kontekstual

Tugas kelompok teologi kontekstual
Nama : Erwin h. Manurung
Dosen : Pdt. Dr. J. Boangmanalu

TEOLOGI PENGHARAPAN
(Jurgen Moltman)
I. Pengarang
Jurgen Moltmann adalah seorang teolog protestan jerman. Dia dilahirkan pada tanggal 8 april 1926 di Hamburg. Kakeknya adalah Grand Master dari freemason. Pada umur enam belas tahun dia mengidolakan Albert Einstein karena dia tertarik pada relativitas fisika dan dia juga sempat belajar matematika di sebuah universitas.Pada tahun 1952, setelah belajar teologi, ia menjadi pendeta jemaat. Ia menjadi guru besar di seminari gereja di Wuppertal pada tahun 1958. Pada tahun 1967 ia menjadi profesor teologi sistematis di Universitas Tubingen hingga sekarang. Moltman banyak menulis dan karya-karyanya unggul sampai sekarang dan dapat dibagi dalam dua golongan. Tujuan dari tiga karyanya adalah untuk memandang teologi sebagai suatu keseluruhan dari sudut-sudut pandang yang particular. Salah satu karya besarnya yang pertama adalah Theologie der Hoffnung atau Teology of Hope (1964). Inilah yang menjadi pembahasan kami dalam sajian ini. Moltman adalah salah satu teolog dogmatis pertama yang berusaha secara serius menjelaskan teologi dalam terang. Sehingga Moltman mencoba untuk mengembalikan eskatologi kepusat teologi.
II. Isi Ringkas
2.1. Eskatologi Dan Wahyu
2.1.1. Penemuan Dan Wahyu Penemuan pentingnya pusat eskatologi untuk pesan dan keberadaan Yesus dan bagi kekristenan awal, yang berawal dari abad kesembilan belas. Jauh sebelum perag dunia dan revolusi telah menumbuhkan kesadaran krisis Barat. Teolog seperti Ernst Troeltsch mendapat kesan hampir tidak memahami bahwa segalanya adalah serba cepat. Perbedaan-perbedaan logos dan janji, antara pencerahan dan apokalipsis dari kebenaran. Saat ini, jelas dalam berbagai bidang dan dengan berbagai metode. Namun, George Picht yang ketika ia mengatakan bahwa Epiphani dari sekarang kekal menjadi medistorsi sampai wahyu eskatologis Allah.
Untuk mencapai kepemahaman yang benar dari pesan eskatologis adalah sesuai untuk memperoleh keterbukaan dan pemahaman apa artinya janji dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru dan bagaimana pula dalam arti yang lebih luas. Terjadi juga kontroversi melalui Perjanjian Baru, terutama dimana Kristen mengalami pikiran Yunani. Mereka adalah bagian dari tugas Kristen juga pada saat ini. Teologi modern juga telah mengatankan untuk itu sendiri dan juga merefleksikan dunia dan juga dalam pengalaman sejarah. Eskatologi Kristen dalam janji akan menjadi kunci penting untuk membuk kebenaran Kristen. Kehilangan eskatologi bukan sebagai tambah untuk dogmatika tetapi, sebagai media pemikiran teologis. Dan hal ini akan menjadi penyesuaian Kristen terhadap linkungannya dan penyerahan diri atau yang disebut juga dengan iman adalah sebagai hasilnya.
2.1.2. Janji Dan Wahyu Dari Allah Dalam menyikapi diri kita sendiri dengan topic gabungan dari janji dan wahyu, tujuan kita bukanlah hanya untuk bertanya tetapi juga untuk mengembangkan pandangan dari wahyu Allah yang eskatologis dan berusaha untuk menemukan bahasa janji. Akan tetapi, teologi yang lebih baru dari Perjanjian Lama memang menunjukkan bahwa kata-kata dan mengungkapkan pernyataan tentang Allah. Dalam Perjanjian Lama, seluruhnya digabung dengan pernyataan tentang janji Allah. Allah menyatakan diri-Nya sendiri dalam bentuk janji dan dalam sejarah yang juga ditandai oleh janji.Tetapi jika janji menentukan dari apa yang dikatakan Allah dan mengungkapkan setiap pandangan teologis dari Wahyu alkitabiah yang berisi pandangan yang mengatur eskatologi. Alasan lain untuk memahami wahyu dalam terang janji, muncul dari teologi para reformator. Yang berhubungan dengan iman adalah untuk para reformator bukan untuk wahyu itu.
2.1.3. Transendental Eskatologi Apakah yang mendasari dan mendominasi konsep “wahyu diri Allah”, sebagaimana ditemukan dalam Barth dan pemahaman wahyu sebagai pengungkapan kedirian Allah seperti yang ditemukan dalam Bultman? Kita akan menemukan bahwa ide-ide diri-wahyu, baik dalam teologi dan dalam bentuk antropologi yang telah dirumuskan dalam eskatologi transendental. Dalam rangka sebagai eskatologi transendental, pertanyaan-pertanyaan masa depan dan tujuan wahyu dijawab dalam bentuk refleksi. Oleh karena itu, tujuan dari wahyu identik dengan asal itu. Sekarang ini, dengan penggunaan ide-ide eskatologis kritis, Kant tidak hanya membawa suatu pengurangan etis dari eskatologis. Sedangkan untuk Herder, masih berarti sebagai dorongan batin dan orientasi terhadap masa depan sebuah kosmos dinamis yang terbukaatas semua makhluk hidup. Kant memiliki kesan sensual “mesin dunia” dan juga “mekanisme alam”. Sebagai relevansinya, Allah tidak dapat disajikan dalam kerangka filosofi reflektif subyektivitas trasnensendental. Dan tidak dapat juga disajikan dalam anakronisme suatu teologi tabungan sejrah. Hutan belum tentu menjadi sejarah kayu bakar dan suci juga belum tentu dikenakan kritik sejarah. Pengalaman mungkin yang dapat dipahami bukan sebgaai sejarah yang mengalir.
2.1.4. Teologi Dari Subjektivitas Transendental Dari Allah Gagasan “wahyu diri Allah” sebelumnya, yaitu pada abad sembilanpuluh telah memiliki sejarah di sekolah para teolog Hegelian. Pada abad kedua puluh, bagi Barth dan Bultman menekankan diri sehubungan dengan wahyu yang datang kepada Herman. Dengan aktualisasi yang demikian, pernyataan bersama-sama wahyu, tindakan dan penyuluhan Allah. Barth dan Bultman berada daam perjanjian. Apakah pernyataan itu berarti bahwa Tuhan sendiri harus mengungkapkan atau menyatakan diri-Nya kepada kita sendiri? Apakah Herman yang dimaksud dengan pernyataan ini polos. Wahyu bukanlah perintah dan juga bukan dorongan emosional. Wahyu Tuhan tidak dapat dijelaskan secara objektif kana tetapi, tentu dapat dialami oleh manusia itu sendiri, yaitu dalam subyektivitas dari kedalaman gelap yang tak berdaya, dimana kita hidup saat keterlibatan. Untuk pengembangan teologi Barth, adalah penting bahwa ia memulai pada titik ini dan dilanjutkan dengan menempatkan subyektivitas Allah.
