etika 2

Erwin H. Manurung
Mahasiswa STTHKBP
Stambuk 2008
Etika 2


1.Pendahuluan.
“1:1. Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken.”
Kota Filipi ditemukan thn. 360 SM, sebagai suatu dusun kecil orang Trasia yang didirikan oleh Filipus (Ayah Alexander Agung). Pada thn. 168 SM kota ini jatuh ke tangan Romawi dan pada thn. 42 SM dijadikan sebagai menjadi koloni kekaisaran Romawi. Oleh Kaisar Agustus kota ini akhirnya dijadikan sebagai propinsi Romawi dan menjadi pangkalan militer terkenal. (Catt. Filipi adalah kota asal penulis Injil Lukas). Filipi adalah kota kuno di Makedonia timur. Kota ini merupakan salah satu tempat gereja mula-mula didirikan. Kota Filipi di Makedonia timur, yang letaknya enam belas kilometer dari pesisir Laut Aegea, dinamai menurut Raja Filipus II dari Makedon, ayah Aleksander Agung. Pada masa Paulus, kota ini sebuah kota Romawi dan pangkalan militer yang terkenal. Gereja di Filipi didirikan oleh Paulus dan teman-teman sekerjanya (Silas, Timotius, Lukas) pada perjalanan misi yang kedua sebagai tanggapan terhadap penglihatan yang Allah berikan di Troas (Kis 16:9-40). Suatu ikatan persahabatan yang kuat berkembang di antara rasul itu dan jemaat Filipi. Beberapa kali jemaat itu mengirim bantuan keuangan kepada Paulus (2Kor 11:9; Fili 4:15-16) dan dengan bermurah hati memberi kepada persembahan yang dikumpulkannya untuk orang Kristen yang berkekurangan di Yerusalem (bd. 2Kor 8:1–9:15). Agaknya dua kali Paulus mengunjungi gereja ini pada perjalanan misinya yang ketiga (Kis 20:1,3,6).
ISI
2.1.1. Terminologi
Pengertian kepemimpinan
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata memimpin berarti memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dsb); membimbing; mengetuai atau mengepalai; memandu; melatih (mendidik, mengajari, dsb) supaya dapat mengerjakan sendiri. Pemimpin adalah orang yang memimpin ataupun menuntun, sedangkan kepemimpinan adalah perihal ataupun cara memimpin.
Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama.
Sarros dan Butchatsky (1996), menyatakan pengertian kepemimpinan sebagai berikut, "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Sedangkan menurut Anderson (1988), "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, antara lain:
Pertama kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan ada juga.
Kedua seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or her power) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Menurut French dan Raven (1968), kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari:
• Reward power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.
• Coercive power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.
• Legitimate power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.
• Referent power, yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya, reputasinya atau karismanya.
• Expert power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seseorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya.
Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.
Ketiga kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.
Sedangkan arogan berarti sombong, congkak, atau mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah. Arogansi biasanya muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa, termasuk seorang pendidik, guru, ataupun dosen, yang setiap harinya memberi sesuatu bagi orang lain.
Pengertian Pelayan
Kata “pelayan” tidak hanya ditemukan dalam latar belakang Yahudi mengenai otoritas seseorang dan kedudukannya yang khusus dalam tugas yang diberikan Tuhan, tapi dalam pengertian Greco-Roman sebagai pelayanan yang rendah hati Memimpin adalah melayani, namun melayani belum tentu memimpin. Yang tidak mau melayani, tidak boleh dan tidak berhak memimpin. Pemimpin adalah pelayan, namun pelayan belum tentu pemimpin. Yang tidak rela menjadi pelayan, tidak layak menjadi pemimpin. Kepemimpinan ala Yesus Kristus sangat sulit dan sangat tidak natural. Namun konsep tersebut senantiasa menantang saya yang terus- menerusdiserbu oleh dahsyatnya godaan kuasa. Entah bagaimana dengan Anda, namun saya melihat diri saya persis seperti Yohanes dan Yakobus serta para murid lainnya yang selalu ingin menjadi yang terutama, yang terkemuka, yang terdepan, yang terhebat, dan berbagai predikat superlatif lainnya. Kita cenderung berat sebelah, condong kepada sisi "ingin" dan melupakan sisi "harus". Kita cenderung ingin jadi besar namun tidak mau menjadi pelayan bagi sesama. Kita memilih untuk menjadi yang terkemuka, namun tidak pernah rela menjadi hamba bagi orang lain. Yesus lalu berkata tentang diri-Nya: "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (10:45). Inilah yang disebut Oswald Sanders sebagai "The Master's Master Principle". Prinsip ini tidak dimengerti oleh Yohanes dan Yakobus yang menginginkan mahkota namun menghindari salib, yang mengejar kemuliaan tapi menjauhkan penderitaan, yang berambisi menjadi tuan dan menolak disebut hamba. Pemimpin-pemimpin gereja yang mau melayani jemaat dengan rendah hati harus mempunyai akal budi yang senantiasa dibaharui. Kelebihan kita sebagai Kristen ialah kita mempunyai akses kedalam “akal budi Kristus” berkat Roh Kudus yang diam didalam diri kita. Seseorang yang menginginkan segala pekerjaannya “” haruslah mengalami syaratmu.

