PEREMPUAN JUGA JALAN KESELAMTAN
Hargai wanita ....................... sebab dia perbah menyelamtkan manusia
keluaran 1-2
keluaran 1-2
1.1. Etimologi
Perempuan dalam bahasa Ibrani berasal dari kata ishshah yang artinya istri, ibu atau perempuan.[1] Perempuan dalam bahasa Yunani berasal dari kata gune (gunh|) yang artinya perempuan, istri, ibu dan pengantin.[2] Perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB), bahwa kata “perempuan” berasal dari bahasa melayu yaitu dari kata “puan” yang artinya istri tuan atau nyonya.[3]
1.2. Terminologi
Dalam Perjanjian Lama, perbedaan penggunaan kata ishshah disebabkan karena dua hal yaitu, "perempuan, ibu atau istri". Penggunaan kata Ishshah berarti "perempuan" dipadankan dengan kata ish yang artinya laki-laki (laki-laki, perempuan). Ishshah gedholah artinya "seorang wanita kaya" (2 Raj. 4:8); ishshah zonah artinya "pelacur" (Yos. 2:1), seorang pelacur jadi istri (Hosea 1:2). Kata Ishshah yang berarti "istri" dipadankan dengan kata ish yang artinya “suami” (suami, istri). Kata Ishshah, yang artinya "tunangan" (Ul. 22:24) atau "pengantin" (Kej 29:21); nathan lo le ishshah yang artinya “ia memberikan (pembantunya) sebagai istri” (Kej. 30: 4,9).[4]
Dalam Perjanjian Baru, kata gune menunjuk kepada perempuan sebagai mitra sensual (Mt. 2:28; I Kor. 7:1; Wahyu 14:4) tanpa pertimbangan umur atau situasinya. Manusia lahir dari perempuan (Mat. 11:11; Luk. 7:28; Gal. 4:4). Gune juga memiliki arti sebagai istri dalam (Mat. 5:28, 31; 14:03, dan I Kor. 9:5). Istri yang tidak setia itu harus dihukum mati (Im. 20:10; Yoh. 8:3), mungkin kekhawatiran pada pengantin yang bermain serong, yang harus dirajam (Ul. 22:24). Memiliki arti juga sebagai ibu tiri dalam (I Kor. 5:1) dan kadang-kadang juga diartikan sebagai pengantin, artinya yang tetap di tujukan bagi perempuan yang telah menikah. Secara hukum seorang perempuan dianggap sudah menikah dari masa pertunangan, artinya sudah ada ikatan, hanya menunggu waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan (Kejadian 29:21; Mat 1:20,24.; Luk. 2:5).[5] Karena dalam status pertunangan juga telah merupakan kesepakatan kedua belah pihak keluarga laki-laki dan perempuan.[6]
Perempuan juga sering disebut dengan kata dan pengertian yang hampir sama yaitu kata “wanita” yang berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya elok ataupun cantik. Dalam percakapan atau dalam kehidupan sehari-hari kedua kata ini digunakan seolah-olah memiliki pengertian yang sama. Sehingga ketika kita ingin menggunakan istilah wanita maupun perempuan adalah seolah-olah sama saja. Akan tetapi pada dasarnya kedua kata ini memiliki kesamaan arti juga perbedaan arti yang mendalam. Dimana kata “perempuan” lebih menunjuk kepada wibawa sedangkan kata “wanita” lebih menunjuk kepada sesuatu yang terkesan sensual.[7]
1.3. Pemahaman Tentang Keselamatan
Dalam pembahasan ini, hubungan perempuan dengan sejarah keselamatan yaitu berangkat dari teks. Dimana, dalam teks yang telah saya tentukan terdapat peran para perempuan dalam sejarah keselamatan. Artinya, melalui teks ini, saya menemukan beberapa perempuan yang berperan dalam sejarah keselamatan umat manusia. Keselamatan yang saya maksudkan dalam pembahasan ini adalah keselamatan manusia secara universal. Meskipun kisah Musa bukanlah awal dari sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama, akan tetapi dalam tek inilah saya menemukan seberapa pentingnya peran para perempuan dalam rangka terwujudnya keselamatan tersebut kepada seluruh umat manusia. Dan dilanjutkan dalam Perjanjian Baru, yaitu kisah tentang kelahiran Yesus sendiri yang jadi tokoh utama dalam Perjanjian Baru dan disertai dengan perempuan-perempuan yang dipakai Allah untuk mewujudkan keselamatan tersebut.
Jadi, yang saya tekankan dalam pembahasan ini adalah peran perempuan dalam sejarah keselamatan yang universal dengan berangkat dari teks yang merupakan tipologi. Bukan saja hanya keselamatan umat Israel dari perbudakan Mesir atau keselamatan Musa dari pembunuhan sehingga menjadi seseorang yang dipakai Allah sebagai perpanjangan tangan-Nya. Akan tetapi, berkesinambungan dengan keselamatan dalam Perjanjian Baru dalam diri Yesus Kristus yang menjadi manusia, sehingga terjadi keselamatan secara universal. Dalam kedua kisah ini, saya menyoroti bahwa keselamatan itu tidak terlepas dari peran perempuan yang juga turut dipakai Allah dalam rangka mewujudkan keselamatan.
Sekilas terlihat bahwa konsep keselamatan dalam Keluaran dengan konsep keselamatan dalam Lukas berbeda, akan tetapi sebenarnya keselamatan itu sama saja. Dimana, kelepasan umat Israel dari perbudakan Mesir yang dipimpin oleh Musa adalah keselamatan atau kebebasan mereka dari dosa-dosanya. Dimana, umat Israel dibiarkan Tuhan terbuang karena mereka melakukan pelanggaran atau dosa-dosa, maka pembuangan itu adalah sebagai peringatan supaya umat Israel menyadarinya. Memang, dalam keterbelengguan itu adalah pengalaman yang nyata yang membutuhkan kebebasan yang mutlak.[8] Sama halnya dengan keselamatan dalam Lukas, dimana Allah mencari jalan untuk menyelamatkan manusia, sehingga ia harus menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus, supaya terwujudlah keselamatan yang universal bagi seluruh umat manusia.
