Manusia lahir dari perempuan (Mat. 11:11; Luk.
7:28; Gal. 4:4).
Gune juga memiliki arti sebagai istri
dalam (Mat. 5:28, 31; 14:03, dan I
Kor. 9:5). Istri
yang tidak setia itu harus dihukum
mati (Im. 20:10; Yoh. 8:3), mungkin kekhawatiran pada pengantin yang
bermain serong, yang harus
dirajam (Ul. 22:24).
Memiliki arti juga sebagai ibu tiri dalam (I Kor. 5:1)
dan kadang-kadang juga diartikan
sebagai pengantin, artinya yang
tetap di tujukan bagi perempuan yang telah menikah. Secara hukum seorang perempuan dianggap sudah menikah dari
masa pertunangan, artinya sudah
ada ikatan, hanya menunggu waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan (Kejadian 29:21; Mat
1:20,24.; Luk. 2:5).[5]
Karena dalam status pertunangan juga telah merupakan kesepakatan kedua belah
pihak keluarga laki-laki dan perempuan.[6]
Perempuan juga sering disebut dengan kata dan pengertian
yang hampir sama yaitu kata “wanita” yang berasal dari bahasa Sanskerta
yang artinya elok ataupun cantik. Dalam percakapan atau dalam
kehidupan sehari-hari kedua kata ini digunakan seolah-olah memiliki pengertian
yang sama. Sehingga ketika kita ingin menggunakan istilah wanita maupun
perempuan adalah seolah-olah sama saja. Akan tetapi pada dasarnya kedua kata
ini memiliki kesamaan arti juga perbedaan arti yang mendalam. Dimana kata
“perempuan” lebih menunjuk kepada wibawa
sedangkan kata “wanita” lebih menunjuk kepada sesuatu yang terkesan sensual.[7]
2.3. Pemahaman
Tentang Keselamatan
Dalam pembahasan ini,
hubungan perempuan dengan sejarah keselamatan yaitu berangkat dari teks. Dimana,
dalam teks yang telah saya tentukan
terdapat peran para perempuan dalam sejarah keselamatan. Artinya, melalui teks
ini, saya menemukan beberapa perempuan yang berperan dalam sejarah keselamatan
umat manusia. Keselamatan yang saya maksudkan dalam pembahasan ini adalah
keselamatan manusia secara universal. Meskipun kisah Musa bukanlah awal dari
sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama, akan tetapi dalam tek inilah saya
menemukan seberapa pentingnya peran para perempuan dalam rangka terwujudnya
keselamatan tersebut kepada seluruh umat manusia. Dan dilanjutkan dalam
Perjanjian Baru, yaitu kisah tentang kelahiran Yesus sendiri yang jadi tokoh
utama dalam Perjanjian Baru dan disertai dengan perempuan-perempuan yang
dipakai Allah untuk mewujudkan keselamatan tersebut.
Jadi, yang saya tekankan dalam pembahasan ini adalah peran
perempuan dalam sejarah keselamatan yang universal dengan berangkat dari teks
yang merupakan tipologi. Bukan saja hanya keselamatan umat Israel dari
perbudakan Mesir atau keselamatan Musa dari pembunuhan sehingga menjadi
seseorang yang dipakai Allah sebagai perpanjangan tangan-Nya. Akan tetapi,
berkesinambungan dengan keselamatan dalam Perjanjian Baru dalam diri Yesus
Kristus yang menjadi manusia, sehingga terjadi keselamatan secara universal.
Dalam kedua kisah ini, saya menyoroti bahwa keselamatan itu tidak terlepas dari
peran perempuan yang juga turut dipakai Allah dalam rangka mewujudkan
keselamatan.
Sekilas terlihat bahwa konsep keselamatan dalam Keluaran
dengan konsep keselamatan dalam Lukas berbeda, akan tetapi sebenarnya
keselamatan itu sama saja. Dimana, kelepasan umat Israel dari perbudakan Mesir
yang dipimpin oleh Musa adalah keselamatan atau kebebasan mereka dari
dosa-dosanya. Dimana, umat Israel dibiarkan Tuhan terbuang karena mereka
melakukan pelanggaran atau dosa-dosa, maka pembuangan itu adalah sebagai
peringatan supaya umat Israel menyadarinya. Memang, dalam keterbelengguan itu
adalah pengalaman yang nyata yang membutuhkan kebebasan yang mutlak.[8]
Sama halnya dengan keselamatan dalam
Lukas, dimana Allah mencari jalan untuk menyelamatkan manusia, sehingga ia
harus menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus, supaya terwujudlah
keselamatan yang universal bagi seluruh umat manusia.
2.3.1. Dalam
Perjanjian Lama
Sejarah keselamatan dari Allah dalam Perjanjian Lama
secara kronologi dari sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, dalam jaman Nuh,
peristiwa pemanggilan Abraham, jaman Musa ketika Taurat diturunkan, dalam masa
sebelum pembuangan dan masa pembuangan maupun setelahnya.
a.
Sejarah keselamatan tidak dapat
dipisahkan dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Fakta bahwa manusia telah
jatuh ke dalam dosa menunjukkan bahwa manusia membutuhkan keselamatan dari
Allah.
b.
Pembuatan Bahtera pada zaman Nuh
menunjukkan suatu perbuatan yang baik tentang rencana penyelamatan Allah. Namun
walaupun ada rentang waktu seratus tahun lebih lamanya untuk bertobat,
kesempatan ini tidak dimanfaatkan oleh manusia.
c.
Abraham berasal dari garis keturunan
Sem yang mempunyai latar belakang keluarga yang menyembah banyak dewa. Dapat
dipastikan bahwa pilihan Allah pada Abraham dalam rangka mengemban rencana Allah
lebih lanjut untuk masa yang akan datang, khususnya membangun bangsa Israel
pastilah bersumber pada anugerah, dan inisiatif dari Allah sendiri untuk
mewujudnyatakan keselamtan kepada umat Israel.[9]
d.
Sejarah keselamatan dalam masa Musa ini
terungkap dalam berbagai upacara keagamaan/ibadah di seputar Kemah Suci, maupun
melalui hari raya-hari raya umat Israel.
e.
Selanjutnya hari raya-hari raya
Israel melukiskan tentang tindakan penyelamatan Allah di dalam waktu yang
pernah mereka lalui. Paskah misalnya merupakan hari raya yang dilakukan sebagai
peringatan terhadap tindakan penyelamatan yang dilakukan Allah terhadap Israel
dari perbudakan Mesir. Dengan hari raya-hari raya tersebut, Israel memperingati
bahwa Tuhan yang telah melepaskan mereka di masa lampau.[10]
f.
Pada masa Yosua sampai saat sebelum
pembuangan dapat dilihat tindakan keselamatan Allah kepada bangsa Israel dalam
bentuk penaklukan dan pemberian tanah Kanaan serta kemenangan atas musuh-musuh
mereka.
g.
