Teologi Sosial (penelitian di tanjung pinggir P.siantar . tentang pemulung)
Nama
: Erwin H.
Manurung ........... mahasiswa STT HKBP
Mata Kuliah : Teologi Sosial
Penelitian Teologi Sosial kepada Para
Pemulung
dan Masyarakat
di Tanjung Pinggir P.siantar
I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Ada
pun tugas dari penelitian ini dilakukan
adalah untuk memenuhi syarat tugas Teologi Sosial. Tugas ini memaksudkan
agar mahasiswa dapat melihat realitas sosial, menganalisisnya, menemukan
masalah sosial, membangun refleksi atasnya sehingga mendapatkan teologi praksis yang tepat untuk mengatasi masalah
sosial. Dalam rangka tugas teologi sosial ini kami mengadakan observasi 3
atau minggu sekali yang kami lakukan
setiap hari jumat, sabtu, dan
minggu.kami melakukan penelitian ini dengan semangat .
Saya
memilih Tanjung Pinggir di pematangsiantar karena Tanjung pinggir tempay pembuangan sampah
adalah memberikan peluang untuk melihat secara langsung kehidupan sosial
masyarakat desa yang berada ditanjung pinggir serta melihat sebenarnya bagaimana
kehidupan seorang pemulung disekitar itu atau di TPAS. ketika saya melakukan penelitian pada hari
pertama saya langsung melihat gejala fisik kemiskinan tampak di TPAS ini dan masalah : beberapa penduduk
nampak jorok, kumal dan tidak menjaga kebersihan diri, banyak rumah dari papan
yang sudah tua, beberapa keluarga tidak memiliki kamar mandi, sehingga mandi
dan mencuci di sawah dan warung tuak yang padat dikunjungi kaum Bapak setiap
malam bahkan café-café yang begitu marak dilingkungan tanjung pinggir tersebut.
Dengan keadaan tersebut saya sebagai mahasiswa teolog mempunyai asumsi bahwa tanjung pinggir ini sebagai wilayah
TPAS memiliki banyak permasalahan sosial
oleh sebab itulah saya terjun kelapangan untuk meneliti.
Setelah saya pertimbangkan dengan
matang-matang di atas maka saya memutuskan untuk melakukan penelitian dengan
konsentrasi pada kehidupan pemulung di TPAS yang ditinjau dari bidang ekonomi,
sosio-kultural, gereja dan politik dan saya berharap tujuan penelitian ini
bermanfaat bagi kami (kelompok) seorang calon teolog
1.2.
Metode
Observasi
Untuk
memperoleh data kehidupan para pemulung di TPAS, saya dan kelompok melakukan metode
observasi sebagai berikut:
1) Ikut membantu.
Saya sebagai peneliti/ observasi tinggaldi tanjung pinggir di TPAS selama tiga
hari dalam satu minggu atau kadang 2
x seminggu (Jumat,
Sabtu, dan Minggu) yang dilakukan selama empat minggu berturut-turut ikut
membantu para pemulung sambil mengajak para pemulung teresebut bicara tentang
kehidupanya.
2) Wawancara. Kami mengadakan
wawancara dengan beberapa responden untuk mendapatkan informasi sehubungan
dengan penduduk di tanjung pinggir dan keadaan para pemulung yang di TPAS. Kami
mewawancarai kordinator atau mandor yang
bertugas di TPAS itu, para pemulung, penduduk desa yang disekitar itu, ibu-ibu,
pemilik warung kopi, anak-anak, dan pemuda.
3) Pengamatan Langsung. Pengamatan
dilakukan untuk melihat langsung kehidupan penduduk dan membuktikan kebenaran
informasi yang telah kami terima dari para responden. Hal-hal yang kami amati
adalah lokasi TPAS, , warung tuak, warung kopi, ibu-ibu dan bapak-
bapak yang bekerja di TPAS, lalu lokasi
sejarah TPAS itu berdiri di tanjung
pinggir.
4)
Mencari data dari kantor kelurahan.
1.3.
Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.
Untuk mendeskripsikan kehidupan sosial
masyarakat tanjung pinggir dan kehidupan para pemulung di TPAS ditanjung
pinggir pemaatangsiantar serta
menganalisis kehidupan mereka melalui analisis sosial.
2.
Hal ini kami lakukan untuk menemukan
masalah sosial yang terdapat dalam masyarakat yang disekitar tnajung pinggir
dan kehidupab para pemulung yang di TPAS
sebagai landasan untuk membangun refleksi teologis dan praksis yang
kreatif.
1.4.
Waktu
Penelitian
Waktu
penelitian dilakukan empat tahap penelitian, yakni:
1.
Tahap ke I, pada tanggal 1-2-3 Maret
2012.
2.
Tahap ke II, pada tanggal 9-10 Maret
2012.
3.
Tahap ke III, pada tanggal 16-17 Maret
2012.
4.
Tahap ke IV, pada tanggal 23 Maret2012
5.
Tahap Ke V, pada tanggal 24 Maret
2012
6.
Tahap
ke V1 Pada tanggal 4 April 2012
7.
Tahap
Ke VII Pada tanggal 8 April 2012
8.
Tahap
VII pada Tanggal 13 April 2012
II.
DESKRIPSI
2.1.
Sejarah Tanjung pinggir sebagai TPAS
Awalanya tanjung
pinggir adalah suatu desa yang akan dibangun sebagai tempat terminal dan
sebagai tempat pembangunan perumahan
pemerintahan kota pematang siantar tapi karena banyaknya masalah sosial seperti
masalah pereman-pereman yang pada saat itu banyak menjadi penguasa yang meresakan warga, pereman-pereman disitu
waktu itu kepalanya A. damanik yang
beretentangan dengan pereman P. siahaan dan P.
silalahi. Pereman saat itu yang menjadi penguasa adalah siapa yang lebih
kuat. Sehingga dengan keadaan seperti itu maka pemerintah tidak melakukan pembangunan
disitu. Pada tahun 1992 tanjung
pinggir menjadi TPAS yang merupakan tanah dari pak G. sitorus
yang disewahkan ke pemerintah pematang siantar selama 20 tahun, dan
akhir dari masa penyewahan lahan itu bulan 8 tahun 2012 ini. Adapun lahan TPAS
itu yang disewahkan adalah seluas 2 ½ hektar.
TPAS Tanjung Pinggir,
berdiri pada tahun 1992, luasnya 25 hektar dan yang terpakai sebesar 12 hektar
atau 60 rante yang letaknya di RT
Suka Mulia Jl.Tuan Rondahaim Saragih, Kelurahan Tanjung Pinggir, Pemerintahan
Kota Pematang Siantar. Ini merupakan tanah milik Bapak
Sitorus, yang di kontrak oleh pemerintah selama 12 tahun, namun diperpanjang
hingga bulan Agustus 2012, dan direncakan akan dipindahkan ke dearah
Sibatu-batu, Jl. Gurilla. Dalam proses pengangkutan sampah ada 26 unit truk
pengangkut sampah dan setiap unit beroperasi sebanyak 2 kali dalam sehari,
salah satu supir sampah adalah Bpk.Sidabutar. Di dalam lokasi juga terdapat 2
alat berat (buldozer), yang digunakan untuk mendorong sampah ke dalam. Alat
berat tersebut diambil dioperasikan oleh 3 orang, yaitu: Bpk. Saragih Sumbayak,
Bpk. Simbolon, dan Bpk. Manurung dan mereka menerima gaji dari pemerintah.
Adapun jam kerja mereka, yaitu: pkl. 11.00-15.00, lalu 15.00-16.00 mereka
istirahat dan kembali bekerja pada pkl. 16.00-18.00.