2.1.5. Progresive Wahyu Dan Eskatologi Dari Sejarah Keselamatan Penyataan dalam Kristus adalah dilihat dalam sejarah sebagai tahap transisi dalam "Kerajaan Allah" dan lebih jauh diambil sebagai acuan utama untuk masa depan. Namun, salah satu yang menunjuk di luar dirinya. Penyataan Allah sehingga bukan "saat kekal", dan eschaston yang datang untuk cahaya di dalamnya adalah bukan futurum aeternum. Tetapi dalam Kristus adalah wahyu, maka elemen yang terakhir menentukan dalam sejarah kerajaan yang pra sejarah dimulai pada musim gugur dan sudah dalam penciptaan apakah dengan Injil-proto dari Yesaya 3.15 atau dengan janji dalam Kej 1,28. Ini teologi wahyu dari Allah dalam sejarah keselamatan yang dipahami sebagai pengetahuan esoterik pada bagian yang ada di lingkaran. Allah dalam masa lalu dan dengan demikian mengubah sejarah masa lalu menjadi sejarah yang dipahami, sementara di sisi lain ia menarik kesimpulan untuk tindakan di masa depan Allah dari jalan-Nya di masa lalu. Kesalahan ini, bagaimanapun harus dilihat dalam kenyataan bahwa Ia berusaha untuk ini mencakup sejarah keselamatan bukan dari Salib dan kebangkitan, tetapi dari tanda-tanda zaman dan dari pandangan apokaliptik. Korupsi Gereja dan pembusukan dunia atau dari pandangan optimis tentang kemajuan budaya dan pengetahuan, sehingga wahyu yang menjadi predikat sejarah, dan sejarah telah berubah menjadi pengganti bagi Allah. Yang membuat teologi sejarah keselamatan, kemungkinan dalah bahwa kebangkitan pemikiran apokaliptik dan harapan yang baik dan sekuler nyata diiringi kelahiran. Teologi sejarah keselamatan itu sendiri tidak pernah mampu membawa perubahan penting dalam prinsip-prinsip epistemologis ilmu sejarah, dan akibatnya selalu muncul di usia penelitian sejarah kritis untuk menjadi sarana yang ketinggalan zaman. Dalam krisis, dimana teologi wahyu menemukan dirinya di era modern. Bagaimanapun, perhatian nyata dari teologi sejarah keselamatan adalah terletak pada sejarah suci, akan tetapi lebih untuk menunjukkan wahyu yang memiliki sejarah dunia dan eskatologi. Meskipun teologi wahyu tidak pernah berhasil, dalam frase Rosenstock-Huessy, dalam mengatasi modernitas, namun itu tidak mengandung unsur yang tidak dapat diberhentikan hanya dengan fakta bahwa eskatologi transendental membuat semua usia sejarah berbeda.
2.1.6. Eskatologi Dari Wahyu Penyataan Kristus yang bangkit bukanlah bentuk pencerahan masa kini yang kekal, tetapi membutuhkan pandangan dari wahyu sebagai hari kahir tentang masa depan yang menjanjikan kebenaran. Teologi Kristen berbicara tentang wahyu dimana Yesus tampil sebagai Tuhan yang bangkit dan menyatakan identitas dan ketika disalipkan. Dalam Paskah, Yesus diakui sebagai apa Dia sebenrnya. Itu adalah dasar iman, mengingat sejarah tentang hidup dan pekerjaan-Nya. Titik penting untuk melihat Kristen sesuai wahyu Allah tidak terletak dalam keberadaan-Nya, dalam diri Yesus atau dalam diri sebagai manusia di Kayu Salib itu. Fakta bahwa dalam semua perbedaan kualitatif bahwa salib dan kebangkitan adalah sama. “Janji” adalah hal yang sangat fundamental, berbeda dari kata yang membawa kebenaran antara manusiaa dan realitas kehidupan Masa depan Yesus Kristus dalam konteks ini, dimana wahyu dan manisfestasi dari Dia yang telah datang. Iman diarahkan dalam harapan dan harapan tentang wahyu dari apa yang telah ditemkan tersembunyi didalam Kristus. Saat ini, wahyu Allah dalam hal janji selalu dapat dinyatakan dalam hubungan perbandingan kritis dengan pengalaman manusia tentang dunia dan eksistensi. Tetapi ahal janji dalam kebangkitan mengidentifikasi manusia dengan membawa kepadea dirinya sendiri. Pengalaman diri terikat dengan pengalaman yang sesuai dengan dunia. Teolog Kristen memiliki satu cara yang dapat membuktikan kebenarannya dengan mengacu pada realitas manusia dan relaitas dunia. Sifat manusia dan dunia terungkap melalui peristiwa janji itu.
2.2. Janji Dan Sejarah
2.2.1. Firman Dari Janji
Jika dalam dunia janji, yang kita miliki sebelumnya dalah bahwa kata kunci dari agama Israel adalah harapan. Sekarang harus menjelaskan apa yang kita pahami dari “janji”. Dan lebih jelasnya, oleh janji yang dar Allah. Janji adalah sebuah pernyataan yang mengumumkan kedatangan suatu realitas yang belum ada. Janji jiga mengikat manusia untuk masa depan dan memberi akal untuk sejarah. Sejarah yang dimulai dan ditentukan oleh janji. Janji itu juga adalah cenderung terhadap pemenuhan ataupun penggenapan.
Jika firman atau logos dalam bahasa Yunani yang disebut juga kata adalah kata dari janji, maka berarti firman itu belum menemukan suatu realitas yang sama dan sebangun dengan hal itu. Akan tetapi malah sebaliknya, berdiri bertentangan dengan realitas yang terbuka terhadap pengalaman. Kata janji itu selalu mencipatakan interval ketegangan antara pengucapan janji itu dengan penebusan.
Karakter janji dalam Perjanjian Lama dapat dilihat pada fakta bahwa janji-janji tidak diliquidasi oleh sejarah Israel. Bukan oleh pmenuhan tetapi oleh pengalaman Israel yang bertentangan dengan sejarah dan memberi mereka sebuah interpretasi secara terus-menerus. Jika kita akan mengguanaka ini untuk membantu menuju kepemahaman dan memeperluas pemahaman tentang sejarah janji itu.