Bangsa Yahudi tinggal di Babel
selama 70 tahun (2 Tawarikh 36:21). Allah ingat akan umat-Nya yang di
pembuangan, melalui Koresy raja Persia, yang mengijinkan bangsa Yahudi kembali
ke Yerusalem. Tugas mereka adalah membangun kembali Bait Allah (Ezra 2:8).
Rakyat berbakti kepada Allah menurut Taurat yang diajar oleh Ezra, kemudian
Ezra dan Nehemia mengadakan kebangunan rohani (Nehemia 8:2, 8; 9:1-3; 13).
2.3.2. Dalam Perjanjian Baru
Keselamatan dalam Perjanjian Baru adalah dalam diri
Yesus sendiri yang telah menjadi manusia. Dimana ini adalah kesinambungan dari
Perjanjian Lama, Allah ingin memperdamaikan manusia yang sempat kabur karena
kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sehingga Allah mencari cara yang tepat
bagaimana supaya manusia bisa menerima keselamatan tersebut. Satu-satunya
jalan, Allah harus menjadi manusia dan sejajar dengan manusia. Sehingga, Ia
mengauniakan Anak-Nya yang Tunggal di dalam diri Yesus Kristus sebgai jalan
kesematan bagi seluruh umat manusia. Maka, kelahiran, kematian dan kebangkitan
adalah wujud nyata dari keselamatan itu. Dengan lahirnya Yesus dari seorang perawan Maria, dan Ia mati
untuk dosa-dosa seluruh umat manusia kemudian bangkit dari dari kematian untuk
mengalahkan maut dan kematian. Sehingga, terwujudlah keselamatan yang universal
bagi seluruh umat manusia.
2.4. Perempuan
dalam Perjanjian Lama
Dalam
Perjanjian Lama, “Perempuan” berasal dari bahasa Ibrani dari kata (isysya)
yang artinya perempuan, ibu , istri.
Sejak zaman Perjanjian Lama telah ditemukan beberapa peran penting serta
posisi perempuan, yaitu:
1. Sebagai
Penolong yang Sepadan
Hawa adalah perempuan pertama yang
diciptakan Allah setelah Adam. Perempuan ini diciptakan sebagai penolong yang
sepadan bagi Adam. Sepadan, artinya diberi tugas juga oleh Tuhan untuk
melakukan pekerjaan yang sama pentingnya dengan Adam untuk mengelola dan
memelihara bumi (Kej. 1:26-28).[11]
2. Sebagai
Istri dan Ibu
Kaum perempuan mengambil peran yang
sangat penting dalam konteks kehidupan keluarga. Baik sebagai ibu maupun
sebagai istri, melahirkan anak adalah tugas yang mulia serta bertanggung jawab dalam pemeliharaan,
pendisiplinan, membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. Selain itu, juga
bertanggung jawab dalam penyediaan makanan dan pakaian yang dominan hasil
kerajinan tangan sendiri. Selain itu, menimba air untuk keperluan rumah tangga
juga untuk hewan ternak serta bekerja di ladang (2 Sam. 13:8; Kej. 24:11; Rut
2:21-23).[12] Dalam
Hukum Ibrani jelas dapat kita lihat bahwa seorang ibu yang adalah
seorang perempuan haruslah dihormati (Kel. 20:20), disegani (Im. 19:3) dan juga
ditaati (Ul. 21:18).
Seorang ibu juga menghadiri upacara
agamawi untuk ibadat dan membawa persembahan korban.
3. Sebagai
Pewaris
Dalam hal pewarisan hak milik, apabila
tidak ada pewaris laki-laki, maka
perempuan juga dapat sebagai pewaris yang sah menjadi pemilik tanah dan
dengan hak penuh pada dirinya sendiri.[13]
Dan untuk menjamin bahwa tanah itu masih berada pada keluarga yang sama, tetapi
dengan syarat harus menikah dengan laki-laki sekaumnya.[14]
4. Sebagai
Hakim
Kisah Debora adalah ciri khas dari
kepemimpinan seorang perempuan. Debora bertindak mendahului laki-laki dan
bangkit sebagai ibu di Israel dan mengajak laki-laki berperang di bawah
kepemimipinannya (Hak. 5:7).[15]
Dalam kisah Debora ini ditunjukkan kepada kita bahwa pada zaman Hakim-hakim
perempuan sudah sangat besar artinya bagi kepentingan bangsa-bangsa.
Bersama-sama dengan laki-laki, perempuan dipanggil untuk menjawab panggilan-Nya
dalam mensejahterakan bangsa.
5. Sebagai
Nabiah
Hulda adalah seorang Nabiah di Yehuda
pada masa raja Yosia yang berperan sebagai penyambung lidah Allah untuk
menyampaikan pesan kepada umat-Nya (2 Raj. 22:14-20).
Akan
tetapi, beberapa perempuan yang telah saya paparkan di atas adalah tokoh-tokoh
perempuan yang terkenal. Maka sesuai perikop yang saya pilih dalam pembahasan
ini (Keluaran 1: 15-17; 2: 1-10), ada beberapa perempuan yang disebutkan
namanya di dalam Alkitab, tetapi tidak dibahas lebih lanjut megenai mereka dan
perannya dalam sejarah keselamatan tidak
begitu di tekankan. Maka di bawah ini saya akan membahas bagaimana peran
mereka dalam sejarah keselamatan.
a. Keluaran
1: 15-17
Sifra
adalah nama Ibrani yang artinya “kecantikan” sedangkan Pua adalah nama
Ibrani yang artinya “sifat gilang-gemilang”.[16]
Bidan Pua dan Sifra adalah bidan yang menolong perempuan Ibrani yang
melahirkan. Mereka adalah perempuan yang bijaksana yang banyak pengetahuannya
tentang segala hikmat orang Mesir (Kis. 7:22), juga ilmu obat-obatan dan ilmu
bidan. Sehingga, orang Israel mempercayakan akan keahlian mereka. Berani
menentang titah raja untuk membunuh setiap anak laki-laki, meskipun tidak
berani menentang secara terang-terangan.[17] Dalam bahasa Ibrani meyalledet yang
artinya “penolong dalam bersalin”. Bagi orang Ibrani, perempuan pada saat
melahirkan sering membungkukkan badan dan bertopang pada dua batu yang disebut ovnayim
(ay. 16). Atau bisa juga pada dua
kursi bersalin yang mempunyai bentuk yang sama dengan batu yang tadi.