Doulos (doulos)
Kata “pelayan” (doulos) dalam Pb Yunani13 sering bicara tentang “pelayan” Yahwe dalam pengertian seorang yang ditunjuk oleh Yahwe untuk tugas khusus: (1) Musa dikatakan sebagai pelayan Tuhan (Num 12:7; Joshua 14:7); (2) Yosua (24:29; Hak 2:8); (3) Abraham (Maz 104:42); (4) Daud (Ps 88:3) dan (5) semua nabi disebut pelayan Yahwe (Jer 25:4; Ezek 38:17). Maka dari itu ada kesan kata “pelayan”, menunjuk pada Musa dan para nabi, seorang yang bicara atas nama Tuhan, dengan otoritas. Ada juga, rasa hormat dan otoritas berkaitan dengan kata “pelayan Tuhan” Ini mungkin yang dimaksud Paulus dalam Fil 1:1, tapi sepertinya bukan itu. Walau ada pergumulan dalam gereja (2:3-4; 4:2), gereja secara keseluruhan kelihatannya menerima Paulus dan rekannya, jadi hal “otoritas dari Tuhan” atau keistimewaan sebagai “pelayan Tuhan” kelihatan tidak pada tempatnya. Juga, jika ini permasalahannya, kita berharap Paulus menunjuk dirinya sebagai “rasul” dan memisahkan dirinya dengan Timotius dalam Pendahuluannya. Ada konteks lain bagi kata itu dari PL Yunani. Yaitu budaya dimana Paulus tinggal. Kata “pelayan” (doulos) dalam konteks Greco-Roman menunjuk pada kelompok orang yang ada dibawah dalam tingkatan social. Mereka menjadi budak, sebagai contoh, melalui perang, utang, atau hanya karena dilahirkan dari ibunya yang seorang budak. Dalam setiap kasus ada pemasok budak yang menyalurkan mereka dan menjualnya sebagai barang. Budak tidak memiliki hak, keistimewaan, atau kebebasan dalam lingkungan social diluat keluarga mereka, walaupun sebagian dari mereka, termasuk dokter dan akuntan, lebih terdidik dari pemilik mereka. Dengan pemikiran latar belakang ini, Paulus menggunakan kata ini dalam Fil 1:1 bisa menunjukan bahwa dia dan Timotius adalah pelayan Kristus Yesus dalam pengertian bahwa baik dia dan Timotius dimiliki oleh Kristus dan diikat untuk melakukan kehendakNya—hanya kehendakNya saja. Itu bisa menjelaskan tentang kepemilikan Kristus dan pelayanan mereka. Berbicara tentang keselamatan seorang Kristen, Paulus mengatakan hal yang serupa dalam 1 Korintus 6:19, 20: Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Kita mulanya bertanya kenapa Paulus memasukan Timotius dan dirinya sebagai “pelayan Kristus Yesus” Hal itu terlihat sekarang. Kata “pelayan” tidak hanya ditemukan dalam latar belakang Yahudi mengenai otoritas seseorang dan kedudukannya yang khusus dalam tugas yang diberikan Tuhan, tapi dalam pengertian Greco-Roman sebagai pelayanan yang rendah hati. Hal yang kedua lebih dekat dengan tema rendah hati dalam surat ini (cf. 2:1-11). Paulus memasukan Timotius bersama dengan dirinya dalam pendahuluan, adalah untuk menyediakan teladan bagi orang Filipi tentang kerendahan hati Kristen yang benar, walaupun dia seorang rasul yang besar dan memiliki otoritas langsung dari Tuhan, tapi dia terutama adalah seorang pelayan Kristus Yesus, seperti orang Kristen yang lain termasuk Timotius (Fil 4:9). Mereka bekerja saling membantu bagi jemaat Filipi dan Paulus menghargai hubungannya dengan Timotius sebagai kesetaraan dibawah Tuhan.14 Sebagian besar pastor dan pemimpin Kristen cenderung membangun kerajaan mereka sendiri bisa mengambil pelajaran dari Paulus dan Timotius disini. Juga kita semua. Seseorang pernah berkata, “kita hanya orang-orang yang berlari berkeliling mencoba memuliakan seseorang!” Kita bisa melakukan lebih baik untuk menyeimbangkan kegiatan kita dengan pemikiran itu.