2.2.2. Janji Dan Hukum Jika janji Allah menciptakan suatu interval ketegangan antara makhmereka ditempatkan dan mereka datang untuk lulus, dan dengan demikian lembaga kebebasan untuk taat, maka penting melekat pada pertanyaan tentang arah untuk keluar mengisi interval ini dan dengan demikian merupakan keberadaan di dalamnya . Dijanjikan dan perintah, yang menunjuk tujuan dan menunjuk dari jalan. Dijanjikan adalah sisi salah satu perjanjian di mana hubungan Allah dengan umat pilihannya didasarkan. Siapa pun yang menerima janji-janji, Allah masuk ke dalam perjanjian dengan dia dan ia dengan Allah. Dalam perjanjian itu, Allah dalam kebebasannya mengikat dirinya untuk menjadi setia pada janji yang telah diberikan; dan jika perjanjian ini meluas ke masa depan adalah untuk terjadi, maka tidak dapat dianggap sebagai fakta historis, tetapi harus dipahami sebagai peristiwa bersejarah yang menunjuk di luar dirinya untuk masa depan yang tidak diumumkan. perjanjian itu harus dipahami sebagai sebuah "proses bersejarah" atau, seperti Jaques Ellul menyebutnya berdasarkan pararel dalam hukum, sebuah "kontrak kepatuhan membutuhkan" yang tidak habis dalam satu transaksi, tetapi yang efeknya berlanjut sampai pemenuhan yang dijanjikan. Perintah-perintah perjanjian itu, yang titik harapan kita dalam janji ke jalan ketaatan fisik, adalah tidak lain kebalikan etis dari janji itu sendiri. Kehidupan yang dijanjikan di sini muncul sebagai kehidupan yang diperintahkan. Dalam hal ini bersamaan dengan janji-janji perjanjian, perintah-perintah semua memiliki signifikansi aparacletic dan parenetic, tetapi mereka tidak kondisi hukum atau apa teolog sering sebut "hukum". Perintah-perintah yang sesuai hanya sebanyak satu tenoor masa depan janji-janji. Tujuan mereka adalah realitas bahwa martabat manusia yang laki-laki melalui persekutuan dengan Allah janji. Oleh karena itu jelas bahwa refleksi teologis tentang hukum dapat dimulai pada janji itu sendiri diberikan dipertanyakan oleh non-realisasi atau keterlambatan dalam pemenuhannya. Dalam Perjanjian Lama, refleksi tersebut tidak diketahui. Hal ini jelas bahwa mereka sudah muncul sangat awal. Yang timbul pada setiap titik dimana tanpa adanya keselamatan yang dijanjikan. Orang-orang mulai menyanpaikan pertanyaan tentang mengapa dan dan berapa lama. Orang dapa mengatakan ini dijanjikan. Kemudian harus ditunjukkan dalam konteks ini bahwa sementara kontroversi Paulus dengan Yudaisme dari Taurat dan dengan Kristen Yahudi tentu pada pertanyaan-pertanyaan hukum, namun perhatian yang pasti janji.Janji dalam bentuk Injil, atau janji dalam bentuk hukum - bahwa adalah pertanyaan. Dan bisa jadi bahwa "janji dalam bentuk Injil" membawa kepada cahaya sekali lagi makna asli hukum sebagai perintah-perintah yang terikat dengan yang dijanjikan.
2.2.3. Janji Dalam Eskatologi Dari Nabi Sejak penemuan karakter “eskatologi” memiliki kata-kata saksi Alkitab, konsep eskatologi telah menjadi kabur. Di antara para sarjana Perjanjian Lama sengketa terminologis menyempit ke pertanyaan-pertanyaan apakah harapan dalam sejarah sudah bisa disebut eskatologis, atau istilah “eskatologi” harus disediakan untuk nubuatan yang berbicara tentang akhir sehingga kejadian yang berada di luar bidang sejarah. Hal ini hampir tidak mungkin untuk menjelaskan complekxes tertentu ide sebagai schemata eskatologis. Hal ini juga hampir tidak mungkin untuk estalish titik di mana kita dapat mengatakan, "berakhir janji sini kenabian, dan eskatologi dimulai." Tapi itu dapat dikatakan dalam contoh pertama yang janji-janji dan harapan eskatologis yang diarahkan menuju masa depan yang bersejarah dalam arti cakrawala tertinggi. iman Israel pada Tuhan memiliki konten masa depan. Dan cukup benar bahwa gambaran masa depan dalam hal ancaman penghakiman dan janji keselamatan bukanlah karakteristik khusus dari nubuat nabi klasik, melainkan adalah merupakan karakteristik khusus dari kepercayaan Israel dalam janji. Ini berarti, bahwa eskatologi para nabi dibesarkan di tanah iman Israel di janji, dan bahwa dalam eskatologi iman kenabian dalam janji itu bergulat dengan pengalaman baru dari Allah, penghakiman dan sejarah dan dengan demikian menjalani baru, mendalam berubah. Dalam nabi, meskipun akan kebaruan dari pesan mereka, Tuhan adalah harapan mereka. Konsep eskatologi di sini dimaksudkan untuk menandai keunikan para nabi yang berbeda dari mereka yang sebelumnya berbicara untuk agama Yahwe dan juga berbeda dari kemudian penulis apokaliptik. Pesan dari nabi-nabi muncul dalam bayangan ancaman meningkat dari Asyur, Babel dan Persia, badai kehancuran yang merenung selama kehidupan nasional, politik dan Palestina Israel di kedua kerajaan. Dan pemenuha janji tersebut. Dan dari para nabi harus disebut eskatologis dimana pun menganggap basis bersejarah lama keselamatan sebagai batal demi hukum. G. Von Rad mengatakan, dalam pandangan baru tentang masalah ini, tetapi kita kemudian harus pergi dan membatasi istilah. Tetapi dalam pesan para nabi masih tetap pada awalnya satu batas - kematian. Selama kematian dirasakan menjadi batas alam kehidupan, Tuhan tetap Allah yang hidup.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sementara pesan nubuat dalam nafas dan eksistensial yang tidak mencapai batas maksimal realitas dan dengan demikian menjadi eskatologis.
2.3 Kebangkitan dan Masa Depan Yesus Kristus

2.3.1. Injil dan Janji
Injil penyataan Allah di dalam Kristus ada dalam bahaya yang tidak dimengerti dan rumit sekali, jika kita gagal melihat dimensi janji di dalamnya. Kristologi juga memburuk jika dimensi dari masa depan Kristus tidak dianggap sebagai elemen konstitutif di dalamnya. Di zaman modern, pendekatan dengan misteri Yesus telah sering dilihat dari pandangan umum keberadaan manusia dalam sejarah. Sejarah selalu ada, sejak manusia ada. Tetapi sebenarnya mengalami perubahan makna dari keberadaan manusia sebagai bersejarah, pengungkapan radikal karakter bersejarah eksistensi manusia, datang ke dunia dengan Yesus. Kata dan karya Yesus membawa perubahan yang menentukan dalam pemahaman manusia tentang dirinya dan dunia, oleh dirinya sendiri, pemahaman manusia dalam sejarah diberikan ekspresi sesungguhnya sebagai pemahaman dari karakter bersejarah eksistensi manusia. Jika di sisi lain teologi mengambil fakta serius bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, maka ini berarti bahwa ia tidak harus dipahami sebagai suatu kasus manusia secara umum, tetapi hanya dalam hubungannya dengan sejarah Perjanjian Lama dari janji dan dalam konflik dengan itu.