Demikianlah Sifra dan Pua di sini berperan sebagai para medis atau
disebut bidan, yang berperan untuk menolong para ibu yang
melahirkan dan mengambil bayi yang baru lahir tersebut, memotong tali pusatnya,
membasuh bayi itu dengan air, menggosoknya dengan garam dan membungkus dengan lampin
(Yeh. 16:4).[18] Karena
itulah tugas dan tanggungjawab seorang bidan pada saat itu. Dan hal ini tidak
jauh berbeda dengan fungsi dan tugas para bidan saat ini.
b. Keluaran
2: 1-10
Dalam perikop ini, memang tidak disebutkan nama-nama perempuan
yang berperan tersebut. Yang digunakan hanyalah kata penunjuk saja. Misalnya,
dikatakan “seorang perempuan Lewi” yang menunjuk kepada Ibu Musa, kakaknya
perempuan, inang penyusu dari perempuan Ibrani, dan puteri Firaun.
· Ibu
Musa sekaligus Ibu Susu Musa
Ibu
Musa yang bernama Yokhebed, di mana dalam bahasa Ibrani dari kata yokheved yang
artinya “mulialah Yahweh” (Kel. 6: 19; Bil. 26:59).[19]
Inang pengasuh atau inang penyusu bagi Musa yang disarankan oleh Miryam, yang
adalah ibunya sendiri dan juga ibu Musa. Dalam bahasa Ibrani disebut meneqet.
Perannya yaitu sejak kelahiran Musa, menyembunyikannya sebelum pada akhirnya tidak
memungkinkan lagi untuk menyembunyikannya. Membuat peti yang dilapisi dengan
ter dan gala-gala sebagai tempat bayi Musa untuk ditaruh ke dalam sungai Nil.[20]
· Kakak
Musa
Kakak
perempuan dari Musa yang bernama Miryam, asal kata dari Maria. Miryam adalah
anak dari Amran dan Yokhebed, kakak dari Harun dan Musa (Bil. 26:59). Miryam
berperan dalam pengawasan bayi (Musa) dan juga menyarankan ibunya sebagai inang
penyusu bagi untuk Musa, setelah Musa diambil
oleh Putri Firaun dari air (ay. 7). Ia juga menyandang gelar nabiah
ketika ia memimpin perempuan-perempuan Israel memainkan alat-alat musik, menari
dan menyanyikan nyanyian kemenangan untuk memeriahkan penyeberangan Laut Merah
(Kel. 15:21). Ia meninggal di Kadesy dan
dikuburkan di sana (Bil. 20:1).[21]
· Puteri
Firaun
Puteri
Firaun adalah orang yang mengambil Musa dari air oleh karena belas kasihannya
terhadap bayi Musa. Lalu memberikan anak itu untuk disusui oleh seorang ibu pengasuh
(yang sebenarnya adalah ibu dari bayi Musa). Hal ini terjadi karena peran
Miryam sebagai kakaknya yang mengawasi Musa serta menawarkan ibunya untuk
menjadi ibu susu Musa. Maka setelah beberapa waktu, setelah disapih, Musa
kembali diserahkan kepada Puteri Firaun, sehingga Musa dibesarkan dan dididik
dalam lingkungan istana. Sampai akhirnya ia dipakai Tuhan untuk menjadi alat
untuk menyelamatkan umat Israel dari perbudakan Mesir.
Tindakan
yang dilakukan para perempuan itu sangat menentukan perjalanan dan masa depan
bangsa Israel. Mereka berperan dalam meyelamtkan anak laki-laki yang menjadi
tokoh dalam sejarah keselamatan. Maka, para perempuan itu adalah tokoh juga
yang sangat berperan penting dalam rangka terwujudnya keselamatan.
2.5. Perempuan
dalam Perjanjian Baru
Kata
“perempuan” dalam bahasa Yunani berasal dari kata (gune) yang artinya perempuan,
istri, ibu, pengantin. Dalam Perjanjian Baru, dapat dilihat beberapa
perempuan yang jarang diperbincangkan, akan tetapi ternyata mempunyai peran
yang sangat penting, yaitu:
1. Maria
Magdalena
Seorang perempuan yang taat dan sangat
mengasihi Yesus dan ia sangat merasa kehilangan ketika kematian Yesus. Ia
adalah perempuan dikaki salib Yesus (Yoh. 19:25). Ia juga adalah saksi pertama
atas kebangkitan Yesus.
2. Hana
Hana adalah seorang nabiah di
dalam Bait Allah dan mengenal jati diri bayi Yesus. Hana adalah perempuan
terhormat dalam dalam kisah kanak-kanak
Yesus. Sudah janda tetapi tidak pernah meninggalkan Bait Allah, beribadat dan
berpuasa kepada Allah siang dan malam. Hana adalah gambaran perempuan yang
saleh (Luk. 2:36-38).[22]
3. Maria
dan Marta
Maria dan Marta adalah saudara Lazarus.
Ketika Yesus pernah singgah ke rumah mereka, kedua perempuan ini mengambil
sikap yang berbeda. Marta sibuk mempersiapkan jamuan yang istimewa bagi Yesus
sedangkan Maria duduk tenang mendengarkan Yesus. Akan tetapi, kedua perempuan
ini sama-sama mengambil sikap yang tepat sesuai dengan pemikiran masing-masing.[23]
Kitab-kitab
Injil juga banyak memuat kisah-kisah tentang perjumpaan Yesus dengan perempuan,
Yesus menyembuhkan, mengampuni dan mengajar perempuan. Dan perempuan juga
memberikan pelayanan pada Yesus dengan mempersiapkan keperluan perjalanan,
memberikan tumpangan, memperlihatkan
kasih, memperhatikan kuburan Yesus dan menjadi saksi mata pertama dalam
kebangkitan Yesus.[24]
Selain
perempuan-perempuan yang telah saya bahas di atas, saya akan membahas tentang
Maria Ibu Yesus dan juga Elishabed.
· Maria
Nama
Maria ini adalah bentuk Yunani untuk nama Miryam
dalam Ibrani yang kemungkinan diturunkan dari nama Mesir: Marye yang
artinya “dicinta”. Pada saat Malaikat
memberitakan akan kelahiran Yesus, Maria saat itu dikatakan tinggal di Nazaret
di daerah Galilea dan bertunangan dengan Yusuf (Luk. 1: 26-27). Ketaatan Maria
dan penghormatannya kepada Yesus sehingga ia mau menerima dan meyakini apa yang
dikatakan oleh Malaikat kepadanya. Dan dia disebut ibu dari Anak Allah, maka
dia dikatakan juga seperti yang telah diucapkan Elishabeth, yaitu ”yang diberkati di antara semua permpuan”.[25]
· Elishabed
Nama ini berasal dari
bahasa Ibrani “elisyeva” yang artinya Allah adalah sumpahku.