1.3.1. Dalam Perjanjian Lama
Sejarah keselamatan dari Allah dalam Perjanjian Lama secara kronologi dari sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, dalam jaman Nuh, peristiwa pemanggilan Abraham, jaman Musa ketika Taurat diturunkan, dalam masa sebelum pembuangan dan masa pembuangan maupun setelahnya.
a. Sejarah keselamatan tidak dapat dipisahkan dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Fakta bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa menunjukkan bahwa manusia membutuhkan keselamatan dari Allah.
b. Pembuatan Bahtera pada zaman Nuh menunjukkan suatu perbuatan yang baik tentang rencana penyelamatan Allah. Namun walaupun ada rentang waktu seratus tahun lebih lamanya untuk bertobat, kesempatan ini tidak dimanfaatkan oleh manusia.
c. Abraham berasal dari garis keturunan Sem yang mempunyai latar belakang keluarga yang menyembah banyak dewa. Dapat dipastikan bahwa pilihan Allah pada Abraham dalam rangka mengemban rencana Allah lebih lanjut untuk masa yang akan datang, khususnya membangun bangsa Israel pastilah bersumber pada anugerah, dan inisiatif dari Allah sendiri untuk mewujudnyatakan keselamtan kepada umat Israel.[9]
d. Sejarah keselamatan dalam masa Musa ini terungkap dalam berbagai upacara keagamaan/ibadah di seputar Kemah Suci, maupun melalui hari raya-hari raya umat Israel.
e. Selanjutnya hari raya-hari raya Israel melukiskan tentang tindakan penyelamatan Allah di dalam waktu yang pernah mereka lalui. Paskah misalnya merupakan hari raya yang dilakukan sebagai peringatan terhadap tindakan penyelamatan yang dilakukan Allah terhadap Israel dari perbudakan Mesir. Dengan hari raya-hari raya tersebut, Israel memperingati bahwa Tuhan yang telah melepaskan mereka di masa lampau.[10]
f. Pada masa Yosua sampai saat sebelum pembuangan dapat dilihat tindakan keselamatan Allah kepada bangsa Israel dalam bentuk penaklukan dan pemberian tanah Kanaan serta kemenangan atas musuh-musuh mereka.
g. Bangsa Yahudi tinggal di Babel selama 70 tahun (2 Tawarikh 36:21). Allah ingat akan umat-Nya yang di pembuangan, melalui Koresy raja Persia, yang mengijinkan bangsa Yahudi kembali ke Yerusalem. Tugas mereka adalah membangun kembali Bait Allah (Ezra 2:8). Rakyat berbakti kepada Allah menurut Taurat yang diajar oleh Ezra, kemudian Ezra dan Nehemia mengadakan kebangunan rohani (Nehemia 8:2, 8; 9:1-3; 13).
1.3.2. Dalam Perjanjian Baru
Keselamatan dalam Perjanjian Baru adalah dalam diri Yesus sendiri yang telah menjadi manusia. Dimana ini adalah kesinambungan dari Perjanjian Lama, Allah ingin memperdamaikan manusia yang sempat kabur karena kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sehingga Allah mencari cara yang tepat bagaimana supaya manusia bisa menerima keselamatan tersebut. Satu-satunya jalan, Allah harus menjadi manusia dan sejajar dengan manusia. Sehingga, Ia mengauniakan Anak-Nya yang Tunggal di dalam diri Yesus Kristus sebgai jalan kesematan bagi seluruh umat manusia. Maka, kelahiran, kematian dan kebangkitan adalah wujud nyata dari keselamatan itu. Dengan lahirnya Yesus dari seorang perawan Maria, dan Ia mati untuk dosa-dosa seluruh umat manusia kemudian bangkit dari dari kematian untuk mengalahkan maut dan kematian. Sehingga, terwujudlah keselamatan yang universal bagi seluruh umat manusia.
1.4. Perempuan dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, “Perempuan” berasal dari bahasa Ibrani dari kata (isysya) yang artinya perempuan, ibu , istri. Sejak zaman Perjanjian Lama telah ditemukan beberapa peran penting serta posisi perempuan, yaitu:
1. Sebagai Penolong yang Sepadan
Hawa adalah perempuan pertama yang diciptakan Allah setelah Adam. Perempuan ini diciptakan sebagai penolong yang sepadan bagi Adam. Sepadan, artinya diberi tugas juga oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang sama pentingnya dengan Adam untuk mengelola dan memelihara bumi (Kej. 1:26-28).[11]
2. Sebagai Istri dan Ibu
Kaum perempuan mengambil peran yang sangat penting dalam konteks kehidupan keluarga. Baik sebagai ibu maupun sebagai istri, melahirkan anak adalah tugas yang mulia serta bertanggung jawab dalam pemeliharaan, pendisiplinan, membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. Selain itu, juga bertanggung jawab dalam penyediaan makanan dan pakaian yang dominan hasil kerajinan tangan sendiri. Selain itu, menimba air untuk keperluan rumah tangga juga untuk hewan ternak serta bekerja di ladang (2 Sam. 13:8; Kej. 24:11; Rut 2:21-23).[12] Dalam Hukum Ibrani jelas dapat kita lihat bahwa seorang ibu yang adalah seorang perempuan haruslah dihormati (Kel. 20:20), disegani (Im. 19:3) dan juga ditaati (Ul. 21:18).
Seorang ibu juga menghadiri upacara agamawi untuk ibadat dan membawa persembahan korban.
3. Sebagai Pewaris
Dalam hal pewarisan hak milik, apabila tidak ada pewaris laki-laki, maka perempuan juga dapat sebagai pewaris yang sah menjadi pemilik tanah dan dengan hak penuh pada dirinya sendiri.[13] Dan untuk menjamin bahwa tanah itu masih berada pada keluarga yang sama, tetapi dengan syarat harus menikah dengan laki-laki sekaumnya.[14]
4. Sebagai Hakim
Kisah Debora adalah ciri khas dari kepemimpinan seorang perempuan. Debora bertindak mendahului laki-laki dan bangkit sebagai ibu di Israel dan mengajak laki-laki berperang di bawah kepemimipinannya (Hak. 5:7).[15] Dalam kisah Debora ini ditunjukkan kepada kita bahwa pada zaman Hakim-hakim perempuan sudah sangat besar artinya bagi kepentingan bangsa-bangsa. Bersama-sama dengan laki-laki, perempuan dipanggil untuk menjawab panggilan-Nya dalam mensejahterakan bangsa.
5. Sebagai Nabiah
Hulda adalah seorang Nabiah di Yehuda pada masa raja Yosia yang berperan sebagai penyambung lidah Allah untuk menyampaikan pesan kepada umat-Nya (2 Raj. 22:14-20).