2.3.2. Janji Allah
Ketika kita mengambil pendekatan Kristologi menjadi pertimbangan, maka secara khusus penting bahwa dalam Perjanjian Baru, Tuhan dikenal dan dideskripsikan sebagai Allah janji. Predikat penting dari Allah sesuai terletak pada pernyataan : adalah setia dia yang dijanjikan. Zat-Nya tidak mutlak seperti itu, tapi kesetiaan yang ia ungkapkan dan identifikasi dirinya dalam sejarah janjinya dianggap sama. keilahian-Nya terdiri dalam keteguhan kesetiaannya, yang menjadi kredibel dalam kontradiksi penghakiman dan rahmat. Kata yang menyatakan Tuhan telah demikian dasarnya bersifat janji dan karena itu eskatologis dalam bentuk keselamatan. Hal ini didasarkan pada hal kesetiaan Tuhan dan terbuka terhadap hal itu. Buktinya, Allah tidak membiarkan Abram sendiri, Allah hendak menghibur hati Abram. Allah memberikan janji kepadanya, seluruh tanah kanaan akan diberikan kepadanya dan dari keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Tetapi murka Allah akan terungkap semua orang yang meninggalkan hukum tidak terpenuhi atau melanggarnya. Oleh karena itu hukum dan janji saling eksklusif, seperti Kemegahanmu dalam karya-karya hukum dan Kemegahanmu dalam Allah yang membenarkan orang-orang berdosa dan mempercepat orang mati saling eksklusif. Hukum tidak memiliki di dalamnya kuasa dari kehidupan yang dijanjikan dan kebangkitan, tetapi menghadapkan hidup sampai mati dan mengarah kepada kematian. Hukum tidak memiliki di dalamnya kekuatan pembenaran, tetapi kekuatan untuk mengekspos dosa dan untuk membuat mereka melebihi berdosa. Untuk janji telah dalam bentuk hukum telah dibuat tidak berlaku. Sama seperti bagi Paulus pembenaran dari bertuhan dan kehidupan yang berasal dari membangkitkan orang mati milik bersama-sama, begitu juga bagi dia kebenaran iman dan validasi janji dalam meningkatkan Kristus milik bersama. "Jika mereka yang hidup dari hukum menjadi ahli waris, iman dibuat batal, dan janji yang dibuat tidak berlaku" (Rm. 4.14). Tetapi jika, sebaliknya, janji diatur berlaku oleh Allah, maka menganugerahkan kebenaran oleh iman.

2.3.3. Paulus dan Abraham
Eksposisi dan penggunaan janji kepada Abraham dalam iman Kristen tidak bisa, bagaimanapun, menampilkan diri sebagai wawasan rantai koheren dasarnya dari Abraham sampai Kristus. iman Kristen bukan merupakan pandangan dari esensi sejarah yang mendasari laporan temporal dan dasar dari tradisi Perjanjian Lama. Interpretasi eksistensialis diskontinuitas, di sisi lain, mengeluarkan sejarah dari cahaya janji dan menetapkan itu dalam terang hukum. Sejarah ini menjadi lambang eksistensi di bawah hukum dan kenyataan bahwa manusia harus memahami dirinya dari karya-karyanya dan dalam hal tersebut analogi, dari mapan, kompleks dibuktikan sejarah. Sejarah di sini dipahami sebagai kekuatan silsilah. Ini menjadi lambang dari kefanaan dan regenerasi. Iman membawa pembebasan dari sejarah dan itu sendiri krisis eskatologis sejarah dalam individu. Unsur kontinuitas antara Abraham dan orang percaya adalah sesuai tidak dianggap sebagai produk perkembangan historis, tetapi hanya dapat dipahami sebagai proyeksi retrospektif iman, yang tidak dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan historis dan karena itu harus dengan sendirinya kembali menjadi obyek iman. Tapi sekarang, dalam hal ini kebalikan dari sejarah dan iman, iman adalah dialektik berlabuh ke sebuah konsep negatif dari sejarah yang berulang kali harus membedakan itu sendiri. Di sisi lain, sejarah dialektik berlabuh ke konsep subjektivitas iman, sebagai akibat dari yang berulang kali harus dilihat dalam hal identifikasi tersebut di atas dari legalistik dan objectivitas berpikir. Apa iman dipahami dalam istilah-istilah seperti yang dikatakan Abraham, menjadi proyeksi iman, sebuah proyeksi yang diragukan, karena tidak terbukti pada iman kepercayaan mereka. Bagaimanapun, membuat pemahaman mengapa Paulus tidak menggunakan sosok Abraham hanya untuk mengilustrasikan melihat sendiri kebenaran oleh iman, tetapi masuk ke dalam perselisihan dengan Yahudi dan Kristen Yahudi atas warisan Abraham.

2.3.4. Pemenuhan Ekstasi di Kristen Primitif dan Eskatologi
Karakter bayar Injil dapat dilihat tidak hanya dari bahasa yang digunakan terutama oleh Paulus dan Ibrani. Hal ini menunjukkan dirinya masih lebih jelas dalam konflik di mana Paulus terlibat dengan berbagai kecenderungan dalam kekristenan primitif. Selama Kristen tetap dalam ruang lingkup Yudaisme dengan pandangan apokaliptik dan harapan atas Mesias, itu hanya alam yang harus mengambil pandangan eskatologis dari peristiwa Kristus dan Injil. Hanya saja, disini orang-orang Kristen juga tetap dalam batas-batas harapan Yahudi dan memahami diri mereka sebagai orang baru dari Allah dan mempertahankan Injil sebagai perjanjian baru Israel.