Di TPAS terdapat lebih dari 50 pemulung,
yang pada umunya bersuku Batak, dan hanya 5 yang bersuku Jawa, namun jumlah
pemulung akan bertambah jika libur sekolah, karena anak-anak akan membantu
orang tuanya bekerja (memulung). Pada umumnya, mereka bekerja dari jam 07.00
WIB- 18.00 WIB, dan dilakukan setiap hari, namun pada hari Minggu, TPAS akan
sepi karena sebagian besar adalah beragama Kristen dan mengikuti ibadah tiap
minggunya. Menurut Ibu.br. Siregar, bahwa ada yang bekerja dari jam 06.30 WIB,
karena mobil pengangkut sampah datang pada jam tersebut. Tidak ada persaingan
di antara mereka. Ketika mobil sampah datang, semuanya sama-sama bekerja untuk
dirinya masing-masing. Di tempat tersebut ada sekitar 4 buah pondok tempat
mereka istirahat, dan ketika hujan datang.
Di TPAS ini mereka
mengumpulkan sampah yang mereka kutip untuk dijual, berikut ini adalah
jenis-jenis sampah mereka kumpulkan dan harga setiap sampah tersebut, yaitu:
·
Plastik kresek, harus dikoyak terlebih
dahulu supaya lebih cepat kering, ini berharga Rp. 1.400,-
·
Plastik putih (seperti plastik gula)
yang dicuci dan kering, berharga Rp.5.000 per kilo
·
Plastik putih yang tidak dicuci berharga
Rp. 2.500 per kilo
·
Aqua gelas berharga Rp. 2.000,- per kilo
·
Aqua botol berharga Rp. 2.800,- per kilo
·
Aqua botol warna (aqua botol seperti
botol Sprite) berharga Rp. 2.500,- per kilo
·
Warna (baskom dan sejenisnya), Rp.
4.000,- per kilo
·
Kaca, Rp. 400,- per kilo
·
Ale-ale, Rp. 1.500, per kilo
·
Atom (kaset Cd), Rp. 1.200,- per kilo
·
Tembaga, Rp. 68.000,- per kilo
·
Aluminium, Rp. 40.000,- per kilo
2.2. Pemulung
Pemulung adalah orang yang memungut barang-barang bekas atau
sampah
tertentu untuk proses daur ulang. Pekerjaan pemulung sering dianggap
memiliki konotasi negatif. Ada dua jenis pemulung : pemulung lepas, yang
bekerja sebagai wirausaha, dan pemulung yang tergantung pada seorang bandar
yang meminjamkan uang ke mereka dan memotong uang pinjaman tersebut saat
membeli barang dari pemulung. Pemulung berbandar hanya boleh menjual barangnya
ke bandar. Tidak jarang bandar memberi pemondokan kepada pemulung, biasanya di
atas tanah yang didiami bandar, atau di mana terletak tempat penampungan
barangnya. Pemulung merupakan mata rantai pertama dari industri daur ulang.
Per harinya, volume sampah di Kota Pematangsiantar ditaksir mencapai 240 ton.
Namun, banyaknya sampah tersebut
tidak sebanding dengan sarana dan prasarana yang tersedia, seperti dump
truck dan bulldozer. “Volume sampah 240 ton setiap hari sesuai dengan perhitungan.
Setiap orang dengan jumlah penduduk Siantar mencapai 250 ribu jiwa. Maka setiap
orang mempunyai sampah 0,8 kg. Itu belum termasuk sampah dari Pasar Horas
dan Pasar Dwikora,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kebersihan Kota Pematangsiantar
Khadimin usai mengikuti sidang paripurna Rencana Pembangunan Jangak Menengah
Daerah (RPJ MD) di Gedung Harungguan, Rabu (24/8). Diakui Khadimin, saat ini
Pemko Siantar hanya memiliki 28 dump truck pengangkut sampah, 1 unit
bulldozer dan 643 petugas kebersihan. Sarana dan prasarana itu merupakan
bantuan. “Kondisi dump truck rata-rata berusia tua, seperti lantai dan
dindingnya bocor. Sedangkan bulldozer yang berfungsi sebagai pendorong sampah
di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Pinggir juga kewalahan sebab hanya
ada 3 bulldozer yang disitu. Sedangkan
untuk membeli spare part bulldozer harus ke kantor pusat Cartepilar
Jakarta.
2.3.
Wawancara
Kami melakukan
wawancara dengan para pemulung yang ada di TPAS dan warga yang ada disekitar
TPAS seperti penjaga warung.
2.3.1.Wawancara dengan Para Pemulung
Beberapa
responden
Responden
I
Suami : P. saragih
Istri
: J. Panjaitan
Anak :
5 orang anak
Pekerejaan : pak saragih kordiantor TPAS, sementara si ibu adalah
Pemulung
Agama :
Islam
Suku :
Batak Simalungun (suami), Batak toba (Istri)
Pertanyaan:
Peneliti : Pertama saya memperkenalkan
diri,” horas amang!
Pak saragih : horas!
Peneliti : Erwin manurung do au amang
Pak saragih : saragih sumbayak (dengan memakai
bahasa Indonesia bapak itu),sedang ngapain kalian kesini (dengan nada yang
keras, sebab bapak itu sibuk mengurusi truk sampah yang masuk)
Peneliti : lalu saya menanyakan dengan
nada yang sopan dan lembut….. “ bapak tidak istirahat dulu biar saja saya yang
lanjutkan.
Pak saragih :
tidak boleh … dia tersenyum , kamu ada-ada saja … ini sudah kerja ku,
nanti juga saya istirahat,
Peneliti : oh…!
Lalu gak lama kemudian
bapak itu duduk disofa yang sudah rusak dan bau, bapak itu beristirahat, dengan
wajah yang ramah kami kelompok menjumpai bapak itu dan membawa gorengan.
Peneliti : pasti bapak uda capek ya!,
pak kami tadi bawa goreng dari kampus.
Pak saragih : ba, dari kampus mana
kalian?
Peneliti : dari STT HKBP P. siantar pak, kami mahasiswa
dari STT HKBP, kami mendapat tugas dari
dosen kami tentang kehidupan yang sebenarnya bagaimana kehidupan sosial yang
terjadi saat ini, dan kami calon teolog harus melakukan penelitian bukan hanya
teori saja pak.
Pak Saragih : oh…bagus itu, lalu
bapak itu mengatakan tentang dirinya dan tentang keaadan Tanjung pinggir. Kalau
saya disini adalah sebagai mandor sebagai kordianator TPAS.kami kordinator ada
3 orang yaitu marga simbolon, manurung,
dan saya sendiri.
Peneliti :
ibu(istri dari sibapak) itu br apa amang boru?
Pak saragih : br panjaitan, ibu itu juga kerja disini
(sebagai pemulung), nambah-nambah uang masuk untuk keprluan sianak yang
sekolah, keprluan dapur dll, kalau gaji saya wa.. gak sangguplah, untuk
keperluan anak sekolah aja sudah habis
Peneliti
: jam berapa saja bapak istirahat dan
mulai bekerja lagi?
Pak saragih
: kalau pagi itu yang menkordinator itu pak manurung mulai jam 06.00 pagi
sampai jam 11.00 pagi jam 11.00- 15.00. saya, jam 15.00. 17.00. pak
simbolon, jadi jam istirahat saya itu saya pergantian ship.
Peneliti
: berapa truk kah sampah dalam satu hari
itu pak yang dibuang ke TPAS ini?
Pak saragih :
kalau satu hari itu ada 50 truk lain dari sampah pribadi yang masuk kesini,
contohnya : jika ada pembuangan
sampah dari perusahaan pribadi.
Penelit :
apa boleh pak sampah pribadi dibuang kesini?
Paka saragih :
boleh, tapi mereka harus membayarnya 5000 atau 10.000. umtuk uang minyak
bulldozer.
Peneliti
: berapa hekta pak luasnya TPAS ini,.
Pak saragih :
luas nya TPAS ini sekitar 2 ½ hektar.
Peneliti : apakah tanah TPAS ini milik Pemko?