Elishabed adalah ibu dari Yohanes Pembabtis dan sanak-saudara Maria (Luk. 1:
36).[26]
Pasangan (Elizabeth dan Zakharia) adalah pasangan yang telah
lanjut usia yang dipilih Allah untuk melahirkan Yohanes Pembabtis yang kelak
dan yang telah dipersiapkan Allah untuk mepersiapkan jalan bagi Yesus.[27]
2.6. Pembimbing Khusus
2.6.1. Kitab
Keluaran
Bidan-bidan yang
membantu proses kelahiran Musa, ibu Musa, kakak Musa serta putri Firaun adalah
para perempuan. Agaknya cukup sulit mengelakkan bahwa dalam Keluaran
1:15-2:1-10 yang berperan seutuhnya adalah kaum perempuan. Sepertinya sulit
dipahami mengapa penulis perikop ini menuliskan kisah yang justru menitik-beratkan
pada peran perempuan dalam masa pra-kelahiran Musa hingga kelahiran Musa dan
masa depan Musa. Jika dilihat dari sumber apa yang berperan dalam perikop ini
maka sumber Y dan E-lah yang berperan di dalamnya. Sumber Y atau yang biasa
disebut dengan sumber Yahwist merupakan sumber tertua dari agama Israel. Karena
menurut pendapat para ahli, sumber ini ditulis sekitar tahun 900-800 sM
sedangkan sumber Elohist atau sumber E
ditulis sekitar tahun 800-700 sM. Ada beberapa perbedaan yang membedakan
sumber Y dan E di antaranya adalah
masalah penyebutan nama Allah. Sumber Y menggunakan Yahweh sedangkan sumber E
menggunakan nama Elohim.[28]
Tidak dapat dipisahkan yang
mana ayat yang menggunakan sumber Y dan yang mana yang menggunakan sumber E
karena di dalam Pentateukh dapat ditemukan naskah-naskah yang memiliki 2 sumber
yang berkolaborasi. Sumber ini dapat disebut sebagai sumber YE. Disebut
demikian karena begitu sulitnya perpaduan kedua sumber yang telah bergabung ini
untuk dapat dipisahkan dan dibedakan.[29]
2.6.2. Injil
Lukas
Tradisi Kristen mula-mula mengatakan bahwa Injil ketiga
yaitu Injil Lukas ini dan juga Kitab
Kisah Para Rasul ditulis oleh seorang non-Yahudi yang berbahasa Yunani. Ia
seorang medis dan berpendidikan yang bernama Lukas (Yunani= Loukas).[30]
Kanon Muratori dan Prakata anti-Marcion pada Injil Lukas, serta Irenaeus,
Clemens dari Aleksandria, Origenes dan Tertulianus, mengatakan bahwa Lukaslah
penulis dari kitab ini. Injil Lukas merupakan jilid pertama dari dua jilid
sejarah mengenai kekristenan mula-mula yaitu Kisah Para Rasul. Menurut
Eusebius, Lukas berasal dari Antiokhia di Siria dan salah satu naskah kuno
Kisah Para Rasul memberitahu secara tersirat bahwa ia berada di Antiokhia (Kis.
11:28).[31]
Dalam
penulisan Injil Lukas secara keseluruhan, Lukas
menggunakan sumber Markus, Q dan
sumber Lukas sendiri.[32]
Karena Lukas juga menggunakan juga sumber Markus sebagai salah satu
narasumbernya khususnya pada pasal 1-13, maka penulisan kitab ini dilakukan
setelah penyusunan Injil Markus. Oleh karena itu tidak dapat dipastikan
kapan waktu yang tepat penulisan kitab
ini. Karena isi kitab ini ada juga menyangkut jatuhnya Yerusalem ke tangan Roma
(Luk. 21:5-24), maka kitab ini ditulis setelah tahun 70 M. Dan berdasarkan
beberapa pendapat dan keterangan, lebih tepatlah dikatakan bahwa penulisan
kitab ini adalah sekitar tahun 60 M.[33]
Dalam
Injil Lukas terdapat beberapa hal penting
yaitu cerita-cerita tentang Yesus yang tidak terdapat dalam Injil lain.
Seperti beberapa perumpamaan Yesus yang penting yang hanya terdapat dalam Injil
ini. Juga mengenai gaya bahasa yang memenuhi syarat-syarat sastra dan bahasa
Yunaninya yang pasih juga sangat mempengaruhi untuk membuat Injil
ini semakin menarik.[34]
Akan
tetapi, perikop ini (Luk. 1: 26-38) berasal dari sumber Lukas sendiri. Dan
bahan khas Lukas ini terdapat beberapa perikop yang mempunyai pandangan positif
sekali terhadap peranan perempuan. Pasal 1-2 mencerminkan pandangan yang amat
mendalam tentang misteri kehidupan baik dalam tradisi Yahudi maupun dalam
gereja yang di dalamnya menyangkut peranan perempuan. Kebesaran tentang seorang
janda yang diampuni dosanya, Maria dan Marta saudara Lazarus, penyembuhan
perempuan yang lumpuh, perempuan yang membersihkan seluruh rumahnya untuk
menemukan dirham yang hilang, perempuan yag membela perkaranya di hadapan hakim
yang tidak adil, semua ini merupakan serangkaian kisah-kisah perempuan yang
hanya terdapat dalam Injil Lukas. Lukas
mengawali Injil ini dengan bahan-bahan yang tidak terdapat dalam Injil lain.
Dalam bagian pendahuluan yang begitu halus (Luk. 1: 1-4) tidak terlihat bahwa
ia mau membahas tentang perempuan. Tetapi, kemudian Elisabeth diperkenalkan
bersama dengan Zakharia. Sedangkan dalam kisah kelahiran Yesus, perenan
Ibu-Nya yang mengandung berkat kekuatan
Roh Allah. Maria sebagai ibu Yesus digambarkan sebagai hamba Allah yang setia
dan loyal terhadap kehendak Allah yang sesungguhnya tidak mudah di pahami dan
diterima akal manusia biasa. Maria mendapat tempat yang sangat terhormat dan
tempat yang cukup luas dalam pembahasan Lukas.[35]
2.7. Tafsiran
2.7.1. Keluran
1: 15-17; 2: 1-10
Pada
pasal 1: 15-17, dijelaskan tentang bidan
Pua dan Sifra yang dipercayakan untuk menolong perempuan-perempuan Ibrani yang
melahirkan. Sehingga, raja memerintahkan kepada mereka untuk membunuh setiap
anak laki-laki yang lahir.[36]
Harapan Firaun adalah untuk menyingkirkan orang-orang yang dirasanya tidak
berguna, namun hal ini tidak cukup untuk membuat kehidupan bangsa Israel
semakin sengsara; Firaun merasa bahwa ia harus mensahkan peraturan untuk
menyingkirkan mereka. Jadi ia memberitahukan kepada bidan-bidan Yahudi untuk
membunuh anak laki-laki orang Israel yang baru lahir. Dan di sinilah ayat
kegembiraan bermulai sebagai permulaan persiapan dari kitab Keluaran: “tetapi
bidan-bidan takut akan Allah dan tidak melakukan apa yang di perintahkan Firaun
kepada mereka, tetapi membiarkan anak laki-laki bangsa Israel tetap hidup”
(ay.17).[37]
Di sini bidan-bidan Yahudi mengambil inisiatif untuk melanggar titah Firaun
karena bidan-bidan itu lebih takut kepada Tuhan daripada kepada raja yang berkuasa
pada saat itu. Betapa mengagumkannya tindakan yang diambil bidan-bidan itu,
karena jelas resiko yang akan ditanggung sangat besar.