2.3.5. Kematian Allah dan Kebangkitan Kristus
Kristen berdiri atau jatuh dengan realitas membangkitkan Yesus dari antara orang mati oleh Allah. Pendekatan ini tidak bisa dengan pertanyaan tunggal dalam konteks yang bisa diajukan atas dasar realitas hari ini, tetapi hanya dapat pertanyaan yang mencakup pengalaman modern seluruh dunia, diri dan masa depan sebuah pertanyaan yang kita sendiri merupakan dengan seluruh realitas kita. Jika pertanyaan tentang realitas kebangkitan adalah terikat, mengatakan, untuk pertanyaan tentang relevansi dan signifikansi dari sepotong ajaran gereja, atau pertanyaan tentang probabilitas historis dari fakta kebangkitan Yesus, atau untuk pertanyaan makna sebenarnya untuk jantung dan hati nurani, atau untuk pertanyaan tentang harapan itu mungkin mungkin berisi, maka keluar situasi yang muncul pertanyaan dan ke arah yang ditujukan adalah secara diam-diam itu dibiarkan dan hanya diambil untuk diberikan.

2.4 Eskatologi dan Sejarah


2.4.1. Kritik Dan Krisis
Pengalaman manusia modern, sejarah didasarkan pada pengalaman kemungkinan tak terbatas baru dan luar biasa yang tidak dapat dikuasai oleh metode adat tradisinya. Namun kemungkinan ini selalu berpengalaman dalam contoh pertama sebagai krisis dan runtuhnya sampai sekarang dikenal dan kemungkinan akrab dengan lembaga-lembaga tradisional mereka. Bendungan tradisi dan ketertiban di mana-mana mulai meledak. Mereka tidak lagi cocok untuk pengalaman sejarah, sehingga tidak lagi menampilkan diri sebagai berlebihan. Mereka menjadi kuno, atau dipertahankan hanya dengan kesulitan besar, tidak lama diragukan lagi mode sebagai lembaga perilaku. Oleh karena itu, mereka menjadi objek refleksi dan kritik, dan manusia mulai mendorong keluar ke dunia yang tidak terlindungi, menakutkan dan tidak pasti. Dia menemukan dirinya dalam krisis di mana keberadaannya yang dipertaruhkan dan dia berada di bawah tekanan keputusan penting. Semua refleksi pada sejarah oleh sejarawan, sosiolog dan filsuf sejarah di Benua Eropa pada abad ke-19 semacam ini tidak bisa lagi dilupakan, karena telah diungkapkan dalam sifat kecenderungan manusia dan kapasitas untuk perbaikan, seperti politisi tidak ada yang bisa berpikir di dasar perjalanan segala hal. Sebuah pertanyaan yang dinyatakan dijawab hanya dengan hak buta. Orang kuat kini telah tampak dan dibawa ke hadapan takhta pengadilan alasan murni, serta barang siapa yang mampu menempatkan dirinya di tengah keseluruhan dan individualitas memproyeksikan untuk menjadi khas dari spesies, mungkin menganggap dirinya sebagai wakil di tutup dengan alasan pengadilan, bahwa sebagai seorang pria dan seorang warga dunia dia pada saat yang sama juga pesta dan melihat dirinya lebih atau kurang terlibat dalam hasil. Selama matahari telah berdiri di cakrawala dan planet-planet yang berputar di sekitarnya itu, belum pernah dikenal bagi manusia untuk berdiri di kepalanya, yaitu di benaknya, dan untuk membangun realitas menurut pikirann Anaxagoras itu menjadi orang pertama yang mengatakan bahwa aturan nous dunia, tapi baru sekarang pria mencapai tahap mengakui bahwa pemikiran harus memerintah realitas roh menjadi fajar mulia.
Keinginan revolusioner untuk mewujudkan Kerajaan Allah adalah titik elastis dari semua budaya progresif dan awal sejarah modern. Dalam revolusi ini bangunan dari lembaga-lembaga lama runtuh, dan stabilisasi metafisik. Di dalamnya ada hal-hal yang diambil untuk diberikan dan diterima secara umum di bidang budaya dan spiritual.