Pak saragih
: tidak! tanah ini milik pak G. sitorus
yang disewakan kepemerintah. 20 tahun. Dan bulan 8 ini juga sudah habis masa
aktif kontrakan ini.
Peneliti
: lalu kemana akan dipindahkan Pak?
Pak saragih
: kemungkinan akan dipindah ke si batu-batu, jalan gurila timur.
Setelah lama kami
berbincang-bincang saya peremisi untuk meneliti para pemulung yang ada
disitu,
Peneliti :
amang boru saya kesana dulu ya?
Pak saragih
: silakan … baik-baik nya mereka itu
Responden
2
Bapak :
Sugiyanto
Ibu :
yanti
Anak :
6 orang anak
Agama :
Islam
Lama bekerja : baru 2 tahun
Alamat :
Jln. Tanjung pinggir, Gang Persatuan.
Saat menemui bapak ini,
siabapak dalam keadaan sibuk memungut botol aqua yang kosong di TPAS, namun
tidak menghambat saya untuk meneruskan penelitian saya, saya pertama
memperkenalkan diri kepada pak sugiyanto sambil meyalam tanganya, dia pun
terkejut dan megatakan “ ada apa ya dek? Kok spertinya penting kali ya? Soalnya
teman-teman mu juga ada disana ?” lalu saya mejawabnya : “ oh…., begini pak
sebenarnya kami ini dari sekolah STT HKBP P. siantar , kami ada tugas dalam
mata kulia teologi sosial”. Lalu sibapak itu mejawab dengan rasa bingung:
dimana STT HKBP, saya mejawabnya “ STT HKBP itu dekat FKIP nomensen pak!.. lalu
bapak itu mulai mengertisetelah saya menjelaskan lebih detai. Kemudian saya
bertanya kepada pak sugiyanto: kalau boleh saya tau bapak sudah berapa lama
kerja disini? Bapak itu mejawabnya; saya sudah 8 tahun bekrja disini, ya
namanya juga cari makan dek, saya tidak tahu lagi harus kerja kemana, sebab
bapak pun hanya tamatan SD. Lalu saya bertanya : kalau ibu kerja dimana pak?,
oh kalau istri saya kerja sebagai tukang jualgoreng-gorengan setiap pagi di
parluasan untuk kebuthan dapur dan juga kebutuhan anak-anak sekolah, ya bapak
mempunyai 6 orang anak. Sibapak juga megatakan bahwa anaknya sebenarnya ada 4
tapi yang 2 adalah anak saudaranya yang dititipkan orangtuanya. Sebab istri
dari dari saudaranya itu telah meninggal dunia jadi saudaranya menitipkanya
kepada bapak itu. Bapak itu juga menceritakan bahwa sebenarnya dia dulu
terpaksa memulung karena factor ekoniminya yang sangat terbatas, dulu bapak ini
sebagai supir mobil sinar siantar tapi karena sibapak bermasalah dengan toke
mobil sinar siantar dia dipecat. Dengan hal itu sibapak mengambil jalan pintas
untuk jadi pemulung sebab dia sering tertekan dengan toke itu,…. Dan sibapak
pun kadang pinggangnya sakit jika berlama-lama duduk di kursi angkot, lalu saya
terkejut dan mengatakan ; maaf pak, apakah bapak tidak capek juga kalau dengan
per\kerjan begini soalnya bapak juga kan duduk sambil mengutip kara-kara ini,
lalu bapak itu tersenyum dan mengatakan : dek kalau mengutip ini kan bisa
istirahat, bisa diri bisa tidur-tiduran ditanda-tenda itu (sambil menunjukan
kearah tendahnya yang sangat jelek) lalu saya tersenyum “ohhhh… maaf pak”lalu
bapak menjawab ‘gak papa kok” dengan sekian lamakami berbicara sambil mengutip
botol aqua saya menawarkan air aqua dan
gorengan dan juaga saya menwarkan rokok surya,
bapak itu sangat senang dia mengatakan
“ makasih ya dek”. Lalu saya mengatakan : pak ini kan hari jumat tidak Sholat
dulu? Bapak itu menjawab oh… dek sholat
bisa saja kita lakukan tanpa harus dimesjid, dan bapak kalau sholat itu memang
jarang kalau sian hanya sholat subuh dan sholat magrib aja,. Dan saya juga
melanjutkan pertanyaan giman pak dengan kehidupan bersosial disini apakah ada
seperti perbedaan rasa atau suku atau perbedaan agama disini pak? , kemudian
bapak itu menjawab: oh kalau kami shy disini tidak pernah membeda-bedakan soal
itu, kami disini kompak lah .. kami juga disini kan cari makan… dan sudah
pengertian, orang kita batak disini baik-baik semua lagian saya kan sudah lama
disiantar ibu saya itu br saragih. Saya juga menanyakan tentang bagaimana
kepedulian pemerintah terhadap pemulung.. bapak itu mengatakan bahwa sampai
sekarang pemerintah tidak pernah memperhatikan tentang kesehatan pemulung yang
ada di TPAS.
Bapak
sugiyanto dalam satu minggu hanya mendapatkan penghasilan 300 ribu jadi dan
bapak sugiyanto biasanya menjualnya setiap hari sabtu jam 4 sore sebab toke
sudah datang menjemput kara-kara tesebut. Bapak sugiyanto bisasanya meyimpan
kara-kara itu dekat gubuk-gubuknya. Pak sigiyanto juga mengatakan bahwa
kara-kara itu tidak akan hilang sebab disini tidak ada yang ngambil apalagi
sudah sama-sama kenal. Setelah lama lama kami berbinjang –binjang saya permisi
sama bapak itu. Dan saya meneruskan langkah saya kekantin dekat pinggir jalan
karena saya sudah merasa lelah dan tak tahan dengan baunya sampah yang begitu
meyengat membuat kepala ku pusing
Responden 3
Ibu :
Oshin Siahaan
Suami :
Simbolon (+)
Status :
janda
Pekerjaan : penjaga warung kopi
Anak :
2 orang anak
Tinggal :
dekat pinggir jalan TPAS
Beberapa
menit setelah saya melakukan penelitian itu dari pak sugiyanto saya pergi kedai
kopi dekat pinggir jalan yang tidak jauh dari TPAS. disini saya juga
memperkenalkan diri kepada inang br siahaan itu yang berstatus janda yang
mempunyai 2 anak. Inang br siahaan itu sudah satu tahun berstatus janda sebab
suaminya marga simbolon sudah meninggal dunia akibat dari penyakit Stroke. Dia
menceritakan bahwa suaminya meninggal akibat memikirkan pendapatanya yang tidak
memuaskan. Inang siahaan setiap harinya berjaualan mie rebus dan minuman kopi
dan teh manis harga kopi rp 3000 sedangkan teh manis rp 2000 dan harga
rokok dji sam soe Rp 1000/batang,
sampoerna Rp 1000/batang, Surya Rp 1000/batang
X mile Rp. 800/batang sedangkan galang sebungkus Rp.
5000 Terkadang juga inang siahaan itu mau mengutip botot-botot jika ada waktu
senggang, namun menurut inang siahaan itu dia kadang tidak tahan sebab jika dia
berlama-lama dekat TPAS itu inang itu mau muntah. Inang siahaan itu juga
menceritakan tentang ananknya yang sangat bandal. Dulu inang siahaan itu rajin
mengutip kara-kara atau botot-botot di TPAS sewaktu anaknya sekolah, karena
anaknya bandal dan malas sekolah inang siahaan itu berhenti mengutip kara-kara.
Inang siahaan itu selalu stress melihat ananknya yang tidak bisa diatur. Inang
siahaan itu adalah istri ke tujuh dari almarhum suaminya.