Keluaran
2:1-10 merupakan awal dari proses lahir hingga diadopsinya Musa dan bagaimana
musa menjadi bagian dalam kerajaan Mesir. George W.Coats membagi perikop ini ke
dalam 3 bagian. Yang pertama, (ay. 1-4) adalah peristiwa kelahiran Musa dan
pembuangan Musa ketika masih anak-anak. Kedua, (ay.5-6) adalah diselamatkan
oleh putri Firaun. Dan yang ketiga, (ay.
7-10), yaitu Musa diadosi oleh seorang inang penyusu. Hal ini perlu
diperhatikan karena strukturnya jelas sudah kita dapatkan dan perikop ini tidak
berfokus pada kelahiran anak itu sendiri. Tetapi kisahnya dimulai sejak anak
itu lahir. Tidak ada kwalitas keajaiban di dalam cerita ini, tidak ada berita,
tidak ada bintang untuk menunjukkan di mana sang bayi berada.[38]
Pada
pasal 2 ini diceritakan permulaan hidup Musa dan bagaimana ibunya, kakaknya,
serta putri Firaun berperan dalam kehidupan satu orang yang kelak akan menyelamatkan
bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Pada perikop ini ada sesuatu yang
merupakan kejanggalan namun kemungkinan memiliki makna. Hal itu adalah ‘tidak
bernama’, karena dari ayat ini baik nama ibu Musa, kakak perempuannya bahkan
hingga putri Firaun-pun tidak disebutkan siapa namanya. Kita tahu bahwa ayah
Musa bernama Amran, ibunya bernama Yokhebed dan kakak Musa adalah Miryam lalu
saudara Musa bernama Harun. Namun
di perikop ini tidak ada satupun nama yang disebutkan. Hal ini menurut Maxie Dunnam adalah untuk mempertahankan nama satu tokoh yaitu
nama Allah sendiri.[39]
Yang hebat dari
perikop ini adalah walaupun perikop ini terkesan anonim. Namun walaupun anonim
tetapi yang dilakukan oleh perempuan-prempuan dalam cerita ini sangat penting. Hal
ini kemungkinan besar adalah untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah bekerja
dan memakai orang-orang yang tidak dapat kita duga akan dipakai Allah untuk
meyatakan keselamatan sesuai rencana-Nya.[40]
Ibu Musa adalah seorang budak dan ia harus bekerja sepanjang
hari. Saya sulit untuk membayangkan bagaimana ia hidup pada masa itu, seorang
budak yang hamil dan terancam akan kehilangan anaknya jika ia melahirkan
seorang putra. Pada (ay. 2-3) dikatakan “setelah ia melihat bahwa anak itu
cantik, ... ” yang kita dapat di sini adalah respon pertama seorang ibu adalah
mencintai anaknya dan tidak ingin kehilangannya. Tetapi kemudian ia melihat
bahwa ‘anak itu cantik’, secara naluri ia tahu
bahwa anak itu spesial, Tuhan akan melakukan sesuatu yang spesial terhadap anak itu.[41]
Pada ayat 3-4 mulai masuk ke dalam permasalahan. Di
mana bayi itu tidak mungkin
lagi disembunyikan untuk waktu yang lebih lama lagi.
Yang indah dari cerita ini adalah pada ayat 2 di
mana sang ibu mampu menyembunyikan sang bayi selama 3
bulan tanpa ketahuan. Walaupun tidak dijelaskan secara lanjut bagaimana sang
ibu mampu menyembunyikan namun yang jelas anak itu mampu disembunyikan selama 3
bulan. Dalam hal ini, ibunya telah melanggar keputusan
Firaun untuk membunuh anak laki-laki yang baru lahir. Tindakan untuk menyembunyikan bayinya, tentu
sangat membutuhkan
keberanian, iman serta harapan yang sangat besar. Dan
Ibu Musa telah membuktikannya,
walaupun pada akhirnya ia harus mencari cara lain untuk meyelamatkan nyawa anak
tersebut.
Sehingga, ibunya mengambil sebuah peti pandan, dilapisnya dengan gala-gala dan
ter, lalu meletakan bayi itu ke dalamnya dan menaruhnya ke dalam sungai Nil
karena di sungai itulah putri Firaun mandi. Sehingga ibunya berharap dengan
penuh keyakinan supaya anak itu selamat dengan cara apapun. Dan Miryam,
kakaknya Musa mengawasi bayi itu (ay. 3-4).[42]
Putri
Firaun menemukan seorang bayi di sungai dan mengetahui bahwa bayi ini pasti
adalah bayi orang Ibrani. Walaupun putri Firaun tidak mungkin tidak mengetahui
niat ayahnya untuk menyingkirkan semua laki-laki kaum Yahudi. Namun putri
Firaun tetap menyelamatkan anak itu. Dan ketika bayi itu menangis, yang timbul
dari hati putri Firaun adalah belas kasihan dan empati terhadap bayi orang
Yahudi tersebut. Tidak berakhir sampai di situ saja. Putri Firaun juga mengupah
seorang inang susu untuk menyusui bayi tersebut. Uang tersebut tidak hanya
merupakan upah tetapi juga simbol untuk perasaan, emosi dan perhatian yang bisa
diberikan oleh seorang putri Firaun kepada sang bayi tersebut.[43]
Maka
dapat kita lihat bahwa puteri Firaun dan juga bidan Pua dan Sifra disamping
Yokhebed ibu Musa dan juga kakanya Miryam, adalah juga hamba Tuhan. Kelima
perempuan ini dipakai Allah untuk melindungi Musa. Laki-laki tidak disertakan
turut ambil bagian dalam kisah ini karena laki-laki hanya ingin menguasai dunia
dengan pertumpahan darah dan membebaskan diri sendiri. Karena itulah Musa
diletakan kepangkuan perempuan, diberi kuasa untuk menjaganya dengan tangannya
yang lemah. Karena dalam hal inilah akan telihat jelas bahwa Allah di atas
segalanya.[44]
2.7.2. Lukas
1: 26-38
Di satu sisi cerita ini adalah sebagai cerita yang berbeda dari cerita (Elizabeth
dan Zakharia). Mereka adalah pasangan yang telah lanjut usia yang dipilih Allah
untuk melahirkan Yohanes Pembabtis. Sedangkan cerita tentang kelahiran Yesus
adalah dari seorang perawan muda. Dalam hal ini dapat kita lihat inisiatif
Allah dan kasih karunia juga kuasa-Nya
bahwa, anugerah yang akan segera terjadi
akan mengungkapkan kasih Allah
terhadap dunia.[45]
Berita
tentang kelahiran Yesus, secara geografis
kelahiran Yesus (Nazareth adalah sebuah
kota kecil, dari bagian
terkecil [John.1: 46], di Selatan Galilea).