2.4.2 Metode Sejarah
Sejak pendekatan metodologis mendasar untuk pengalaman manusia tentang dunia dengan Petrus Lambardus dan Rene Descartes dan keberhasilan dalam ilmu alam, setiap upaya telah diarahkan menerapkan pengobatan metodologis juga pengalaman sejarah dan proses perolehan pengetahuan sejarah. Pertanyaan tentang metode historis karena itu berlaku tidak hanya pada cara-cara teknis di mana karya sejarawan, tetapi juga, dan lebih komprehensif, dengan keanehan pengetahuan sejarah dan karakter ilmiah penelitian sejarah. Metodologi sejarah itu mencakup prinsip untuk penelitian sejarah dan prinsip-prinsip untuk kontrol kritis hasil mereka. Karena ilmu alam pada abad ke-19 belum puas mengumpulkan dan menyusun hasil eksperimen tetapi pergi untuk membangun suatu sistem yang tepat dan verifikasi hukum alam, dan karena ilmu tepat secara umum berarti ilmu alam, itu diperlukan untuk meningkatkan pertanyaan mengenai karakter ilmiah penelitian sejarah dan hukum-hukum umum dari perjalanan sejarah. Meskipun karakter khas metode ilmu-ilmu manusia telah ditekankan sejak akhir abad ke-19 oleh W. Dilthey, namun ilmu sejarah bukan seni, fiksi atau legenda, tapi konsep kebenaran yang mendasari itu adalah bahwa dari fakta kebenaran diverifikasi. Laporan ilmu sejarah harus dapat membuktikan kebenaran sejarah mereka dengan mengacu pada sumber yang dapat diverifikasi oleh siapa saja kapan saja, dan dengan demikian dengan mengacu pada peristiwa diverifikasi. Sejarah adalah tetapi, sejauh ini berusaha meyakinkan pengetahuan, itu tergantung pada kesepakatan. kebenaran sejarah pengetahuan kita tentang sejarah, bagaimanapun, mensyaratkan bahwa wawasan kita dikendalikan.
Fakta bahwa mereka terikat pada sumber-sumber dan kritik dari sumber berarti bahwa mereka terikat pada pengendalian laporan mereka dengan mengacu pada realitas yang sejarawan berbicara dan yang ia berusaha untuk tahu. pengendalian ini, bagaimanapun, mensyaratkan bahwa benda-benda bersejarah secara prinsip dapat direkonstruksi. pengetahuan historis dapat diandalkan hanya jika dapat diverifikasi setiap saat oleh siapa pun yang akan membuat usaha metodologis. Tetapi jika itu harus diverifikasi, maka harus selalu mungkin untuk merekonstruksi materi dan peristiwa otoritatif didokumentasikan. Perbaikan ini menjadi tanda metodologis dari fakta-fakta sebagai fakta. ilmu sejarah, juga, bekerja dengan hipotesis yang pasti, rencana, pendekatan dan pandangan, dengan cara yang peristiwa yang diterangi dan dianggap sebagai peristiwa. Tapi sekarang, konstruksi percobaan menggunakan ilmu pengetahuan alam untuk memeras jawaban dari alam dan membiarkan kita melihat dan mengerti, benda bersejarah selalu sudah terikat dengan interpretasi dan pandangan di mana pengetahuan mereka ditransmisikan. Tugas pertama sejarawan karena itu harus membaca saksi sejarah sebagai sumber, dan sampai saat ini, pelokalan dan menelusuri kembali ke fakta sejarah yang objek yang dimediasi oleh proses manifold interpretasi, bias dan menyentuh.
Fakta-fakta sejarah demikian dipastikan menjadi titik awal untuk menundukkan para saksi, interpretasi dan tradisi pada kritik terhadap kesadaran sejarah. Jadi metode historis adalah contoh pertama diterapkan kritis terhadap tradisi dan sumber-sumber sejarah. Semacam ini kritik destruktif dari tradisi dari suatu peristiwa, bagaimanapun, adalah dirinya selalu terikat dengan kekuasaan sendiri sejarawan dari membayangkan dan membayangkan bagaimana hal yang mungkin sebenarnya telah, dan dengan demikian selalu dikombinasikan dengan rekonstruksi. rekonstruksi semacam jalannya peristiwa yang sebenarnya, pada gilirannya, adalah untuk bagian mereka juga konsep, hipotesis dan sudut pandang yang harus diverifikasi dengan mengacu pada sumber-sumber. Perlakuan metodis dari pengalaman sejarah harus mengobjektifkan realitas sejarah. Pendekatan historis harus menganggap sejarah masa lalu di lepas sejarah di mana ia dapat secara objektif diperiksa. Hal ini untuk membangun realitas sejarah dan karena itu harus mengandaikan bahwa realitas ini didirikan fakta, tidak lagi dapat berubah. Ini, cukup dimengerti, menjadi lebih sulit semakin itu adalah pertanyaan tentang sejarah kontemporer. Untuk sini objek tidak kokoh namun masih dalam keadaan tidak jelas. Di sini pengamat sejarah tidak berdiri di atas terhadap sejarah, tetapi di tengah-tengah peristiwa, dan diberikannya pengaruh terhadap peristiwa-peristiwa diri dengan cara diagnosis sejarah. Pada pihak lain ada suatu metodologi yang lebih halus, yakni usaha para apology mempertemukan pemahaman alkitabiah dan filsafat mereka tentang Allah. Allah dipahami sesuai dengan alkitab sebagai Allah yang sejati dan yang hidup, yang baik kepada umat manusia, penuh belas kasih dan panjang sabar. Jadi Dia adalah Bapa dan Pencipta segala sesuatu. Tetapi karena pengaruh spekulasi filsafat, para apology cenderung menolak imanensi Allah (kehadiran-Nya dalam alam semesta).

2.4.3. Sejarah Heuristik
Metode historis tidak hanya bekerja dengan kritik destruktif gambar sejarah masa lalu, untuk menyelidiki kebenaran fakta-fakta, tetapi harus benar-benar mendekati bahan sumber dengan masalah sendiri dan rencana. Sementara kritik historis atas nama fakta tidak menyerang interpretasi fakta dalam sumber-sumber, namun fakta sendiri tidak mungkin bisa diketahui dan dinyatakan tanpa interpretasi lainnya. Dalam ilmu sejarah, fakta-fakta bukan produk pertama, namun produk terakhir dari proses abstraksi yang bergerak dari interpretasi tradisional dengan apa yang saat ini umumnya dan mutlak dianggap objektivitas.
Fakta adalah dasar yang interpretatif yang dimediasi oleh sumber dan tradisi. Ilmuwan alam dalam percobaan harus mengisolasi obyek-nya, menghilangkan faktor-faktor yang tidak masuk ke pertanyaan dan mengabaikan masalah lain, jika dia belum mampu untuk mencapai hasil yang tegas. Hal ini sangat sulit dalam kasus benda bersejarah, karena di sini mereka selalu melakukan dengan struktur yang sangat rumit yang menghancurkan isolasi fakta mereka dengan aneka dikondisikan. Jadi ilmu sejarah, menurut karena isolat fakta tunggal dari konteks manifold dan mengurangi pertanyaan-pertanyaan untuk satu masalah saja, harus berhati-hati juga pada saat yang sama untuk pindah lagi dari fakta-fakta terisolasi dan individu untuk konteks yang lebih luas dan dari sudut satu pendekatan ke kompleks masalah lain. Dengan demikian fakta individu dapat diketahui dan dievaluasi hanya bersama dengan umum.