Inang
siahaan selalu menghabiskan waktunya dikedai kopinya sambil melanggani
orang-orang yang memesan kopi ataupun makanan. Inang siahaan itu juga sangat
kuat merokok karena stress. Melihat keadaan anaknya dan setelah ditinggal oleh
suaminya (meninggal dunia) satu tahun yang lalu. Inang siahaan ini juga dia
bilang sejak ditinggal suaminya dia
tidak pernah gereja.
Menurut Inang
br siahaan ini bahwa TPAS ditanjung pinggir sebenarnya sangat bau
apalagi kalau datang hujan sampah-sampah yang ada di TPAS menguap baunya dan
sampah-sampah banyak berserakan. Terkadang membuat pengendapan dipengaliran
air. Setelah lama kami berbincang kami
sekelompok permisi untik pulang. Dan tak lama kemudian ibu itu meminta agar
kami sering-sering ketempatnya.
Responden 4
Suami : K. Purba
Istri :
D. Damanik
Anak :
4 orang (status anak masih sekolah tetapi pulang sekolah membantu orangtuanya)
Status :
suami penjual tuak dan istri pemulung
Agama : Jemaat dari GKPS EFRATA
Alamat :
jln tanjung pinggir No 154
Pak K. Purba
adalah seorang penjual tuak dikedai
tuaknya dekat pinggir jalan ditanjung pinggir dan juga seorang pemulung,
sementara istrinya seorang pemulung yang setiap hari di TPAS, istri bapak ini
br damanik, bu damanik memulung untuk
membantu suaminya agar dapat mensekolahkan anaknya 4 orang. Dan terkadang pulang sekulah anaknya ikut
membantu orangtuanya memulung sampah. Pak purba kalau siang dia memulung tapi
kalau sore sampai malam hari dia menjual tuak yang dibeli dari toke tuak dan
biasanya tuak yang dijual pak purba ini diantara kerumah pak k purba.
Penghasilan yang didapat pak K Purba dalam satu minggu mejual tuak bersih Rp. 250.000 sedangkan si ibu dalam memulung
seminggu mendapatkan Rp. 300.000 /minggu. Dengan penghasilan yang demikian
mereka dapat mensekolahkan anaknya. bapak ini jarang beribadah sedangkan ibu
rajin beribadah. Menurutnya mereka merasa terbantu dengan adanya TPAS dekat
dengan rumah mereka sebab ini dapat membanti mereka dalam bidang ekonomi. Ibu
D. damanik selalu meyarankan agar suaminya itu rajin beribadah tapi suaminyapun
terkadang mau jika disuruh. Jika tidak diajak suaminya tidur pulas ditempat
tidurnya sampai siang hari.
Responden 5
Ibu : R. Siregar
Status : Janda
Anak
: 3 anak
Agama
:
Kristen Protestan gereja di HKBP Martoba
Suku :
batak
Pekerjaan
:
pemulung
Alamat :
Jln Singa.
Ibu siregar ini adalah warga
jemaat HKBP martoba yang kehidupanya sehari-hari memulung suamminya sudah lama
meninggal dunia. Dia harus memulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan
kebutha anaknya. anaknya paling besar kelas 3 smp si nomor 2 kelas 1 smp sedang
yang paling bungsu kelas 5 SD. Pengahasilanya sebulan sekitar Rp. 800.000 atau
terkadang mencapai Rp. 1000.000 jika ibu
siregar ini mendapatkan banyak kara-kara. Ibu siregar ini hanya tamat sekolah sampai SMP
sehingga dia sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Dan dia tidak bedagang karena
modal ibun siregar ini tidak ada. Ibu siregar ini malu mengatakan kepada
keluarganya bahwa pekerjaanya adlah seorang pemulung. Jika dia pulang kampong
ke padang sidempuan dai selalu mengatakan bahwa pekerjaanya adalah seorang
pengusaha agar family-familinya tidak menganggap dia rendah.
Responden 6.
Nama :
Ibu
Br. Nainggolan (Mak Raffael)
Pekerjaan : Pemulung
Suami : Bapak Purba
Pekerjaan
Suami : Pemulung
Anak : 3 orang
Tempat
Tinggal : Di dekat gereja GKPS
Peniel
Agama : Kristen
Ibu
ini memiliki 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Putrinya yang paling besar
duduk di bangku kelas 5 SD, sedangkan dua putranya belum bersekolah. Menurut
pengakuannya hasilnya dari memulung tidak pernah sesuai dengan harapannya. Ia
mengakui bahwa keluarganya yang lain telah mengetahui profesinya sebagai
pemulung, namun rasa malu itu tetap ada sehingga ia tetap merasa malu untuk
bertemu dengan keluarganya yang lain, bahkan untuk masa natal dan tahun baru
mereka tidak pernah bersilaturahmi ke rumah hula-hulanya.
Kebutuhan
keluarga yang harus mereka penuhi sudah seminimal-minimalnya sebesar Rp.
1.200.000,-. Ibu ini mengatakan bahwa seringkali hasil yang ia dapatkan tidak
sesuai dengan yang diharapkannya. Demikian halnya saat setelah proses menimbang
barang di Tanjung Pinggir, ibu ini bercerita kepada pengamat/ observer bahwa
saat ini harga per kilogram barang yang dikumpulkan olehnya drastis menurun
yaitu yang awalnya dihargai dari Rp. 2.500,-/ kg sempat berubah menjadi Rp.
1.600,-/ kg, hingga turun drastic menjadi Rp. 1.000,- / kg nya. Dengan demikian
dia mengatakan bahwa yang ia peroleh dalam 1 minggu ini hanya Rp. 65.000,-.
Jika dilihat untuk kebutuhan saat ini, nilai nominal Rp. 50.000,- saja dapat
habis dalam waktu dua hari baginya. Apalagi rumah yang ditempatinya adalah
berstatus rumah kontrakan dan pekerjaan memulung adalah pekerjaan pokok ibu Br.
Nainggolan dan suaminya. Selain memulung mereka juga beternak Babi. Rata-rata
pengamat melihat bahwa para pemulung memiliki ternak Babi yang nantinya digunakan
sebagai kebutuhan sendiri dan untuk dijual. Ibu
ini adalah jemaat GKPS dan dikenal rajin beribadah di GKPS Peniel. Hal ini
dapat diketahui setelah pengamat berbincang-bincang dengan anaknya, serta
ketika pengamat berbincang-bincang dengan tetangga-tetangga disekitar
kediamannya.
Responden 7
Nama :
Bapak Nababan (Bapak Togar)
Pekerjaan :
Pemulung dan Usaha pembibitan benih ikan
Istri :
Ibu br. Nainggolan
Pekerjaan Istri :
Pedagang ikan air tawar
Anak :
5 orang
Tempat Tinggal : Desa Tanjung Pinggir
Agama : Kristen
Melalui
penuturan bapak Togar Nababan dapat diketahui oleh pengamat/ observer bahwa sebelumnya pekerjaan Bapak Nababan bukanlah sebagai pemulung. Ia bekerja bergerak
dalam bidang usaha pembibitan benih ikan. Namun dikarenakan ia mengalami
kerugian akibat ikannya terkena wabah virus yang menyerang benih-benih ikan dan
ikan indukan hingga mati, maka beliau menjadikan profesi memulung sebagai
alternative tambahan lain. Namun, hingga saat ini beliau masih memiliki
sisa-sisa benih ikan. Pekerjaan
sebagai pemulung sebenarnya saat ini menjadi pakerjaan alternatif baginya untuk mencari modal
dalam melakukan pembibitan ikan yang sebelumnya telah ia lakukan. Bapak
Nababan seringkali memulung bangkai ayam yang telah mati di TPAS Tanjung
Pinggir bahkan terkadang iapun harus membeli bangkai ayam dari pemulung lainnya
dengan harga Rp. 1.000,- per ekor. Menurut penuturannya, bangkai ayam tersebut
hendak digunakan sebagai bahan makanan bagi ternak ikan lelenya.