Namun, tidak seperti kisah sebelumnya, pemberitahuan datang bukan kepada laki-laki tetapi kepada
perempuan, yaitu langsung kepada Maria. Untuk ucapan malaikat kepada
Maria dalam (ay. 28), ahli-ahli
Taurat kemudian menambahkan
"terpujilah engkau di antara
perempuan!". Maria pada saat itu bertunangan dengan seorang
pria bernama Yusuf, keturunan Daud. Namun,
belum menikah (ay. 34) dan pada saat itu
bertunangan adalah sebagai hukum atau janji kesetiaan
untuk mengikat sebelum menikah. Hal ini biasanya
diatur berdasarkan kesepakatan kedua
keluarga. Ke desa terpencil inilah malaikat Gabriel
dikirim kepada perawan Maria. Allah
telah memberi kasih karunia-Nya gratis
dengan cara yang unik, yaitu dengan memilih dirinya sebagai ibu dari Anak-Nya.[46] Kita dapat melihat bahwa, Tuhan bekerja
melalui perempuan yang sudah tua dan bersuami dan juga melalui seorang perempuan yang masih gadis dan belum menikah.
Maka, Elizabeth dan
Maria akan memiliki anak dan kabar itu datang melalui pembawa kabar yang sama, yaitu malaikat
Gabriel. Seperti dalam (Luk. 1:5-25), dalam (ayat 28) ketika Malaikat
muncul, diikuti oleh
rasa takut, kabar baik,
keraguan, tanda, respon, dan kepergian malaikat.[47]
Maria secara spontan tentu kaget dan
gelisah oleh kata-kata malaikat tersebut. Dan ia
merasa tidak sesuai dengan perkataan itu. Seperti yang Lukas katakan,
bahwa ia menganggapi di dalam pikirannya (ay. 29).[48]
Kata "malaikat" adalah terjemahan dari anggelos
dalam bahasa Yunani, yang artinya "utusan".
Dalam hal ini terlihat jelas, bahwa Tuhan bekerja dengan berbagai cara untuk
menyatakan keselamatan bagi ciptaan-Nya. Dalam Injil Lukas (secara
khusus dalam perikop ini) memiliki tempat khusus untuk membahas tentang malaikat sebagai sarana Allah untuk mengumumkan, membimbing, dan melindungi. Meskipun tidak semua yang memahami demiakian.
Seperti halnya, Paulus yang meyakini Malaikat dengan negatif.
Dia menganggap bahwa Malaikat adalah makhluk bebas yang mampu melayani atau menentang
pekerjaan Allah.[49]
Sepanjang pasal 1-2, Maria digambarkan sebagai seorang perempuan yang
disukai Allah (ay. 30) karena beroleh kasih karunia. Allah
telah memberi kasih karunia-Nya
gratis dengan cara yang unik, yaitu dengan
memilih dirinya sebagai ibu dari
Anak-Nya.[50] Maria dikatakan bijaksana karena ia bertanya dalam
hatinya, apa arti perkataan Malaikat tersebut (ayat 29; 2:19,51). Dalam ayat
terakhir pada perikop ini (ay. 38), Maria digambarkan sebagai perempuan yang
taat, karena ia mengatakan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan;
jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Pesan Malaikat Gabriel kepada Maria, empat kali lipat: (1) dia akan memiliki seorang putra
diberi nama Yesus (ay. 31), (2) akan menjadi Anak Allah (2:7) dan (3) akan menempati tahta Daud, (4) kelahiran
anak akan dipengaruhi oleh keturunan membayangi Roh
Kudus, dan sebagai tanda bahwa ini akan terjadi. Gabriel juga memberitahu kepada Maria tentang kehamilan Elizabeth sanaknya
(ay. 36-37). Dan untuk menjamin
semua ini dapat dihubungkan terhadap kisah Abraham yang juga
dijanjikan Allah akan anak. Dan hal ini telah nyata. Karena
bagi Allah tidak ada yang mustahil (ay. 37).[51]
Pesan dari Allah yang
dibawa kepada Maria oleh malaikat
bukanlah perintah, tetapi adalah berupa pemberitahuan. Dan dalam (ay. 28) ini
jelas kita lihat peyerahan diri Maria sepenuhnya sesuai dengan pesan yang
dibawa Malaikat tersebut.[52] Respon
Maria dalam menanggapi pernyataan Malaikat tersebut telah dikatakan bahwa Maria terkejut (ay. 29), dan dalam (ay.
34) terdapat kata yang menunjukkan ketidaksiapan Maria karena menurutnya itu
tidak mungkin. Akan tetapi, hal ini harus terjadi karena tujuan Allah harus
tercapai. Bisa juga dikatakan bahwa semuanya tergantung pada Maria untuk saat
itu. Tetapi karena Roh Tuhan yang telah bekerja dalam hatinya, sehingga ia
mampu menerima apa yang dikatakan Malaikat tersebut padanya. Karena,
penyelamatan Allah harus terjadi bagi manusia.[53]
Sesungguhnya
ini bukanlah hal yang mudah, meskipun di satu sisi Maria adalah satu-satunya
perempuan yang dipilih Allah untuk menjadi ibu dari
Anak Allah. Tapi, di sisi lain Maria ditempatkan
dalam posisi yang sangat sulit. Karena
apa yang harus terjadi padanya tidak mudah untuk dipahami oleh masyarakat pada
saat itu dan tidak mudah juga untuk diterima.
Karena dapat kita bayangkan, seandainya itu terjadi ditengah-tengah
masyarakat saat ini. Dalam posisi sosial, tentu akan serba salah. Hanya dari
sudut pandang iman lah, hal ini akan bisa diterima. Setelah kata-kata
Maria, yaitu penyerahan dan pengabdiannya kepada Tuhan, Malaikat itu meninggalkan dia.[54] Dalam hal ini, secara keseluruhan
dapat kita lihat bahwa inilah yang terbaik dan dikatakan
sebagai panggilan kepada Maria dan yang responnya
sebagai hamba yang patuh dan taat
serta beriman yang teguh kepada Allah (1:38).[55]
2.8. Kesinambungan
Pembahasan dengan kedua Perikop
Dalam pembahasan ini,
saya melihat kesinambungannya dalam hal tipologi. Di mana, kisah Musa adalah
tipologi yang menunujuk kepada Yesus sendiri sang Juruselamat. Di dalam
Perjanjian Lama, secara khusus dalam perikop yang telah saya pilih, bahwa Musa
adalah penyelamat bagi umat Israel yang dalam perbudakan Mesir pada saat itu. Ia
dipakai dan dipilih Allah sebagai alat untuk membebaskan umat pilihan-Nya dari
perbudakan dan juga supaya keselamatan dinyatakan kepada umat Pilihan-Nya.