Akan tetapi, beberapa perempuan yang telah saya paparkan di atas adalah tokoh-tokoh perempuan yang terkenal. Maka sesuai perikop yang saya pilih dalam pembahasan ini (Keluaran 1: 15-17; 2: 1-10), ada beberapa perempuan yang disebutkan namanya di dalam Alkitab, tetapi tidak dibahas lebih lanjut megenai mereka dan perannya dalam sejarah keselamatan tidak begitu di tekankan. Maka di bawah ini saya akan membahas bagaimana peran mereka dalam sejarah keselamatan.
a. Keluaran 1: 15-17
Sifra adalah nama Ibrani yang artinya “kecantikan” sedangkan Pua adalah nama Ibrani yang artinya “sifat gilang-gemilang”.[16] Bidan Pua dan Sifra adalah bidan yang menolong perempuan Ibrani yang melahirkan. Mereka adalah perempuan yang bijaksana yang banyak pengetahuannya tentang segala hikmat orang Mesir (Kis. 7:22), juga ilmu obat-obatan dan ilmu bidan. Sehingga, orang Israel mempercayakan akan keahlian mereka. Berani menentang titah raja untuk membunuh setiap anak laki-laki, meskipun tidak berani menentang secara terang-terangan.[17] Dalam bahasa Ibrani meyalledet yang artinya “penolong dalam bersalin”. Bagi orang Ibrani, perempuan pada saat melahirkan sering membungkukkan badan dan bertopang pada dua batu yang disebut ovnayim (ay. 16). Atau bisa juga pada dua kursi bersalin yang mempunyai bentuk yang sama dengan batu yang tadi. Demikianlah Sifra dan Pua di sini berperan sebagai para medis atau disebut bidan, yang berperan untuk menolong para ibu yang melahirkan dan mengambil bayi yang baru lahir tersebut, memotong tali pusatnya, membasuh bayi itu dengan air, menggosoknya dengan garam dan membungkus dengan lampin (Yeh. 16:4).[18] Karena itulah tugas dan tanggungjawab seorang bidan pada saat itu. Dan hal ini tidak jauh berbeda dengan fungsi dan tugas para bidan saat ini.
b. Keluaran 2: 1-10
Dalam perikop ini, memang tidak disebutkan nama-nama perempuan yang berperan tersebut. Yang digunakan hanyalah kata penunjuk saja. Misalnya, dikatakan “seorang perempuan Lewi” yang menunjuk kepada Ibu Musa, kakaknya perempuan, inang penyusu dari perempuan Ibrani, dan puteri Firaun.
· Ibu Musa sekaligus Ibu Susu Musa
Ibu Musa yang bernama Yokhebed, di mana dalam bahasa Ibrani dari kata yokheved yang artinya “mulialah Yahweh” (Kel. 6: 19; Bil. 26:59).[19] Inang pengasuh atau inang penyusu bagi Musa yang disarankan oleh Miryam, yang adalah ibunya sendiri dan juga ibu Musa. Dalam bahasa Ibrani disebut meneqet. Perannya yaitu sejak kelahiran Musa, menyembunyikannya sebelum pada akhirnya tidak memungkinkan lagi untuk menyembunyikannya. Membuat peti yang dilapisi dengan ter dan gala-gala sebagai tempat bayi Musa untuk ditaruh ke dalam sungai Nil.[20]
· Kakak Musa
Kakak perempuan dari Musa yang bernama Miryam, asal kata dari Maria. Miryam adalah anak dari Amran dan Yokhebed, kakak dari Harun dan Musa (Bil. 26:59). Miryam berperan dalam pengawasan bayi (Musa) dan juga menyarankan ibunya sebagai inang penyusu bagi untuk Musa, setelah Musa diambil oleh Putri Firaun dari air (ay. 7). Ia juga menyandang gelar nabiah ketika ia memimpin perempuan-perempuan Israel memainkan alat-alat musik, menari dan menyanyikan nyanyian kemenangan untuk memeriahkan penyeberangan Laut Merah (Kel. 15:21). Ia meninggal di Kadesy dan dikuburkan di sana (Bil. 20:1).[21]
· Puteri Firaun
Puteri Firaun adalah orang yang mengambil Musa dari air oleh karena belas kasihannya terhadap bayi Musa. Lalu memberikan anak itu untuk disusui oleh seorang ibu pengasuh (yang sebenarnya adalah ibu dari bayi Musa). Hal ini terjadi karena peran Miryam sebagai kakaknya yang mengawasi Musa serta menawarkan ibunya untuk menjadi ibu susu Musa. Maka setelah beberapa waktu, setelah disapih, Musa kembali diserahkan kepada Puteri Firaun, sehingga Musa dibesarkan dan dididik dalam lingkungan istana. Sampai akhirnya ia dipakai Tuhan untuk menjadi alat untuk menyelamatkan umat Israel dari perbudakan Mesir.
Tindakan yang dilakukan para perempuan itu sangat menentukan perjalanan dan masa depan bangsa Israel. Mereka berperan dalam meyelamtkan anak laki-laki yang menjadi tokoh dalam sejarah keselamatan. Maka, para perempuan itu adalah tokoh juga yang sangat berperan penting dalam rangka terwujudnya keselamatan.
1.5. Perempuan dalam Perjanjian Baru
Kata “perempuan” dalam bahasa Yunani berasal dari kata (gune) yang artinya perempuan, istri, ibu, pengantin. Dalam Perjanjian Baru, dapat dilihat beberapa perempuan yang jarang diperbincangkan, akan tetapi ternyata mempunyai peran yang sangat penting, yaitu:
1. Maria Magdalena
Seorang perempuan yang taat dan sangat mengasihi Yesus dan ia sangat merasa kehilangan ketika kematian Yesus. Ia adalah perempuan dikaki salib Yesus (Yoh. 19:25). Ia juga adalah saksi pertama atas kebangkitan Yesus.
2. Hana
Hana adalah seorang nabiah di dalam Bait Allah dan mengenal jati diri bayi Yesus. Hana adalah perempuan terhormat dalam dalam kisah kanak-kanak Yesus. Sudah janda tetapi tidak pernah meninggalkan Bait Allah, beribadat dan berpuasa kepada Allah siang dan malam. Hana adalah gambaran perempuan yang saleh (Luk. 2:36-38).[22]
3. Maria dan Marta
Maria dan Marta adalah saudara Lazarus. Ketika Yesus pernah singgah ke rumah mereka, kedua perempuan ini mengambil sikap yang berbeda. Marta sibuk mempersiapkan jamuan yang istimewa bagi Yesus sedangkan Maria duduk tenang mendengarkan Yesus. Akan tetapi, kedua perempuan ini sama-sama mengambil sikap yang tepat sesuai dengan pemikiran masing-masing.[23]
Kitab-kitab Injil juga banyak memuat kisah-kisah tentang perjumpaan Yesus dengan perempuan, Yesus menyembuhkan, mengampuni dan mengajar perempuan. Dan perempuan juga memberikan pelayanan pada Yesus dengan mempersiapkan keperluan perjalanan,
memberikan tumpangan, memperlihatkan kasih, memperhatikan kuburan Yesus dan menjadi saksi mata pertama dalam kebangkitan Yesus.[24]
Selain perempuan-perempuan yang telah saya bahas di atas, saya akan membahas tentang Maria Ibu Yesus dan juga Elishabed.