Bapak
nababan dalam pekerjaannya sebagai pemulung bangkai ayam dan kawat ban hanya
bekerja seorang diri di TPAS. Sebab Isterinya berprofesi sebagai pedagang ikan
air tawar di Pajak Parluasan. Profesi memulung bangkai untuk makanan ikan
lelenya dilakukannya hanya untuk
mengurangi biaya pengeluaran bagi pakan ternak ikan lelenya. Namun, jika ia
merasa bahwa bangkai yang ia dapatkan adalah masih sangat kurang maka ia akan
membeli bangkai tersebut dengan harga Rp. 1.000 hingga Rp. 2.500,- per ekornya.
Ia memiliki 3 orang anak laki-laki yang saat ini duduk dibangku pendidikan SD
Kelas 2, 5, dan 6.
Untuk
menekan biaya pengeluaran dalam rumah tangganya, bapak Nababan memulung bangkai
untuk ternak ikan lelenya. Sedangkan Istrinya berprofesi sebagai pedagang ikan
air tawar di pasar parluasan. Biasanya setiap pagi, Bapak Nababan membantu
istrinya berjualan ikan di pasar parluasan sejak jam 06.00 pagi hingga jam
11.30 wib. Kemudian dari pasar bapak Nababan akan ke TPAS untuk memungut dan
membeli bangkai kepada pemulung serta mengumpulkan ban bekas untuk dibakar dan
diambil kawat logamnya. Selanjutnya sekitar pukul 15.00 wib ia akan pulang
kerumahnya untuk menyimpan bangkai bawaannya. Stelah itu ia kembali ke Pasar
Parluasan untuk membantu isterinya dan kemudian pulang ke rumahnya.
Melalui
perbincangan, bapak Nababan tampaknya memiliki pengetahuan Alkitab yang cukup
lumayan mendalam sebagai jemaat. Sebab bapak ini hapal persis ayat-ayat emas
dalam Alkitab PL dan PB. Bapak Togar Nababan tinggal di Bongbongan dengan
status jemaat GKPI.
Responden 8
Nama :
Ibu Br. Siregar
Pekerjaan : Pemulung
Suami : Bapak Situmorang
Pekerjaan
Suami : Peternak Kerbau
Anak : 5 orang
Tempat
Tinggal : Desa Tanjung Pinggir
Agama : Islam
Ibu br. Siregar ini
sudah menikah dengan Bpk. Marga Situmorang yang beragama Islam. Ibu ini tinggal
di sekitar TPAS tersebut. Ibu ini memiliki 5 anak, 2 sudah bekerja dan yang
sedang berada dalam tanggungan hanya ada 3 orang, 1 sedang duduk di bangku SMK,
1 dibangku SMP dan yang 1 lagi sedang duduk di bangku kelas 6 SD. Yang bekerja
sebagai pemulung di keluarga ibu tersebut hanya ibu itu sendiri, karena
suaminya bekerja sebagai peternak kerbau. Ibu ini bekerja sebagai pemulung
sudah 4 tahun. Ibu ini juga telah merasakan kenyamanan di tempat ini. Namun,
Ibu ini pernah terkena jarum suntik hewan dan harus dirawat di rumah sakit
karena hal tersebut. Dari penelitian yang saya lakukan, ibu ini memulung tidak
hanya untuk dijual tetapi juga digunakan di dalam rumah tangganya, seperti busa
tempat tidur yang ia bawa ke rumah dan daun sop yang dipungut dari truk sampah
untuk dijadikan bahan masakan di rumahnya. Ibu ini mengatakan bahwa pendapatannya per
minggu adalah Rp.250.000,- dan perbulan rata-ratanya adalah Rp. 1.100.000,-.
Ibu ini bekerja dari jam 09.00WIB – 18.00 WIB setiap harinya. Sama dengan ibu br.
Sihombing, Ibu br. Siregar ini menjual sampah jenis plastik sekali dalam
seminggu dan sampah jenis lainnya sekali dalam sebulan.Di dalam hal spiritual,
ibu ini hanya bisa sholat 2 kali dalam satu hari karena harus bekerja di TPAS
tersebut. Namun ibu ini
tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan.
Responden 9
RIKI
DAMANIK ( berumur 15 tahun kelas 2 SMP Negeri 7)
Hari
sabtu tanggal 24 maret saya datang ketanjung pinggir sekitar jam 2 siang
berangkat dari kampus beserta kelompok
dan sampai jam 14. 35 WIB. Sampai disana saya melihata seorang anak Riki
sitanggang adalah anak dari pak W. sitanggang ibunya br simanjuntak riki
sitanggan ini mengutip kara-kara setelah pulang sekolah dia sudah 4 tahun
mengutip kara-kara ditanjung pinggir. Riki sitanggang tinggal di jalan tanjung
pinggir no. 154, dia menjadi seorang pemulung karena ingin membantu
orangtuanya, dan dia pun sebenarnya menjadi pemulung hanya awalnya untuk uang
jajanya tapi karena pendapatanya Rp. 20.000 sebulan sehingga dia berniat
membantu orangtuanya sebab orang tuanya adalah seorang pedagang diparluasan
setiap pokan pagi. Riki adalah anak kedua dari 6 bersaudara. Riki juga rajin beribadah setiap minggu tapi
dia tidak masuk naposo bulung. Riki biasanya menjual kara-karanya setiap hari
ke toke kara-kara. Riki adalah suku batak Simalungun yang beragama Kristen
Simalungun jemaat GKPS HOSIANA.
Responden 10
Nama :
Ibu
Br. Pandiangan (Mak Ferry)
Pekerjaan : Pemulung
Suami : Bapak Tampubolon
(Ap. Ferry)
Pekerjaan
Suami : -
Anak : 5 orang
Tempat
Tinggal : Desa Tanjung Pinggir
Agama : Kristen
Ibu
ini merupakan istri dari bapak Tampubolon (Ap. Ferry). Ibu ini berprofesi
sebagai pemulung semenjak suaminya terserang penyakit Paru, Ginjal dan
diabetes. Ibu Ferry Br. Pandiangan berdomisili di kelurahan Pondok Sayur di
Jalan Tanjung Pinggir sejak tahun 1990. Bpk.
Tampubolon (Ap. Ferry)/ Ibu Br. Pandiangan (Mak Ferry) memiliki 5 orang anak,
dan anaknya yang pertama yaitu Ferry Tampubolon berprofesi sebagai supir Truk
Buah Sumut-Jawa. Karena jauhnya jarak dan waktu serta karena pekerjaannya,
Ferry jarang sekali menyempatkan dirinya untuk pulang ke rumah. Anaknya yang
ke-dua adalah seorang perempuan yang saat ini bekerja di Ramayana Department
Store Pematangsiantar. Sedangkan 3 orang lainnya masih sekolah. Dahulunya Ap.
Ferry Tampubolon sejak tahun 1980-an merupakan seorang supir truk buah Medan
(Sumut)-Jawa. Setelah suaminya yaitu appa Ferry Tampubolon mengidap penyakit
Ginjal, Liver, Paru, dan Gula Basah di tahun 2005 beliau menghentikan
profesinya sebagai supir truk buah Sumatera Utara-Jawa. Kemudian semenjak suami
ibu Boru Pandiangan ini mengidap komplikasi, ibu Br. Pandiangan menjadi
pemulung sejak tahun 2005 hingga sekarang.
Untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi dalam keluarganya ibu Boru Pandiangan menggeluti
profesi Pemulung TPAS Tanjungpinggir. Hal ini terpaksa dilakukannya oleh karena
suaminya sudah tidak bisa lagi bekerja untuk memenuhi nafkah kebutuhan dalam
keluarganya. Biasanya ibu br. Pandiangan di TPAS mengumpulkan sampah plastik
dan kemudian diletakkan di tempat yang sudah dia sediakan. Harga 1 kg plastik
kantongan/ kresek sekitar Rp. 1000,-/kg, sedangkan plastik kaca seharga Rp.