2.5 Keluaran Gereja

2.5.1 Masyarakat Modern dan pemujaan mutlak
Masyarakat yang didominasi oleh modernitas dan progresivitas peradaban memiliki karakteristik khas mempertimbangkan dirinya untuk bersikap netral terhadap urusan agama dan pertanyaan nilai serta akibatnya mempertahankan diri dari kendali sejarah dan tradisi, dimana hal itu juga menarik diri dari pengaruh agama dan badan-badan keagamaan. Apa peran sosial di mana masyarakat ini iman tempat modern, jemaat. Sejak zaman klasik masyarakat Barat kita selalu punya konsep, pasti dengan jelas disebutkan agama. Sejak kebangkitan 'masyarakat borjuis' dan 'kebutuhan sistem' di masyarakat industri, bagaimanapun, masyarakat modern telah terbebaskan diri dari konsep klasik agama. Gereja Kristen dapat karenanya tidak ada lagi menampilkan diri kepada masyarakat ini sebagai agama masyarakat.
2.5.2. Agama sebagai pemujaan dari Subyektivitas Baru
Peran pertama dan paling penting di mana masyarakat industri mengharapkan agama sebagai kultus mutlak untuk menjadi efektif, tidak diragukan lagi bahwa pemberian penentuan transendental dari subjektivitas, baru dibebaskan. Konsepsi utama agama dalam masyarakat modern memberikan kepada agama tabungan dan melestarikan kemanusiaan pribadi, individu dan swasta.
Sekarang sebagai akibat dari kenyataan bahwa semua hal dan kondisi yang dapat diproduksi oleh berkat teknik dan organisasi, yang ilahi dalam arti transenden telah menghilang dari dunia alam, sejarah dan masyarakat. Dunia telah menjadi bahan untuk teknis membentuk kembali oleh manusia.
Dunia tidak lagi menawarkan seorang pria rumah dan penampungan patuh.
Di tempat yang telah diambil, namun, dengan metafisika dari subjecthood, di mana dunia benda disampaikan kepada perencanaan oleh subjek manusia.Yang pasti, para dewa metafisika kosmologi yang mati. Namun, ini hanya mungkin berdasarkan modem metafisika dari subjecthood. Yang terakhir telah mengungkapkan kepada manusia kebebasan di atas terhadap dunia sebagai karya mungkin tangannya. Dengan demikian itu menuntut manusia pada saat yang sama juga tanggung jawab untuk dunia. Penghematan kemanusiaan manusia di tengah-tengah budaya industri karena itu terlihat pada budidaya dan pengembangan ini metafisika dari subjecthood.
H.Schelsky menasihati kita untuk merenungkan sekali lagi tentang kekuatan batin yang, pada spiritualitas di luar hubungan yang telah dikurangi dengan syarat materialis. Dia melihat kemungkinan ini metafisika dalam peradaban teknis ilmiah kami sebagai terdiri dalam sikap mental konstan refleksi metafisik. Ini adalah bentuk yang berpikir subjek terus menerus berusaha untuk mempercepat depan objektifikasi sendiri, dan dengan demikian meyakinkan dirinya keunggulan untuk proses dunia sendiri. subjektivitas mencerminkan yang tidak meyakinkan memperluas dirinya dalam pemenuhan sosial atau tidak menderita dirinya ini ditentukan oleh sosial kekuatan, kesadaran moral yang tidak menemukan dalam realitas sosial atas dasar konklusif untuk mengkonfirmasi atau menolak itu, keyakinan agama yang tidak merasa dirinya akhirnya terikat untuk setiap realitas sosial, bahkan tidak sendiri. Namun banyak dari refleksi nya itu mungkin tunduk menyerah kepada proses mekanis, ia menjadi kaya hanya dengan demikian, karena kekuasaan selalu baru aliran refleksi kepadanya dari sebuah kekuatan batin tak habis-habisnya dan tak terbatas. Dengan cara ini, sikap mental refleksi metafisik konstan. subjek nyata-nyata mencerminkan dirinya dari semua objectifications tersebut, membawa mereka kembali lagi ke dalam dirinya dan kebebasan, dan keuntungan dari diri sendiri tak berujung serbuan yang merupakan kemungkinan baru. Semua realitas sosial ditelusuri kembali lagi di detasemen refleksi dan ironi dengan kemungkinan-kemungkinan yang timbul dalam subjek. Ini adalah jelas bahwa di balik ini saran untuk menyelamatkan kemanusiaan di sana berdiri konsep subjektivitas transendental ditemukan dalam idealisme awal dan dikembangkan oleh Fichte.




2.5.3. Agama sebagai pemujaan pri-kemanusiaan
Sejak awal revolusi industri reaksi romantis dengan kondisi yang tampaknya untuk merampok orang kemanusiaannya telah menempel lagi dan lagi dan dalam bentuk yang selalu baru dengan gagasan masyarakat. Komunitas manusia sejati adalah bahwa antara manusia dan manusia, yaitu masyarakat di mana manusia menemukan dirinya sendiri dengan menyerahkan dirinya untuk yang lain. Dalam tulisan ini Bultmann tampaknya mengambil ide-ide masyarakat yang dikemukakan oleh F. Tönnies, ini berupa pengungkapan lengkap personal-kemanusiaan bersama dalam masyarakat. ini kemudian selalu diatur dalam hubungan polemik dengan lawannya dalam konsep masyarakat: masyarakat adalah, buatan sewenang-wenang, pengaturan diselenggarakan antara laki-laki untuk tujuan praktis dan resmi. Faktor yang dominan di dalamnya tidak akan menjadi konvensi sendiri, melainkan rasional purposefulness, dan pendekatan bisnis. Hal ini menunjukkan komunitas dan membawa manusia hanya menjadi suatu kemiripan keberadaan. Masyarakat semacam ini terlihat di atas semua di kota besar industri tersebut, Namun dalam proses kemajuan masyarakat industri ini ideal masyarakat juga telah kehilangan kekuasaan revolusioner dan telah terintegrasi ke dalam sistem industri. Hal ini sering ditunjukkan oleh sosiolog dan kritikus budaya bahwa masyarakat modern tidak dengan cara apapun dalam perjalanan untuk menjadi semut bukit-totaliter di mana setiap aktivitas apapun dan diatur oleh peraturan dan ketentuan, tetapi bahwa usia kesesuaian dan ketidakcakapan untuk memilih-milih, organisasi yang luas dan menggabungkan ekonomi, adalah pada saat yang sama juga usia kecil, kelompok spesialis dan hubungan rahasia dalam lingkaran sempit. Super organisasi dan makro-struktur di dunia ekonomi akan dijawab oleh-struktur mikro dari kelompok-kelompok informal, lembaga, masyarakat,klub,dll. Disini isolasi manusia diperiksa, dan ini, informal lembaga resmi yang secara nyata memperoleh peningkatan signifikansi.

2.5.4. Agama sebagai pemujaan terhadap lembaga
Kecenderungan terhadap pelembagaan kehidupan publik, bersama dengan lact bahwa seni dan ilmu telah menjadi begitu abstrak yang hanya karikatur dari mereka sekarang dapat menemukan aplikasi ideologis, telah memiliki hasil bahwa orang Kristen. agama adalah dibiarkan sendiri dan terlindung pada bidang ideologi dan pandangan dunia di negara-negara industri maju. Darwinisme dalam sehari itu pahit ditentang oleh pengakuan Kristen. genetika modern, bagaimanapun, konsekuensi teknis yang berada di luar jangkauan kami visi, tidak mengganggu mereka, karena ini adalah ilmu kompleksitas tak terbatas dan tidak dapat berubah menjadi lawan spekulatif. sesuai teologi Kristen menemukan dirinya dalam posisi mampu menegaskan suatu neo-dogmatisme dan mengatakan hal-hal yang tidak dapat dibuktikan atau diperebutkan atas dasar pengalaman nyata, dan yang karenanya dapat memperoleh untuk manusia modern karakter mengikat yang ia tidak bahkan perselisihan lagi.