· Maria
Nama Maria ini adalah bentuk Yunani untuk nama Miryam dalam Ibrani yang kemungkinan diturunkan dari nama Mesir: Marye yang artinya “dicinta”. Pada saat Malaikat memberitakan akan kelahiran Yesus, Maria saat itu dikatakan tinggal di Nazaret di daerah Galilea dan bertunangan dengan Yusuf (Luk. 1: 26-27). Ketaatan Maria dan penghormatannya kepada Yesus sehingga ia mau menerima dan meyakini apa yang dikatakan oleh Malaikat kepadanya. Dan dia disebut ibu dari Anak Allah, maka dia dikatakan juga seperti yang telah diucapkan Elishabeth, yaitu ”yang diberkati di antara semua permpuan”.[25]
· Elishabed
Nama ini berasal dari bahasa Ibrani “elisyeva” yang artinya Allah adalah sumpahku. Elishabed adalah ibu dari Yohanes Pembabtis dan sanak-saudara Maria (Luk. 1: 36).[26] Pasangan (Elizabeth dan Zakharia) adalah pasangan yang telah lanjut usia yang dipilih Allah untuk melahirkan Yohanes Pembabtis yang kelak dan yang telah dipersiapkan Allah untuk mepersiapkan jalan bagi Yesus.[27]
1.6. Pembimbing Khusus
1.6.1. Kitab Keluaran
Bidan-bidan yang membantu proses kelahiran Musa, ibu Musa, kakak Musa serta putri Firaun adalah para perempuan. Agaknya cukup sulit mengelakkan bahwa dalam Keluaran 1:15-2:1-10 yang berperan seutuhnya adalah kaum perempuan. Sepertinya sulit dipahami mengapa penulis perikop ini menuliskan kisah yang justru menitik-beratkan pada peran perempuan dalam masa pra-kelahiran Musa hingga kelahiran Musa dan masa depan Musa. Jika dilihat dari sumber apa yang berperan dalam perikop ini maka sumber Y dan E-lah yang berperan di dalamnya. Sumber Y atau yang biasa disebut dengan sumber Yahwist merupakan sumber tertua dari agama Israel. Karena menurut pendapat para ahli, sumber ini ditulis sekitar tahun 900-800 sM sedangkan sumber Elohist atau sumber E ditulis sekitar tahun 800-700 sM. Ada beberapa perbedaan yang membedakan sumber Y dan E di antaranya adalah masalah penyebutan nama Allah. Sumber Y menggunakan Yahweh sedangkan sumber E menggunakan nama Elohim.[28]
Tidak dapat dipisahkan yang mana ayat yang menggunakan sumber Y dan yang mana yang menggunakan sumber E karena di dalam Pentateukh dapat ditemukan naskah-naskah yang memiliki 2 sumber yang berkolaborasi. Sumber ini dapat disebut sebagai sumber YE. Disebut demikian karena begitu sulitnya perpaduan kedua sumber yang telah bergabung ini untuk dapat dipisahkan dan dibedakan.[29]
1.6.2. Injil Lukas
Tradisi Kristen mula-mula mengatakan bahwa Injil ketiga yaitu Injil Lukas ini dan juga Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh seorang non-Yahudi yang berbahasa Yunani. Ia seorang medis dan berpendidikan yang bernama Lukas (Yunani= Loukas).[30] Kanon Muratori dan Prakata anti-Marcion pada Injil Lukas, serta Irenaeus, Clemens dari Aleksandria, Origenes dan Tertulianus, mengatakan bahwa Lukaslah penulis dari kitab ini. Injil Lukas merupakan jilid pertama dari dua jilid sejarah mengenai kekristenan mula-mula yaitu Kisah Para Rasul. Menurut Eusebius, Lukas berasal dari Antiokhia di Siria dan salah satu naskah kuno Kisah Para Rasul memberitahu secara tersirat bahwa ia berada di Antiokhia (Kis. 11:28).[31]
Dalam penulisan Injil Lukas secara keseluruhan, Lukas menggunakan sumber Markus, Q dan sumber Lukas sendiri.[32] Karena Lukas juga menggunakan juga sumber Markus sebagai salah satu narasumbernya khususnya pada pasal 1-13, maka penulisan kitab ini dilakukan setelah penyusunan Injil Markus. Oleh karena itu tidak dapat dipastikan kapan waktu yang tepat penulisan kitab ini. Karena isi kitab ini ada juga menyangkut jatuhnya Yerusalem ke tangan Roma (Luk. 21:5-24), maka kitab ini ditulis setelah tahun 70 M. Dan berdasarkan beberapa pendapat dan keterangan, lebih tepatlah dikatakan bahwa penulisan kitab ini adalah sekitar tahun 60 M.[33]
Dalam Injil Lukas terdapat beberapa hal penting yaitu cerita-cerita tentang Yesus yang tidak terdapat dalam Injil lain. Seperti beberapa perumpamaan Yesus yang penting yang hanya terdapat dalam Injil ini. Juga mengenai gaya bahasa yang memenuhi syarat-syarat sastra dan bahasa Yunaninya yang pasih juga sangat mempengaruhi untuk membuat Injil ini semakin menarik.[34]
Akan tetapi, perikop ini (Luk. 1: 26-38) berasal dari sumber Lukas sendiri. Dan bahan khas Lukas ini terdapat beberapa perikop yang mempunyai pandangan positif sekali terhadap peranan perempuan. Pasal 1-2 mencerminkan pandangan yang amat mendalam tentang misteri kehidupan baik dalam tradisi Yahudi maupun dalam gereja yang di dalamnya menyangkut peranan perempuan. Kebesaran tentang seorang janda yang diampuni dosanya, Maria dan Marta saudara Lazarus, penyembuhan perempuan yang lumpuh, perempuan yang membersihkan seluruh rumahnya untuk menemukan dirham yang hilang, perempuan yag membela perkaranya di hadapan hakim yang tidak adil, semua ini merupakan serangkaian kisah-kisah perempuan yang hanya terdapat dalam Injil Lukas. Lukas mengawali Injil ini dengan bahan-bahan yang tidak terdapat dalam Injil lain. Dalam bagian pendahuluan yang begitu halus (Luk. 1: 1-4) tidak terlihat bahwa ia mau membahas tentang perempuan. Tetapi, kemudian Elisabeth diperkenalkan bersama dengan Zakharia. Sedangkan dalam kisah kelahiran Yesus, perenan Ibu-Nya yang mengandung berkat kekuatan Roh Allah. Maria sebagai ibu Yesus digambarkan sebagai hamba Allah yang setia dan loyal terhadap kehendak Allah yang sesungguhnya tidak mudah di pahami dan diterima akal manusia biasa. Maria mendapat tempat yang sangat terhormat dan tempat yang cukup luas dalam pembahasan Lukas.[35]
1.7. Tafsiran
1.7.1. Keluran 1: 15-17; 2: 1-10
Pada pasal 1: 15-17, dijelaskan tentang bidan Pua dan Sifra yang dipercayakan untuk menolong perempuan-perempuan Ibrani yang melahirkan. Sehingga, raja memerintahkan kepada mereka untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir.[36] Harapan Firaun adalah untuk menyingkirkan orang-orang yang dirasanya tidak berguna, namun hal ini tidak cukup untuk membuat kehidupan bangsa Israel semakin sengsara; Firaun merasa bahwa ia harus mensahkan peraturan untuk menyingkirkan mereka. Jadi ia memberitahukan kepada bidan-bidan Yahudi untuk membunuh anak laki-laki orang Israel yang baru lahir. Dan di sinilah ayat kegembiraan bermulai sebagai permulaan persiapan dari kitab Keluaran: “tetapi bidan-bidan takut akan Allah dan tidak melakukan apa yang di perintahkan Firaun kepada mereka, tetapi membiarkan anak laki-laki bangsa Israel tetap hidup” (ay.17).[37] Di sini bidan-bidan Yahudi mengambil inisiatif untuk melanggar titah Firaun karena bidan-bidan itu lebih takut kepada Tuhan daripada kepada raja yang berkuasa pada saat itu. Betapa mengagumkannya tindakan yang diambil bidan-bidan itu, karena jelas resiko yang akan ditanggung sangat besar.