5000,-/kg, kemudian harga kertas buku Rp. 5000,-/kg. Saat ini jenis logam sudah
sangat jarang masuk ke TPS, sehingga untuk mendapatkannya mereka biasanya
membakar ban mobil yang ada agar kawatnya bisa diambil. Sebab harga jenis logam
jauh lebih mahal dari pada sampah yang lain. Di TPAS terjadi persaingan yang
sehat. Artinya meskipun mereka sama-sama mencari nafkah dari tempat yang sama,
namun tidak pernah ada konflik antar sesama mereka. Justru ketika saya dan
kelompok sebagai pengamat/ observer datang, di TPAS pada kamis yang lalu yang
terjadi adalah adanya modus pencurian barang-barang yang telah dikumpulkan yang
dicuri dengan modus berpura-pura gila. Selain memenuhi kebutuhan melalui
memulung, ibu Br. Pandiangan juga beternak Babi yang jumlahnya 10 ekor babi.
Demikian halnya juga dengan para pemulung yang lain bahwa ibu Br. Pandiangan
ini juga memperoleh bahan makanan ternak babinya dari TPAS yaitu berupa
sisa-sisa nasi, sayur-mayur yang sudah mulai rusak, serta buah-buahan yang
sudah busuk. Meskipun
ditengah-tengah kesibukannya, ibu boru Pandiangan mengakui bahwa dia dan
suaminya sangat merindukan kuasa pertolongan dari Tuhan atas kesembuhan
penyakit yang di derita oleh suaminya. Ia mangakui bahwa mereka masih selalu
menyempatkan diri untuk beribadah di gereja. Ibu dan Bapak Tampubolon merupakan
jemaat HKBP di daerah Tanjung Pinggir
III.
Analisis
3.1.Analisis
Gereja
Ø Gereja. Gereja
kewalahan untuk menjalankan program-programnya karena jemaat tidak peduli.
Gereja terkesan jalan ditempat karena tidak mengalami perkembangan.
Ø Ketidakpercayaan kepada anggota
majelis gereja. Perilaku sehari-hari anggota majelis
gereja sering tidak bisa menjadi teladan bagi jemaat. Misalnya, penatua ikut
mabuk-mabukan, pendeta yang otoriter. Itu sebabnya terjadi krisis kepercayaan
kepada anggota majelis gereja. Sehingga jika mereka berkhotbah, kadang
disepelekan.
Ø Hubungan antar denominasi gereja
juga dengan agama lain.
Walaupun jemaat terdiri dari berbagai aliran gereja, namun jemaat ditanjung Pinggir dapat hidup berdampingan dan saling mendukung dan jemaat Kristen juga dapat hidup saling mendukung
dengan agama yang berbeda seperti agama islam dan Kristen.
3.2.Analisis Politik
Masalah politik sangat berpengaruh kuat terhadap
kehidupan para pemulung sampah. Alasannya bahwa kehidupan politik yang tidak
stabil sangat berpengaruh kuat terhadap kehidupan mereka. Kenyataan ini sangat
dirasakan para pemulung sampah sperti kenaikan harga-harga bahan pokok yang
sangat drastis melonjak yang tidak sesuai dengan penghasilan yang
didapatkannya. Khususnya mengenai pemilihan Gubsu, para pemulung sampah
mengharapkan siapapun yang menang dalam pemilihan nanti agar dalam
pemerintahannya membawa perubahan bagi masyarakat miskin dan terpinggir. Para
pemulung sampah juga menharapkan suatu kepedulian yang relevan dari Pemerintah
kota Siantar yaitu agar benar-benar memperhatikan dan memberikan bantuan
kesehatan. Hal ini dikarenakan
menurut mereka pekerjaan yang dilakukan berada dalam kondisi yang buruk. Di
sisi lain mereka juga mengharapkan bantuan Pemerintah berupa Raskin dan uang
kompensasi BBM guna memenuhi kebutuhan mereka.
3.3.Analisis Ekonomi
Secara umum dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa kemiskinan adalah suatu keadaan hidup manusia yang serba
kekurangan baik dari makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Ini terlihat dengan
jelas dari kondisi-kondisi fisik orang miskin di perkotaan yang pekerjaannya
adalah pemulung, tukang sorong, pengemis, pedagang kaki lima, dll.
Kondisi-kondisi iru antara lain:
- pola makanan yang tidak menentu, jenis makanan lebih banyak karbohidrat, yang membuat seseorang kenyang dan jumlah makanan yang masuk ke tubuhnya juga tidak menentu.
- pakaian yang jarang diganti atau tidak sama sekali serta kotor dan lusuh.
- bentuk tempat tinggal dari bahan yang tidak permanen dipinggir sungai atau tidak mempunyai tempat tinggal sama sekali, tidur diemperan toko, di terminal atau pasar atau berpindah-pindah setiap saat.
- memiliki barang-barang yang terus-menerus dipergunakan dan tidak ada barang yan baru.Biasanya barang milik mereka berhubungan dengan peralatan kerja dan peralatan makan.
3.3.1. Analisis Hubungan Ekonomi
dan Keluarga
Pada umumnya para pemulung sampah sebahagian besar adalah
berasal dari kaum bapak dan ibu. Namun peran serta anak-anak juga dilibatkan
dalam memulung sampah-sampah yang dapat di daur ulang. Keterlibatan anak-anak
dalam memulung bertujuan untuk membantu meringankan pekerjaan orang tua mereka.
Sebagian besar anak-anak yang turut membantu para orang tua masih dalam masa
tahap pendidikan khususnya masa pendidikan sekolah dasar. Selain membantu orang
tua mereka, anak-anak yang turut dalam memulung bertujuan untuk memenuhi segala
kebutuhan sekolah mereka dan juga untuk kebutuhan lainnya seperti uang jajan
sekolah.
Keterlibatan anak-anak dalam memulung dilakukan seusai
sekolah. Dalam melakukan pekerjaannya, para anak-anak sangat menikmati
pekerjaannya dalam memungut botol-botol plastik maupun kantongan plastik yang
masih dapat di daur ulang. Persentase
jumlah anak-anak dalam tahap pendidikan yang turut ambil bagian dalam memulung
sampah yang didapatkan selama dalam penelitian yaitu 10 % dari keseluruhan
jumlah pemulung sampah. Selain anak-anak, para pemuda juga turut serta dalam
membantu orang tuanya. Sebagian besar para pemuda juga masih dalam masa
pendidikan yaitu SLTA sederajat. Seperti halnya anak-anak, mereka membantu
orang tua mereka setelah selesai kegiatan sekolah. Persentase yang didapat
selama penelitian terhadap para pemuda yang turut memulung adalaha 5 % dari
seluruh jumlah para pemulung.
Mengenai keterlibatan para anak-anak dan pemuda memang
dirasakan sangat membantu beban pekerjaan orang tua mereka. Namun menurut saya
ada dampak negatif akan keterlibatan mereka khususnya anak-anak. Mereka akan
lebih menyukai pekerjaan tersebut oleh karena menghasilkan sesuatu yang praktis
yaitu uang sehingga anak-nak lebih cenderung tertarik kepada kegiatan memulung.
Hal ini akan mengakibatkan pendidikan mereka akan menjadi tidak berkembang dan
tidak memikirkan studinya, bahkan pada suatu saat akhirnya mereka akan
meninggalkan pendidikan yang telah dijalani. Mengenai kasih sayang, umumnya
para anak-anak sangat minim mendapatnya dari kedua orang tua mereka. Hal ini dikarenakan
kesibukan yang penuh di dalam pekerjaan sebagai pemulung. Khususnya saat mereka
akan pergi ke sekolah, para anak-anak tidak lagi diberangkatkan oleh orang tua
mereka dikarenakan para orang tua telah berangkat terlebih dahulu daripada
mereka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap anggota keluarga langsung
siap berpartisipasi dalam kegiatan langsung dalam hal kegiatan ekonomi.