Diakonos (diakonos)
diakonos' yang diterjemahkan sebagai hamba. Meskipun kedua kata tersebut sulit dibedakan dalam penggunaannya, David Bennett dalam bukunya "Leadership Images from the New Testament" menulis bahwa `doulos' mengacu kepada seseorang yang berada di bawah otoritas orang lain, sedangkan `diakonos' lebih menekankan kerendahan hati untuk melayani orang lain. Kata Yunani ketiga yang sering dipakai Alkitab untuk hamba adalah `huperetes', yang menunjuk secara literal kepada orang-orang yang mendayung di level bagian bawah dari kapal perang Yunani kuno yang memiliki tiga tingkat. Thayer's Hebrew Dictionary mengartikannya sebagai `bawahan' (underlings, sub-ordinate).
Setelah mempelajari tiga terminologi di atas, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa konsep pemimpin di dalam Alkitab adalah hamba. Lebih konkret lagi, hamba yang dengan rela hati mengambil tempat yang terendah, dan bertahan dalam berbagai kesulitan dan penderitaan karena
pelayanannya terhadap orang lain. Betapa kontras dengan konsep kepemimpinan sekuler! Jadi pemimpin Kristen adalah seorang pemimpin-pelayan. Namun pemimpin-pelayan sering kali dianggap sebagai sebuah kontradiksi dalam terminologi (oxymoron). Bagaimana mungkin kita dapat menjadi pemimpin dan pelayan pada saat bersamaan? Untuk mengerti kedalaman dan menghargai keindahan konsep pemimpin- pelayan, kita perlu melihat minimal dua acuan firman Tuhan berikut ini. Pertama, "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Markus 9:30-37). Dalam konteks Markus 9 di atas, murid-murid Yesus merebutkan tentang siapa yang terhebat di antara mereka. Dan mereka meributkan itu persis setelah Yesus memberitahukan untuk kedua kalinya bahwa Ia hendak menuju ke jalan salib. Sungguh ironis! Namun betapa persis! Persis menggambarkan kita manusia yang berambisi terhadap kuasa, dan berani menyebut diri pemimpin Kristen. Ketika Yesus mengkonfrontasi mereka, saya bayangkan betapa lalu mereka.
Yesus lalu mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Bagi yang ingin di depan haruslah menjadi yang paling belakang. Yang ingin menjadi pemimpin, harus menjadi hamba. Untuk menjelaskan ini, Ia lalu merangkul seorang anak kecil sebagai model. Seorang anak kecil tidak memiliki pengaruh sama sekali, tidak memiliki kuasa. Namun Yesus berkata, siapa yang menyambut sesamanya yang tidak berarti, ia menyambut Tuhan. Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan. Yesus membalikkan seratus delapan puluh derajat konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang, termasuk para murid-Nya. Alkitab menulis bahwa tak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yohanes 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukan-Nya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasa- Nya untuk kepentingan pribadi. Ia menganggap kuasa-Nya sebagai sesuatu yang dipakai untuk melayani orang lain

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilmu Alamiah Dasar Sepuluh Misteri Tata Surya