Keluaran 2:1-10 merupakan awal dari proses lahir hingga diadopsinya Musa dan bagaimana musa menjadi bagian dalam kerajaan Mesir. George W.Coats membagi perikop ini ke dalam 3 bagian. Yang pertama, (ay. 1-4) adalah peristiwa kelahiran Musa dan pembuangan Musa ketika masih anak-anak. Kedua, (ay.5-6) adalah diselamatkan oleh putri Firaun. Dan yang ketiga, (ay. 7-10), yaitu Musa diadosi oleh seorang inang penyusu. Hal ini perlu diperhatikan karena strukturnya jelas sudah kita dapatkan dan perikop ini tidak berfokus pada kelahiran anak itu sendiri. Tetapi kisahnya dimulai sejak anak itu lahir. Tidak ada kwalitas keajaiban di dalam cerita ini, tidak ada berita, tidak ada bintang untuk menunjukkan di mana sang bayi berada.[38]
Pada pasal 2 ini diceritakan permulaan hidup Musa dan bagaimana ibunya, kakaknya, serta putri Firaun berperan dalam kehidupan satu orang yang kelak akan menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Pada perikop ini ada sesuatu yang merupakan kejanggalan namun kemungkinan memiliki makna. Hal itu adalah ‘tidak bernama’, karena dari ayat ini baik nama ibu Musa, kakak perempuannya bahkan hingga putri Firaun-pun tidak disebutkan siapa namanya. Kita tahu bahwa ayah Musa bernama Amran, ibunya bernama Yokhebed dan kakak Musa adalah Miryam lalu saudara Musa bernama Harun. Namun di perikop ini tidak ada satupun nama yang disebutkan. Hal ini menurut Maxie Dunnam adalah untuk mempertahankan nama satu tokoh yaitu nama Allah sendiri.[39]
Yang hebat dari perikop ini adalah walaupun perikop ini terkesan anonim. Namun walaupun anonim tetapi yang dilakukan oleh perempuan-prempuan dalam cerita ini sangat penting. Hal ini kemungkinan besar adalah untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah bekerja dan memakai orang-orang yang tidak dapat kita duga akan dipakai Allah untuk meyatakan keselamatan sesuai rencana-Nya.[40]
Ibu Musa adalah seorang budak dan ia harus bekerja sepanjang hari. Saya sulit untuk membayangkan bagaimana ia hidup pada masa itu, seorang budak yang hamil dan terancam akan kehilangan anaknya jika ia melahirkan seorang putra. Pada (ay. 2-3) dikatakan “setelah ia melihat bahwa anak itu cantik, ... ” yang kita dapat di sini adalah respon pertama seorang ibu adalah mencintai anaknya dan tidak ingin kehilangannya. Tetapi kemudian ia melihat bahwa ‘anak itu cantik’, secara naluri ia tahu bahwa anak itu spesial, Tuhan akan melakukan sesuatu yang spesial terhadap anak itu.[41] Pada ayat 3-4 mulai masuk ke dalam permasalahan. Di mana bayi itu tidak mungkin lagi disembunyikan untuk waktu yang lebih lama lagi.
Yang indah dari cerita ini adalah pada ayat 2 di mana sang ibu mampu menyembunyikan sang bayi selama 3 bulan tanpa ketahuan. Walaupun tidak dijelaskan secara lanjut bagaimana sang ibu mampu menyembunyikan namun yang jelas anak itu mampu disembunyikan selama 3 bulan. Dalam hal ini, ibunya telah melanggar keputusan Firaun untuk membunuh anak laki-laki yang baru lahir. Tindakan untuk menyembunyikan bayinya, tentu sangat membutuhkan keberanian, iman serta harapan yang sangat besar. Dan Ibu Musa telah membuktikannya, walaupun pada akhirnya ia harus mencari cara lain untuk meyelamatkan nyawa anak tersebut. Sehingga, ibunya mengambil sebuah peti pandan, dilapisnya dengan gala-gala dan ter, lalu meletakan bayi itu ke dalamnya dan menaruhnya ke dalam sungai Nil karena di sungai itulah putri Firaun mandi. Sehingga ibunya berharap dengan penuh keyakinan supaya anak itu selamat dengan cara apapun. Dan Miryam, kakaknya Musa mengawasi bayi itu (ay. 3-4).[42]
Putri Firaun menemukan seorang bayi di sungai dan mengetahui bahwa bayi ini pasti adalah bayi orang Ibrani. Walaupun putri Firaun tidak mungkin tidak mengetahui niat ayahnya untuk menyingkirkan semua laki-laki kaum Yahudi. Namun putri Firaun tetap menyelamatkan anak itu. Dan ketika bayi itu menangis, yang timbul dari hati putri Firaun adalah belas kasihan dan empati terhadap bayi orang Yahudi tersebut. Tidak berakhir sampai di situ saja. Putri Firaun juga mengupah seorang inang susu untuk menyusui bayi tersebut. Uang tersebut tidak hanya merupakan upah tetapi juga simbol untuk perasaan, emosi dan perhatian yang bisa diberikan oleh seorang putri Firaun kepada sang bayi tersebut.[43]
Maka dapat kita lihat bahwa puteri Firaun dan juga bidan Pua dan Sifra disamping Yokhebed ibu Musa dan juga kakanya Miryam, adalah juga hamba Tuhan. Kelima perempuan ini dipakai Allah untuk melindungi Musa. Laki-laki tidak disertakan turut ambil bagian dalam kisah ini karena laki-laki hanya ingin menguasai dunia dengan pertumpahan darah dan membebaskan diri sendiri. Karena itulah Musa diletakan kepangkuan perempuan, diberi kuasa untuk menjaganya dengan tangannya yang lemah. Karena dalam hal inilah akan telihat jelas bahwa Allah di atas segalanya.[44]
1.7.2. Lukas 1: 26-38
Di satu sisi cerita ini adalah sebagai cerita yang berbeda dari cerita (Elizabeth dan Zakharia). Mereka adalah pasangan yang telah lanjut usia yang dipilih Allah untuk melahirkan Yohanes Pembabtis. Sedangkan cerita tentang kelahiran Yesus adalah dari seorang perawan muda. Dalam hal ini dapat kita lihat inisiatif Allah dan kasih karunia juga kuasa-Nya bahwa, anugerah yang akan segera terjadi akan mengungkapkan kasih Allah terhadap dunia.[45]