3.3.2. Analisis Hubungan Ekonomi dan Pendidikan
Umumnya para pemulung sampah memiliki tahap pendidikan
hanya sebatas sekolah dasar dan bahkan juga tidak menyelasaikan sepenuhnya
pendidikan dasar. Pendidikan anak mereka sebagian besar hanya sampai SLTP dan
sebagian kecil saja yang dapat menikmati jenjang pendidikan SLTA sederajat.
Kehidupan ekonomi para pemulung yang minim juga sangat besar kaitannya terhadap
kelangsungan pendidikan para anak-anak. Hal ini dikarenakan biaya pendidikan di
zaman sekarang sangat besar melebihi penghasilan yang didapatkan. Artinya
kelangsungan pendidikan anak-anak juga menjadi salah-satu masalah yang terus
menjadi pergumulan orang tua mereka. Oleh sebab itu anak-anak di izinkan untuk
ikut serta memulung untuk memperbesar produktivitas ekonomi pendapatan per
harinya. Kenyataan dalam pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir anak-anak.
Mereka cenderung sangat memiliki sikap pesimistik terhadap kehidupan masa depan
mereka. Anak-anak menjadi terkurung dalam situasi yang terjadi kepada keluarga
mereka sendiri. Mereka menjadi sosok manusia yang hanya memikirkan masa depan
hanya dengan jalan bekerja keras demi menghasilkan uang yang banyak.
Dengan memiliki uang yang banyak maka masa depan menjadi
ada bagi diri mereka sendiri, bukan hanya melalui pendidikan yang formal saja.
Anak-anak cenderung menjadi seseorang yang juga bertanggung jawab akan pemenuhan
kebutuhan pendidikan selain orang tua mereka. Pada akhirnya anak-anak akan
memutuskan untuk melepaskan pendidikannya guna mengurangi beban hidup dan
ekonomi keluarga mereka.
3.3.3.
Analisis Hubungan Ekonomi dan Agama
Pada umumnya para
pemulung sampah mayoritas adalah agama Kristen dan selebihnya beragama Islam.
Namun perbedaan agama bukan menjadi faktor utama dalam hal kebersamaan dan
kerukunan hidup diantara mereka. Para pemulung dapat hidup bersama secara
harmonis dikarenakan adanya perasaan senasib dan sepenaggungan di dalam
kehidupan mereka sendiri. Namun secara khusus permasalahan bagi para pemulung
sampah yang beragama Kristen bahwa gereja belum menyentuh pergumulan mereka
serta adanya peran serta gereja dalam pelayanan kategorial diakonal. Dalam hal
ibadah para pemulung jarang untuk menghadiri kebaktian minggu dikarenakan
mereka lebih mementingkan kerja mereka. Dalam hal ini para pemulung memiliki
sikap kurang kepercayaan terhadap gereja dikarenakan para pelayan gereja jarang
untuk terju secara langsung melihat kehidupan mereka sendiri serta membantu
dalam memecahkan persoalan keluarga yang dialami mereka.
1. Kesenjangan
yang terjadi antara daerah pusat dan daerah pinggiran. Pembagian hasil
pembangunan yang tidak merata menyebabkan hasil pembangunan hanya dapat
dinikmati oleh orang-orang yang ada di daerah pusat. Hal ini membuat orang
berlomba-lomba untuk mengejar hasil pembangunan di kota Pematang Siantar dan meninggalkan
daerah pedesaan yang dilihat sebagai daerah yang tidak menghasilkan apa-apa.
2. Hasil
pembangunan hanya dinikmati oleh mereka yang mampu, terkhusus oleh mereka yang
memiliki modal. Oleh karena itu kesempatan hanya ada bagi mereka yang memiliki
modal dan mereka yang mau mengikuti arus globalisasi. Padahal di sisi lain
sebagian besar masyarakat Indonesia adalah orang yang tidak mampu di dalam
modal.
3. Banyaknya
jumlah pengangguran di Indonesia. Lapangan pekerjaan yang terbatas hanya bagi
mereka yang memenuhi persyaratan secara resmi (formal), sedangkan bagi yang
tidak memenuhi persyaratan akan menambah jumlah pengangguran.
3.4.
Analisis Budaya
Kemiskinan
hidup sangat terlihat dalam kemiskinan budaya atau lebih tepat disebut sebagai
“pemiskinan budaya”. Globalisasi bukan hanya proses transformasi dan penindasan
secara ekonomi, teknologi dan politik. Namun lebih jauh lagi dari itu proses
transformasi budaya barat dan sekaligus penindasan terhadap budaya lokal atau
budaya suku dan nilai-nilai arif yang terkandung di dalamnya. Kearifan lokal
yang selama ini menjadi pegangan dan pedoman kehidupan bersama tersingkir dan
tidak mempunyai kesempatan muncul dalam kehidupan persaingan
individual/kelompok yang sangat mementingkan kemampuan pribadi/kelompok dalam persaingan.
Dalam globalisasi ini budaya lokal hanya bisa muncul sebagai komoditi tourisme,
sebagai tontonan eksotis, dan bukan bagian hidup yang utuh. Budaya barat
menjadi acuan dan pilihan satu-satunya dalam berkomunikasi dan mengekspresikan
diri yang diakui secara lobal. Manusia tidak lagi dinilai dari eksistensi yang
seutuhnya tetapi dari kemampuan-kemampuan yang dicapainya.
3.4.1.
Analisis
Budaya Kemiskinan
Istilah
ini pertama kali ditemukan dalam karya tulisan seorang Antropolog Amerika
bernama Oscar Lewis (1960-an). Menurutnya budaya kemiskinan mempunyai beberapa
ciri-ciri, antara lain:
a. Perasaan
cemas dan takut tanpa alasan bila berhadapan dengan orang lain, apalagi bila
orang tersebut mempunyai status lebih tinggi.
b. Perasaan
curiga dan terancam yag berlebihan bila ada oramg yang belum dikenal datang.
c. Penghargaan
pada diri sendiri atau kemampuan diri sendiri sangat kecil bahkan sering
merendahkan dan meniadakan diri sendiri.
d. Sulit
untuk berorganisasi dan mempunyai komitmen bersama, serta mudah dipecah demi
mendapatkan makanan.
e. Seluruh
kegiatan hidupnya hanya terfokus dan terkonsentrasi pada upaya keras mencari
makanan.
f. Cemburu
bila melihat orang lain mendapatkan benda, uang atau makanan yang lebih
daripada yang seharusnya diterima.
Sikap
dan mentalitas tersebut secara tidak sadar menghinggapi anak keturunan mereka.
Bahkan, membelenggu dan membentuk lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of
poverty) yang tidak mudah dilepaskan serta ditanggalkan.Karenanya, masalah
kemiskinan dipandang dari sudut teoretis dan metodologis paling tidak ada tiga
hal yang dapat dijadikan pegangan.
3.4.2.
Analisis
sosio-kultural
Ø Struktur sosial. Pembagian
struktur sosial masyarakat desa didasarkan oleh kepemilikan uang dan peran
sosial dalam masyarakat. Masyarakat
diTanjung Pinggir memiliki struktur sosial, sbb:
1. Pemilik
modal
2. Pegawai
pemerintah
3. Pemimpin agama
4. Pemilik
tanah, penyewa tanah dan pedagang
5. Masyarakat
miskin: pekerja harian di sawah, penarik becak.
Ø Nilai-nilai dalam masyarakat
Ada beberapa
nilai-nilai yang tampak dalam masyarakat desa dan beberapa perubahan nilai yang
terjadi, yakni:
a. Nilai
spiritualitas dan material. Nilai spiritualutas telah mengalami pergeseran
karena nilai material. Ini nampak ketika jemaat tidak datang ke gereja karena banyak yang kerja di tanjung Pinggir
pada hari minggu. Pemahaman jemaat tentang pentingnya persekutuan jemaat di
gereja sudah menurun. Nilai pelayanan dan nilai kuasa (pengaruh). Jabatan
pemerintahan seharusnya diemban untuk melakukan tugas pelayanan ke tanjung pinggir P. Siantar.