Akan tetapi, kita sering melihat Musa sebagai tokoh utama
dalam kisah peyelamatan ini, tentunya yang tidak terlepas dari kehendak Allah.
Tetapi, dibalik semua ini juga tidak terlepas dari peran perempuan yang telah
disebutkan dalam kisah ini. Artinya, Yokhebed (ibu Musa), Miryam (kakak
perempuan Musa) dan putri Firaun serta bidan Pua dan Sifra juga dipakai Allah
untuk menyatakan keselamatan kepada umat-Nya. Mereka dipakai Allah menjadi
orang-orang yang berperan sebagai penyelamat Musa sejak lahirnya, sehingga Musa
selamat dari pembunuhan yang diperintahkan raja Firaun pada waktu itu.
Hal ini juga berkesinambungan dengan kisah kelahiran Yesus
Sang Juruselamat Dunia di dalam Perjanjian Baru. Di mana, dalam keberdosaan
manusia ciptaan-Nya, dalam murka-Nya, Ia tetap ingin mendamaikan manusia dengan
Allah. Satu-satunya cara untuk perdamaian dan supaya manusia bisa bebas dari
dosa, Allah yang harus menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. Untuk menyatakan semua kehendak
Allah tersebutlah, sehingga Maria seorang manusia biasa dipakai-Nya dan
dipilih-Nya menjadi sarana terwujudnya keselamatan itu kepada seluruh umat
manusia di bumi. Karena Allah datang
sebagai manusia (duniawi) dalam diri Yesus, maka harus lahir dari seorang
perempuan selayaknya manusia biasa.
Dalam hal inilah kita dapat melihat, bahwa Yesus adalah
sebagai tokoh yang sangat ditonjolkan, karena sesungguhnya Dialah Sang
Juruselamat dunia yang telah mengorbankan nyawanya demi keampunan dosa banyak
orang. Meskipun semua itu tidak terlepas dari kehendak Allah yang dinyatakan di
dalam diri Yesus Kristus, yang kemudian dapat kita pahami dalam ke-Tri
Tunggalan Allah. Tetapi dalam hal ini kita dapat melihat juga peran Maria
sebagai Ibu dari Yesus secara duniawi. Ia dipakai Allah juga sebagai sarana untuk
menyatakan keselamatan. Bagaimana Maria menerima sesuai apa yang dikatakan
Malaikat kepadanya, Ia harus mengandung
dan akan melahirkan Juruselamat. Sebagai perempuan, bukanlah hal yang mudah
untuk menerima semuanya ini. Karena, seorang perempuan yang belum menikah akan
hamil dan akan melahirkan seorang bayi. Secara logika ini tidak akan bisa di
terima oleh rasio manusia. Dan bukan hal yang mudah untuk bisa diterima oleh
masyarakat sosial. Hanya karena keteguhan iman Maria juga karena kepatuhannya
kepada Tuhan sehingga ia mampu menerima sesuai apa yang dikatakan Malaikat
kepadanya dan mampu meyakini (Luk. 1:38).
III.
KESIMPULAN
1. Dalam
pembahasan ini terdapat hubungan tipologis antara Musa terhadap Yesus. Di mana,
Musa adalah penyelamat Umat Israel pada masa Perjanjian Lama dan Yesus adalah
penyelamat seluruh Umat Israel masa kini yaitu seluruh manusia yang percaya
kepada-Nya.
2. Dalam
sejarah keselamatan, kita sering langsung melihat kepada Musa dan juga Yesus
sendiri. Akan tetapi, melalui pembahasan ini dapat kita lihat bahwa ada perempuan-perempuan
yang berperan di balik layar, yang juga tidak kalah penting dalam sejarah
keselamtan.
3. Dalam
kisah Musa, Allah memakai bidan (Pua dan Sifra), Yokhebed (ibu Musa), Miryam
(kakak Musa), dan puteri Firaun, sebagai alat-Nya untuk menjaga dan memelihara
Musa dari pembunuhan. Sehingga, harus nyatalah keselamatan bagi Umat Israel.
4. Dalam
Perjanjian Baru yaitu kelahiran Yesus sebagai Juruselamat Dunia, Allah memakai
Maria dan Elishabed sebagai alat-Nya untuk
meyatakan keselamatan.
5. Allah
bekerja untuk menyatakan keselamatan kepada umat manusia dengan cara yang unik
dan hanya dilihat dan dipahami dengan kacamata iman.
DAFTAR
PUSTAKA
Barth,
Marie Claire,
2003
Pengantar Teologia
Feminis, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Bauer,
J.B.
1990
Exegetical Commentary
of The New Testament Vol.1, (ed. Horst Balz &
Gerhard Schneiger), Garand Rapids-Michigan
(WMB Publishing Company)
Bloommendaal, J.
2001 Pengantar kepada Perjanjian
Lama, Jakarta, (BPK Gunung Mulia)
Botterweck,G. Johannes,
1979
Theological Dictionary
of The Old Testamen, Grand Rapids-Michigan
(WMB Publishing Company)
Coats, George W.
1988 Moses – Heroic Man, Man of God, Sheffield, (JSOT Press)
Craddock, Fred. B.
1990 Interpretation
Luke, Lousiville-Kentucky, (John Knox Press)
Darmawijaya,
1991
Perempuan Dalam Perjanian
Baru, Yogyakarta (Lembaga Biblika
Indonesia-Kanisius)
Drane,
John,
2009 Memahami
Perjanjian Baru, Jakarta, (BPK Gunung Mulia)
Dunnam, Maxie,
1987 “Exodus” dalam Mastering the Old Testament: a book – by book
commentary by today’s great bible teachers (ed. Llyoyd J Ogilvie), Dallas (Word Publishing)
Dyrness, William,
1992
Tema-Tema
Dalam Teologi Perjanjian Lama,
Malang (Penerbit Gandum Mas)
Geldenhuys,
Norval ,
1960 Commentary
on the Gospel of Luke, Michigan-Grand Rapids (WMB Publishing Company)
George W.Coats,
1988 Moses – Heroic Man, Man of God, Sheffield (JSOT Press)
Goldenhuys,
Norval,
1960
Commentary
on the Gospel of Luke,
Michigan, Grand Rapids ishing Company)
Halley, Henry H.
1972 Pocket Bible Handbook,
Chicago (Moody Press)
J.D.
Doughlas,
2008 Ensiklopedia
Alkitab Masa Kini Jilid I A-N, Jakarta (Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF)
J.