Berita tentang kelahiran Yesus, secara geografis kelahiran Yesus (Nazareth adalah sebuah kota kecil, dari bagian terkecil [John.1: 46], di Selatan Galilea). Namun, tidak seperti kisah sebelumnya, pemberitahuan datang bukan kepada laki-laki tetapi kepada perempuan, yaitu langsung kepada Maria. Untuk ucapan malaikat kepada Maria dalam (ay. 28), ahli-ahli Taurat kemudian menambahkan "terpujilah engkau di antara perempuan!". Maria pada saat itu bertunangan dengan seorang pria bernama Yusuf, keturunan Daud. Namun, belum menikah (ay. 34) dan pada saat itu bertunangan adalah sebagai hukum atau janji kesetiaan untuk mengikat sebelum menikah. Hal ini biasanya diatur berdasarkan kesepakatan kedua keluarga. Ke desa terpencil inilah malaikat Gabriel dikirim kepada perawan Maria. Allah telah memberi kasih karunia-Nya gratis dengan cara yang unik, yaitu dengan memilih dirinya sebagai ibu dari Anak-Nya.[46] Kita dapat melihat bahwa, Tuhan bekerja melalui perempuan yang sudah tua dan bersuami dan juga melalui seorang perempuan yang masih gadis dan belum menikah.
Maka, Elizabeth dan Maria akan memiliki anak dan kabar itu datang melalui pembawa kabar yang sama, yaitu malaikat Gabriel. Seperti dalam (Luk. 1:5-25), dalam (ayat 28) ketika Malaikat muncul, diikuti oleh rasa takut, kabar baik, keraguan, tanda, respon, dan kepergian malaikat.[47] Maria secara spontan tentu kaget dan gelisah oleh kata-kata malaikat tersebut. Dan ia merasa tidak sesuai dengan perkataan itu. Seperti yang Lukas katakan, bahwa ia menganggapi di dalam pikirannya (ay. 29).[48] Kata "malaikat" adalah terjemahan dari anggelos dalam bahasa Yunani, yang artinya "utusan". Dalam hal ini terlihat jelas, bahwa Tuhan bekerja dengan berbagai cara untuk menyatakan keselamatan bagi ciptaan-Nya. Dalam Injil Lukas (secara khusus dalam perikop ini) memiliki tempat khusus untuk membahas tentang malaikat sebagai sarana Allah untuk mengumumkan, membimbing, dan melindungi. Meskipun tidak semua yang memahami demiakian. Seperti halnya, Paulus yang meyakini Malaikat dengan negatif. Dia menganggap bahwa Malaikat adalah makhluk bebas yang mampu melayani atau menentang pekerjaan Allah.[49]
Sepanjang pasal 1-2, Maria digambarkan sebagai seorang perempuan yang disukai Allah (ay. 30) karena beroleh kasih karunia. Allah telah memberi kasih karunia-Nya gratis dengan cara yang unik, yaitu dengan memilih dirinya sebagai ibu dari Anak-Nya.[50] Maria dikatakan bijaksana karena ia bertanya dalam hatinya, apa arti perkataan Malaikat tersebut (ayat 29; 2:19,51). Dalam ayat terakhir pada perikop ini (ay. 38), Maria digambarkan sebagai perempuan yang taat, karena ia mengatakan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Pesan Malaikat Gabriel kepada Maria, empat kali lipat: (1) dia akan memiliki seorang putra diberi nama Yesus (ay. 31), (2) akan menjadi Anak Allah (2:7) dan (3) akan menempati tahta Daud, (4) kelahiran anak akan dipengaruhi oleh keturunan membayangi Roh Kudus, dan sebagai tanda bahwa ini akan terjadi. Gabriel juga memberitahu kepada Maria tentang kehamilan Elizabeth sanaknya (ay. 36-37). Dan untuk menjamin semua ini dapat dihubungkan terhadap kisah Abraham yang juga dijanjikan Allah akan anak. Dan hal ini telah nyata. Karena bagi Allah tidak ada yang mustahil (ay. 37).[51]
Pesan dari Allah yang dibawa kepada Maria oleh malaikat bukanlah perintah, tetapi adalah berupa pemberitahuan. Dan dalam (ay. 28) ini jelas kita lihat peyerahan diri Maria sepenuhnya sesuai dengan pesan yang dibawa Malaikat tersebut.[52] Respon Maria dalam menanggapi pernyataan Malaikat tersebut telah dikatakan bahwa Maria terkejut (ay. 29), dan dalam (ay. 34) terdapat kata yang menunjukkan ketidaksiapan Maria karena menurutnya itu tidak mungkin. Akan tetapi, hal ini harus terjadi karena tujuan Allah harus tercapai. Bisa juga dikatakan bahwa semuanya tergantung pada Maria untuk saat itu. Tetapi karena Roh Tuhan yang telah bekerja dalam hatinya, sehingga ia mampu menerima apa yang dikatakan Malaikat tersebut padanya. Karena, penyelamatan Allah harus terjadi bagi manusia.[53]
Sesungguhnya ini bukanlah hal yang mudah, meskipun di satu sisi Maria adalah satu-satunya perempuan yang dipilih Allah untuk menjadi ibu dari Anak Allah. Tapi, di sisi lain Maria ditempatkan dalam posisi yang sangat sulit. Karena apa yang harus terjadi padanya tidak mudah untuk dipahami oleh masyarakat pada saat itu dan tidak mudah juga untuk diterima. Karena dapat kita bayangkan, seandainya itu terjadi ditengah-tengah masyarakat saat ini. Dalam posisi sosial, tentu akan serba salah. Hanya dari sudut pandang iman lah, hal ini akan bisa diterima. Setelah kata-kata Maria, yaitu penyerahan dan pengabdiannya kepada Tuhan, Malaikat itu meninggalkan dia.[54] Dalam hal ini, secara keseluruhan dapat kita lihat bahwa inilah yang terbaik dan dikatakan sebagai panggilan kepada Maria dan yang responnya sebagai hamba yang patuh dan taat serta beriman yang teguh kepada Allah (1:38).[55]
1.8. Kesinambungan Pembahasan dengan kedua Perikop
Dalam pembahasan ini, saya melihat kesinambungannya dalam hal tipologi. Di mana, kisah Musa adalah tipologi yang menunujuk kepada Yesus sendiri sang Juruselamat. Di dalam Perjanjian Lama, secara khusus dalam perikop yang telah saya pilih, bahwa Musa adalah penyelamat bagi umat Israel yang dalam perbudakan Mesir pada saat itu. Ia dipakai dan dipilih Allah sebagai alat untuk membebaskan umat pilihan-Nya dari perbudakan dan juga supaya keselamatan dinyatakan kepada umat Pilihan-Nya.