2.5.5. Kekristenan dalam Horizon dari Ekspektasi Kerajaan Allah
Kekristenan memiliki esensi dan tujuannya tidak dalam dirinya sendiri dan tidak ada sendiri, tetapi hidup dari sesuatu dan ada untuk sesuatu yang mencapai jauh di luar itu sendiri. Jika kita akan memahami rahasia keberadaan dan mode yang perilaku, kita harus menyelidiki misinya. Jika kita akan mengerti esensinya, maka kita harus menyelidiki bahwa masa depan yang menjadi set harapan dan harapan. Jika Kristianitas dalam kondisi sosial baru sendiri telah kehilangan bantalan dan menjadi tidak pasti, maka harus sekali lagi mempertimbangkan mengapa ada dan apa tujuannya. Hal ini umumnya diakui hari ini bahwa Perjanjian Baru menganggap Gereja sebagai komunitas keselamatan eskatologis, dan sesuai berbicara tentang pengumpulan dan mengirimkan masyarakat dalam hal sebuah cakrawala harapan eskatologis. Kristus bangkit panggilan, mengirim, membenarkan dan menguduskan manusia, dan dengan demikian mengumpulkan, panggilan dan mengirim mereka ke masa depan eskatologis Nya bagi dunia. Oleh karena itu komunitas Kristen tidak hidup dari dirinya sendiri dan untuk dirinya sendiri, tetapi dari kedaulatan Tuhan yang bangkit dan untuk kedaulatan kedatangan Dia, yang telah menaklukkan kematian dan membawa kehidupan, kebenaran dan kerajaan Allah.

III.Tanggapan Teologi

Wolfhart Pannenberg meletakkan teorinya tentang teologi pengharapan dimulai dari Kerajaan Allah. Sama dengan Moltmann, Pannenberg melihat bahwa iman Kristen adalah didalam eskhatologi. Hanya saja dia memulai teologinya dengan Kerajaan Allah, dimana pemahaman tentang masa depan eskhatologi akan membawa kepada Tuhan sendiri. Keberadaan Tuhan dan Kerajaan-Nya hadir bersamaan dan tidak bisa dipisah- pisah. Konsep eksistensi Tuhan hanya dapat dibuktikan dengan benar didalam kerajaan-Nya dimasa depan . Pengalaman kebangkitan Kristus pada masa lalu, hendaknya bukan merupakan sesesuatu yang muncul pada waktu kini, tetapi sebagai pengharapan dimasa depan. Gereja hanya dapat dipahami ketika terkait dalam hubungan dengan dunia. Poin utama gereja haruslah Kerajaan Allah,yang dikerjakan bersama dengan masa depan dunia. Teologi pengharapan yang dikemukakan oleh Johannes Bmets lebih memberikan penekanan pada perbaikan system politik dan ekonomi dari masyarakat kontemporer. Gereja sangat diharapkan Metz menjadi satu dengan dunia. Gereja hadir untuk semua orang, sebab semua orang menjadi subjek didalamnya .
Joao Batista Libanio, seorang teolog berkebangsaan Brazil juga mengungkapkan refleksi teologisnya tentang harapan. Meski tidak secara eksplisit mengungkapkan refleksi teologis tentang eskatologi namun dalam merefleksikan realitas penderitaan masyarakat Brazil serta kaitannya dengan iman kepada Kristus, Libanio mengungkapkan beberapa pokok refleksi antara lain adalah pengharapan adalah kategori pusat dari Kerajaan Allah yang mempersatukan Utopia, harapan dan impian dari umat Israel dan para papa miskin. Dengan persatuan antara Kerajaan Allah di dunia dalam sejarah serta transendensi Allah, segenap umat manusia dibawa kepada pembebasan, terutama bagi mereka yang miskin dan menderita. Melalui kebangkitan Kristus, dimana merupakan tindakan cinta yang paling dasariah dari Allah, signifikansi eskatologi dari keberpihakan Allah terhadap orang miskin menjadi semakin jelas. Barangsiapa yang menderita begitu besar dalam sejarah, barangsiapa yang hidup dalam kelemahan, kehinaan sekarang ini berbagi dalam kemenangan, kekuatan dan kemuliaan Allah yang telah membangkitkan Yesus dan yang akan membangkitkan orang-orang miskin di tengah dunia ini.




IV. Kesimpulan Dan Saran

4.1. Kesimpulan
Setelah membahas tentang buku ini, kelompok kami dapat menyimpulkan bahwa pengharapan itu ada dalam Kristus. Akan tetapi, berharap didalam Kristus bukanlah suatu hal yang mudah, karena dengan kata lain berharap dalam Kristus harus ikut menderita dan berdamai dengan Allah. Maka, dapat dikatakan bahwa mengikut Kristus adalah berlawanan dengan dunia. Artinya, jika seseorang hendak mengikut Kristus maka, itu tidak sesuai dengan hal-hal yang duniawi. Seseorang yang mengikut Kristus, pastilah mendapat banyak hambatan yang kan menjadi tantangan baginya dalam mengikut Kristus.
Sebagai tema pikirannmya, Moltman dalam buku ini menggunakan kata “harap” dan “eskatologi”. Moltman mengarahkan eskatologi sebagai “kebenaran” dari suatu teologi dan sebagai kunci untuk mengerti teologi secara keseluruhan. Eskatologi adalah harapan atau melihat jauh kedepan juga perubahan, karena itulah revolusi juga adalah merupakan kunci dari segala sesuatu bagi umat Kristen.
Dosa dan maut adalah nyata, dimana maut adalah upah dari dosa. Akan tetapi, dengan terjadinya penyaliban Kristus dan dengan kebangkitan-Nya dari kematian telah mengalahkan segala dosa juga maut. Dalam hal ini, revolusi telah membawa orang Kristen menjadi “krisis identitas”.



4.2. Saran
Setelah membaca dan membahas buku ini, kami dari kelompok menyarankan supaya buku ini dibaca oleh setiap mahasiswa/i, secara khusus mahasiswa/i teologi. Karena dalam buku ini dijelaskan apa dan bagaiman pengharapan itu. Dimana, Kristus adalah pusat harapan itu sendiri, akan tetapi berharap dalam Kristus itu bukanlah hal yang mudah. Kerena itulah dalam buku ini juga dijelaskan, bahwa setiap orang yang berharap dalam Kristus harus ikut menderita. Semua hal itu dijelaskan dalam buku ini. Karena itulah, buku ini sangat cocok untk mahasiswa/i, karena akan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran kita.










Daftar Pustakaan


Jurgen Moltman,

1965 Theologia of Hope, SCM Press LTD: Bloomsbury Street London


F.L.Bakker

2007 Sejarah Kerajaan Allah 1, Jakarta : BPK-Gunung Mulia


David.J.Hesselgrave

2009 Kontekstualisasi, Jakarta ; BPK-Gunung Mulia


Millard J Ericson
2004 Teologi Kristen Vol 1, Malang : Gandum Mas


Harvie M Conn
1996 Teologi Kontemporer, Malang : Seminari Alkitab Asia Tenggara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ilmu Alamiah Dasar Sepuluh Misteri Tata Surya