D. Doughlas,
2008 Ensiklopedia
Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Jakarta (Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF)
Marxen,
Willi,
2009
Pengantar Perjanjian
Baru, Jakarta , (BPK Gunung Mulia)
Moeliono,
Anton M. dkk,
1988
Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta (Balai Pustaka)
Nollan,
John,
1989
Word Biblical
Commentary Luke 1-9; 20, Dallas –Texas, (Word
Books Publisher)
Paterson,
Robert M.
2009
Kitab Keluaran,
Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Philip
J.King & Stager, Lawrence E.
2010 Kehidupan orang Israel
Alkitabiah, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Rosin,
H.
2003
Tafsiran Aliktab Kitab
Keluaran, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Retnowati,
2004
Perempuan-Perempuan
dalam Alkitab, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Wahono,
Wismoady,
2000 Di
Sini Kutemukan – Petunjuk Mempelajari Dan Mengajarkan Alkitab, Jakarta (BPK
Gunung Mulia)
[1] Lih. N.P. Bratsiotis, “Ish
dan Ishshah” dalam Theological Dictionary of The Old Testamen, (ed.
G. Johannes Botterweck), WMB Publishing Company, Grand Rapids-Michigan 1979:
hlm. 222-224.
[2] Lih. J.B.Bauer, “Gune”
dalam Exegetical Commentary of The New Testament Vol.1, (ed. Horst Balz
& Gerhard Schneiger), WMB Publishing Company, Garand Rapids-Michigan 1990:
hlm. 266.
[3] Lih. Anton M. Moeliono,
dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1988: hlm.
705.
[4] Lih. N.P. Bratsiotis, “Ish
dan Ishshah” dalam Theological Dictionary of The Old Testamen, hlm.
224-225
[5] Lih. J.B.Bauer, “Gune”
dalam Exegetical Commentary of The New Testament Vol.1, hlm. 266.
[6] Lih. Norval
Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, WMB Publishing Company,
Michigan, Grand Rapids 1960: hlm. 75.
[7] Lih. Marie Claire Barth,
Pengantar Teologia Feminis, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2003: hlm. 9.
[8] Lih. G. Walters, “Selamat,
Keselamatan” dalam Ensiklopedi Alkitab
Masa Kini Jilid II M-Z, (peny.
J.D.Douglas), Yayasan Komunikasi
Bina Kasih/OMF, Jakarta 2008 Ke 9, hlm.375.
[10] Lih. William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian
Lama, Penerbit Gandum Mas, Malang 1992: hlm. 131.
[11] Lih. Retnowati, Perempuan-Perempuan
dalam Alkitab, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004: hlm. 3-4.
[12] Lih. Philip J.King &
Lawrence E.Stager, Kehidupan orang Israel Alkitabiah, BPK Gunung Mulia,
Jakarta 2010: hlm. 56-57.
[13] Lih. H. Oppusunggu,
“Perempuan” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, hlm.
240.
[14] Lih. Philip J.King &
Lawrence E.Stager, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, hlm. 54.
[15] Lih. Retnowati,
Perempuan-Perempuan dalam Alkitab, hlm. 24.
[16] Lih. Robert M. Paterson,
Kitab Keluaran, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009: hlm. 30.
[17] Lih. H. Rosin, Tafsiran
Aliktab Kitab Keluaran, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2003: 13-14.
[18] Lih. M.H.Simanungkalit,
“Bidan” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, (ed. J.D.Doughlas),
hlm. 190-191.
[19] Lih. H.A.Oppusunggu,
“Yokhebed” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (ed.
J.D.Doughlas), hlm. 620.
[20] Lih. J.A.Thompson,
“Inang Pengasuh” dalam Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini Jilid I, (ed. J.D.Doughlas), hlm. 434.
[21] Lih. M.Beeching,
“Miryam” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (ed.
J.D.Doughlas), hlm. 88.
[22] Lih. Darmawijaya, Perempuan
Dalam Perjanian Baru, Lembaga Biblika Indonesia-Kanisius, Yogyakarta 1991:
34-35.
[23] Lih. Retnowati, Perempuan-Perempuan dalam Alkitab, hlm.
27-30.
[24] Lih. H. Oppusunggu,
“Perempuan” dalam, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, (ed.
J.D.Douglas), hlm. 24.
[25] Lih. S.S. Smalley,
“Maria” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, hlm. 27.
[26] Lih. J.D. Doughlas,
“Elishabed” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I, hlm. 279.
[27] Lih. Fred.
B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 27.
[28] Lih. J.Bloommendaal, Pengantar
kepada Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001: hlm. 18-19.
[29] Lih. Wismoady Wahono, Di
Sini Kutemukan – Petunjuk Mempelajari Dan Mengajarkan Alkitab, BPK Gunung
Mulia, Jakarta 2000: hlm. 57-58
[30] Lih. Soelarso Sopater,
“Lukas Penulis Injil”, dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I,
(ed. J.D.Doughlas), Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta 2008: hlm. 654.
[31] Lih. John Drane, Memahami
Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009: hlm. 211-212.
[32] Lih. Willi Marxen, Pengantar
Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009: hlm 186.
[33] Lih. Norval Geldenhuys, Commentary
on the Gospel of Luke, WMB Publishing Company, Michigan-Grand Rapids 1960:
hlm. 30-35.
[34] Lih. Soelarso Sopater,
“Lukas Penulis Injil”, dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I, hlm.
653.
[35]Lih. Darmawijaya, Perempuan
Dalam Perjanjian Baru, Lembaga Biblika Ondonesia-Kanisius, Yogyakarta 1991:
3-34.
[36] Lih. H. Rosin, Tafsiran
Alkitab Kitab Keluaran, hlm. 14-15.
[37] Lih. Maxie
Dunnam,
“Exodus”
dalam Mastering
the Old Testament: a book – by book commentary by today’s great bible teachers (ed.
Llyoyd J Ogilvie), Word Publishing, Dallas 1987: hlm.34.
[44] Lih. H. Rosin, Tafsiran Alkitab Kitab Keluaran, hlm. 24.
[45] Lih. Fred.
B. Craddock, Interpretation Luke, John Knox Press, Lousiville-Kentucky
1990: hlm. 27
[46] Lih. Norval Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 75.
[47] Lih. Fred.
B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 27.
[48] Lih. Norval
Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 75.
[49] Lih. Fred.
B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 28.
[50] Lih. Norval
Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 75.
[51] Lih. Fred.
B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 28.
[52] Lih. Norval
Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 78.
[53] Lih. John Nollan, Word
Biblical Commentary Luke 1-9; 20, Word Books Publisher, Dallas-Texas 1989:
hlm. 57.
[54] Lih. Norval
Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 78.
[55] Lih. John Nollan, Word
Biblical Commentary Luke 1-9; 20, hlm. 40-41.
Komentar