Akan tetapi, kita sering melihat Musa sebagai tokoh utama dalam kisah peyelamatan ini, tentunya yang tidak terlepas dari kehendak Allah. Tetapi, dibalik semua ini juga tidak terlepas dari peran perempuan yang telah disebutkan dalam kisah ini. Artinya, Yokhebed (ibu Musa), Miryam (kakak perempuan Musa) dan putri Firaun serta bidan Pua dan Sifra juga dipakai Allah untuk menyatakan keselamatan kepada umat-Nya. Mereka dipakai Allah menjadi orang-orang yang berperan sebagai penyelamat Musa sejak lahirnya, sehingga Musa selamat dari pembunuhan yang diperintahkan raja Firaun pada waktu itu.
Hal ini juga berkesinambungan dengan kisah kelahiran Yesus Sang Juruselamat Dunia di dalam Perjanjian Baru. Di mana, dalam keberdosaan manusia ciptaan-Nya, dalam murka-Nya, Ia tetap ingin mendamaikan manusia dengan Allah. Satu-satunya cara untuk perdamaian dan supaya manusia bisa bebas dari dosa, Allah yang harus menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. Untuk menyatakan semua kehendak Allah tersebutlah, sehingga Maria seorang manusia biasa dipakai-Nya dan dipilih-Nya menjadi sarana terwujudnya keselamatan itu kepada seluruh umat manusia di bumi. Karena Allah datang sebagai manusia (duniawi) dalam diri Yesus, maka harus lahir dari seorang perempuan selayaknya manusia biasa.
Dalam hal inilah kita dapat melihat, bahwa Yesus adalah sebagai tokoh yang sangat ditonjolkan, karena sesungguhnya Dialah Sang Juruselamat dunia yang telah mengorbankan nyawanya demi keampunan dosa banyak orang. Meskipun semua itu tidak terlepas dari kehendak Allah yang dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus, yang kemudian dapat kita pahami dalam ke-Tri Tunggalan Allah. Tetapi dalam hal ini kita dapat melihat juga peran Maria sebagai Ibu dari Yesus secara duniawi. Ia dipakai Allah juga sebagai sarana untuk menyatakan keselamatan. Bagaimana Maria menerima sesuai apa yang dikatakan Malaikat kepadanya, Ia harus mengandung dan akan melahirkan Juruselamat. Sebagai perempuan, bukanlah hal yang mudah untuk menerima semuanya ini. Karena, seorang perempuan yang belum menikah akan hamil dan akan melahirkan seorang bayi. Secara logika ini tidak akan bisa di terima oleh rasio manusia. Dan bukan hal yang mudah untuk bisa diterima oleh masyarakat sosial. Hanya karena keteguhan iman Maria juga karena kepatuhannya kepada Tuhan sehingga ia mampu menerima sesuai apa yang dikatakan Malaikat kepadanya dan mampu meyakini (Luk. 1:38).
II. KESIMPULAN
1. Dalam pembahasan ini terdapat hubungan tipologis antara Musa terhadap Yesus. Di mana, Musa adalah penyelamat Umat Israel pada masa Perjanjian Lama dan Yesus adalah penyelamat seluruh Umat Israel masa kini yaitu seluruh manusia yang percaya kepada-Nya.
2. Dalam sejarah keselamatan, kita sering langsung melihat kepada Musa dan juga Yesus sendiri. Akan tetapi, melalui pembahasan ini dapat kita lihat bahwa ada perempuan-perempuan yang berperan di balik layar, yang juga tidak kalah penting dalam sejarah keselamtan.
3. Dalam kisah Musa, Allah memakai bidan (Pua dan Sifra), Yokhebed (ibu Musa), Miryam (kakak Musa), dan puteri Firaun, sebagai alat-Nya untuk menjaga dan memelihara Musa dari pembunuhan. Sehingga, harus nyatalah keselamatan bagi Umat Israel.
4. Dalam Perjanjian Baru yaitu kelahiran Yesus sebagai Juruselamat Dunia, Allah memakai Maria dan Elishabed sebagai alat-Nya untuk meyatakan keselamatan.
5. Allah bekerja untuk menyatakan keselamatan kepada umat manusia dengan cara yang unik dan hanya dilihat dan dipahami dengan kacamata iman.
DAFTAR PUSTAKA
Barth, Marie Claire,
2003 Pengantar Teologia Feminis, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Bauer, J.B.
1990 Exegetical Commentary of The New Testament Vol.1, (ed. Horst Balz & Gerhard Schneiger), Garand Rapids-Michigan (WMB Publishing Company)
Bloommendaal, J.
2001 Pengantar kepada Perjanjian Lama, Jakarta, (BPK Gunung Mulia)
Botterweck,G. Johannes,
1979 Theological Dictionary of The Old Testamen, Grand Rapids-Michigan (WMB Publishing Company)
Coats, George W.
1988 Moses – Heroic Man, Man of God, Sheffield, (JSOT Press)
Craddock, Fred. B.
1990 Interpretation Luke, Lousiville-Kentucky, (John Knox Press)
Darmawijaya,
1991 Perempuan Dalam Perjanian Baru, Yogyakarta (Lembaga Biblika Indonesia-Kanisius)
Drane, John,
2009 Memahami Perjanjian Baru, Jakarta, (BPK Gunung Mulia)
Dunnam, Maxie,
1987 “Exodus” dalam Mastering the Old Testament: a book – by book commentary by today’s great bible teachers (ed. Llyoyd J Ogilvie), Dallas (Word Publishing)
Dyrness, William,
1992 Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang (Penerbit Gandum Mas)
Geldenhuys, Norval ,
1960 Commentary on the Gospel of Luke, Michigan-Grand Rapids (WMB Publishing Company)
George W.Coats,
1988 Moses – Heroic Man, Man of God, Sheffield (JSOT Press)
Goldenhuys, Norval,
1960 Commentary on the Gospel of Luke, Michigan, Grand Rapids ishing Company)
Halley, Henry H.
1972 Pocket Bible Handbook, Chicago (Moody Press)
J.D. Doughlas,
2008 Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I A-N, Jakarta (Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF)
J. D. Doughlas,
2008 Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Jakarta (Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF)
Marxen, Willi,
2009 Pengantar Perjanjian Baru, Jakarta , (BPK Gunung Mulia)
Moeliono, Anton M. dkk,
1988 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta (Balai Pustaka)
Nollan, John,
1989 Word Biblical Commentary Luke 1-9; 20, Dallas –Texas, (Word Books Publisher)
Paterson, Robert M.
2009 Kitab Keluaran, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Philip J.King & Stager, Lawrence E.
2010 Kehidupan orang Israel Alkitabiah, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Rosin, H.
2003 Tafsiran Aliktab Kitab Keluaran, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Retnowati,
2004 Perempuan-Perempuan dalam Alkitab, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
Wahono, Wismoady,
2000 Di Sini Kutemukan – Petunjuk Mempelajari Dan Mengajarkan Alkitab, Jakarta (BPK Gunung Mulia)
[1] Lih. N.P. Bratsiotis, “Ish dan Ishshah” dalam Theological Dictionary of The Old Testamen, (ed. G. Johannes Botterweck), WMB Publishing Company, Grand Rapids-Michigan 1979: hlm. 222-224.
[2] Lih. J.B.Bauer, “Gune” dalam Exegetical Commentary of The New Testament Vol.1, (ed. Horst Balz & Gerhard Schneiger), WMB Publishing Company, Garand Rapids-Michigan 1990: hlm. 266.
[3] Lih. Anton M. Moeliono, dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1988: hlm. 705.
[4] Lih. N.P. Bratsiotis, “Ish dan Ishshah” dalam Theological Dictionary of The Old Testamen, hlm. 224-225
[5] Lih. J.B.Bauer, “Gune” dalam Exegetical Commentary of The New Testament Vol.1, hlm. 266.
[6] Lih. Norval Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, WMB Publishing Company, Michigan, Grand Rapids 1960: hlm. 75.
[7] Lih. Marie Claire Barth, Pengantar Teologia Feminis, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2003: hlm. 9.
[8] Lih. G. Walters, “Selamat, Keselamatan” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, (peny. J.D.Douglas), Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta 2008 Ke 9, hlm.375.
[10] Lih. William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Penerbit Gandum Mas, Malang 1992: hlm. 131.
[11] Lih. Retnowati, Perempuan-Perempuan dalam Alkitab, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004: hlm. 3-4.
[12] Lih. Philip J.King & Lawrence E.Stager, Kehidupan orang Israel Alkitabiah, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2010: hlm. 56-57.
[13] Lih. H. Oppusunggu, “Perempuan” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, hlm. 240.
[14] Lih. Philip J.King & Lawrence E.Stager, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, hlm. 54.
[15] Lih. Retnowati, Perempuan-Perempuan dalam Alkitab, hlm. 24.
[16] Lih. Robert M. Paterson, Kitab Keluaran, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009: hlm. 30.
[17] Lih. H. Rosin, Tafsiran Aliktab Kitab Keluaran, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2003: 13-14.
[18] Lih. M.H.Simanungkalit, “Bidan” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, (ed. J.D.Doughlas), hlm. 190-191.
[19] Lih. H.A.Oppusunggu, “Yokhebed” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (ed. J.D.Doughlas), hlm. 620.
[20] Lih. J.A.Thompson, “Inang Pengasuh” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, (ed. J.D.Doughlas), hlm. 434.
[21] Lih. M.Beeching, “Miryam” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (ed. J.D.Doughlas), hlm. 88.
[22] Lih. Darmawijaya, Perempuan Dalam Perjanian Baru, Lembaga Biblika Indonesia-Kanisius, Yogyakarta 1991: 34-35.
[23] Lih. Retnowati, Perempuan-Perempuan dalam Alkitab, hlm. 27-30.
[24] Lih. H. Oppusunggu, “Perempuan” dalam, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, (ed. J.D.Douglas), hlm. 24.
[25] Lih. S.S. Smalley, “Maria” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, hlm. 27.
[26] Lih. J.D. Doughlas, “Elishabed” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I, hlm. 279.
[27] Lih. Fred. B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 27.
[28] Lih. J.Bloommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001: hlm. 18-19.
[29] Lih. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan – Petunjuk Mempelajari Dan Mengajarkan Alkitab, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2000: hlm. 57-58
[30] Lih. Soelarso Sopater, “Lukas Penulis Injil”, dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I, (ed. J.D.Doughlas), Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta 2008: hlm. 654.
[31] Lih. John Drane, Memahami Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009: hlm. 211-212.
[32] Lih. Willi Marxen, Pengantar Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009: hlm 186.
[33] Lih. Norval Geldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, WMB Publishing Company, Michigan-Grand Rapids 1960: hlm. 30-35.
[34] Lih. Soelarso Sopater, “Lukas Penulis Injil”, dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I, hlm. 653.
[35]Lih. Darmawijaya, Perempuan Dalam Perjanjian Baru, Lembaga Biblika Ondonesia-Kanisius, Yogyakarta 1991: 3-34.
[36] Lih. H. Rosin, Tafsiran Alkitab Kitab Keluaran, hlm. 14-15.
[37] Lih. Maxie Dunnam, “Exodus” dalam Mastering the Old Testament: a book – by book commentary by today’s great bible teachers (ed. Llyoyd J Ogilvie), Word Publishing, Dallas 1987: hlm.34.
[44] Lih. H. Rosin, Tafsiran Alkitab Kitab Keluaran, hlm. 24.
[45] Lih. Fred. B. Craddock, Interpretation Luke, John Knox Press, Lousiville-Kentucky 1990: hlm. 27
[46] Lih. Norval Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 75.
[47] Lih. Fred. B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 27.
[48] Lih. Norval Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 75.
[49] Lih. Fred. B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 28.
[50] Lih. Norval Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 75.
[51] Lih. Fred. B. Craddock, Interpretation Luke, hlm. 28.
[52] Lih. Norval Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 78.
[53] Lih. John Nollan, Word Biblical Commentary Luke 1-9; 20, Word Books Publisher, Dallas-Texas 1989: hlm. 57.
[54] Lih. Norval Goldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, hlm. 78.
[55] Lih. John Nollan, Word Biblical Commentary Luke 1-9; 20, hlm. 40-41.
Komentar