Namun jabatan itu dijadikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan kekuasaan.
b. Nilai
tradisional. Beberapa nilai tradisional masih berkembang, seperti: anak
perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, kepala rumah tangga harus
dilayani dengan baik sebab laki-laki adalah anak ni raja, kaum ibu
bertanggungjawab penuh mengurus anak. Nilai-nilai seperti ini memberikan
pengaruh buruk bagi kehidupan keluarga dan kemajuan pendidikan di desa.
a.
Norma agama. Jika norma agama di langgar
maka seseorang akan mendapat sanksi moral dari masyarakat atau terkena siasat
gereja dari gereja (HKBP menyebut RPP = ruhut parmahanon dohot paminsangan)
b.
Norma adat. Jika norma ada dilanggar
maka seseorang akan mendapat sanksi moral dari masyarakat. Misalnya, jika
seseorang malas datang ke acara adat, maka orang pun akan malas datang ke acara
adat yang ia lakukan.
Ø Pendidikan masyarakat. Penduduk
di tanjung kebanyakan tamat SMP,
ada juga yang SD dan sedikit yang tamat SMA. Di desa ini, di samping anak yang
malas sekolah, orangtua juga kurang memberi motivasi untuk bersekolah. Ini
menyebabkan tidak terjadi perbaikan perekonomian.
3.5.
Analisis
Historis
Ø Pengaruh historis bagi situasi
sekarang. Sejarah desa memberikan pengaruh yang dapat
dirasakan dalam situasi sekarang, yakni:
1.
Tanah yang berukuran 21/2 hektar milik pak G Sitorus ditanjung
pinggir yang disewakan kepada Pemerintah selama 20 tahun, dan masa habisnya
kontrakan tanah ini bulan agustus 2012 ini ternyata tidak sembarangan orang
memulung disitu. Siapa yang memulung di TPAS tanpa izin akan mendapatkan
sanksi. Yang memulung di TPAS tanjung pinggir P. Siantar harus meminta izin
dari mandor yang ada disitu.
2.
Ibu siaahaan yang telah membeli tanah
dekat tanjung pinggir ini mengaku telah membeli tanah tanjung pingggir Tetapi mereka tidak memiliki surat tanah. Sehingga mereka
masih waspada untuk menempati tanah tersebut, mereka terpaksa membeli tanah
tersebut karena murah dan tidak ada lagi tanah yang mereka tempati untuk
melangsungkan hidup mereka dengan tanah
murah. Tanah tersebut dari pengakuan ibu br siahaan yang kerap dipanggil dengan
ibu oshin mengaku bahwa tanah tersebut milik pemerintah atau tanah yang
ditempati masyarakat di tanjung pinggir rata-rata adalah tanah sengketa. Kemungkinan
jika masalah ini tidak segera diselesaikan dapat menimbulkan masalah sosial
yang lebih besar antara penduduk di
Tanjung Pinggir dengan Pemerintah Kota P.siantar.
3.
Suku Jawa. Selain suku Batak , ada juga suku Jawa tinggal di Tanjung Pinggir. Mereka ini dulunya datang dari perantauan yang megadu nasib, namun karena
mereka sudah sempat merantau dari kampung mereka, namun tidak mempunyai hasil
sehingga mereka terpaksa tinggal di Tanjung pinggir akibat mereka malu kembali
kekampung asal mereka tidak membawa hasil.
IV.
Masalah
Dasar Sosial
Dalam
situasi Negara Indonesia kemiskinan itu dapat diartikan dengan keadaan
masyarakat yang diukur dari rendahnya kemampuan untuk membeli dan memenuhi sembako dan kebutuhan dasar
manusia. Yang selanjutnya juga diukur dari kurangnya kemampuan untuk
mendapatkan akses masyarakat terhadap sumber daya, misalnya kesehatan,
pendidikan, komunikasi, media dan pasar. Miskin adalah salah satu pola
masyarakat yang serba kekuarangan dari makanan, pakaian dan tempat tinggal.
Misalnya :
-
Pola
makan yang tidak menentu, makan hanya 1 – 2 kali sehari,
atau bahkan tidak ada makan dalam 1 hari, sehingga jumlah makanan yang masuk
kedalam tubuhnya tidak menentu.
-
Pakaian,
yang itu-itu saja, dan tidak pernah diganti sehingga tampak lusuh dan kotor.
-
Bentuk
tempat tinggal, yang tidak permanen, letaknya berada
dipinggiran kota, atau dipinggiran sungai atau juga dipinggiran rel kereta api.
-
Memiliki
barang-barang yang itu-itu saja, misalnya peralatan
kerja yang itu-itu saja dipakai atau juga peralatan makan yang itu-itu saja. Ini adalah merupakan gambaran kehidupan
orang miskin diperkotaan, dan ini sangat
umum dialami oleh para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Tanjung
Pinggir,, Pem.Siantar. Globalisasi menyebabkan adanya sebuah perubahan
kehidupan lokal yang sudah lama membudaya menjadi sebuah kehidupan yang tidak
legi berpatok kepada budaya yang sudah lama diikuti itu lagi, tetapi tidak
lain, kehidupan ini, baik kehidupan sang kaya dan kehidupan sang miskin telah
mengacu kepada sebuah kehidupan yang baru yaitu kehidupan dunia barat.
Kapitalisme, indistrialisasi dan penguasaan pasar menjadi sebuah sistim yang
baru dalam masyarakat dan menjadi dunia baru. Sementara budaya yang lama hanya
menjadi sebuah sejarah yang lalu, walaupun terkadang budaya itu dimunculkan
namun itu hanya sebagai tontonan saja. Seakan-akan seorang Indonesia merasa
dirinya sebagai orang Barat yang ingin
menonton kebudayaan yang ternyata kebudayaan itu adalah kebudayaannya
sendiri yang sudah lama dilupakannya. Dan akhirnya ini menjadi sebuah
kebudayaan yang baru. Orang asli Indonesia sepertinya sudah menjadi malu jika
ia sendiri mengikuti kebudayaannya sendiri, atau disebut dengan “Indonesia modern”. Atau dengan kata
lain, seorang Indonesia modern telah malu dengan kebudayaan lamanya sendiri,
dan seorang Indonesia modern lebih merasa bangga dengan kebudayaan barat yang
ia sendiri belum sepenuhnya tau tentang apa kebudayaan barat itu
Jadi
sebenarnya masalah yang mendasar dalam kehidupan sosial Indonesia yang masuk
dalam dunia glonalisasi adalah belum siapnya mental masyarakatnya dalam
memasuki globalisasi tersebut, sehingga akhirnya masyarakat itu mudah
terombang-ambing dan akhirnya menjadi pengikut dari budaya bangsa lain yang
dibawa oleh bangsa lain saat globalisasi itu sedang berlangsung.
Maka
dengan itu, apa yang terjadi oleh masyarakat Indonesia ini bukanlah “bangsa
Indonesia yang kini sudah menjadi Indonesia yang modern”, melainkan sebuah
bangsa Indonesia yang terbawa arus globalisasi dan boleh dikatakan kebudayaan
yang telah berubah itu adalah sebuah efek/akibat globalisasi. Efek ini bukan kebudayaan yang lama telah
menjadi modern, tetapi merupakan kelalaian atau kesilapan dari masyarakat
Indonesia sendiri yang lupa akan kebudayaan aslinya dan tanpa sadar
terikut-ikut dengan kebudayaan yang kebarat-baratan.
4.1. Akar masalah yang menjadi penyebab
mendasar dalam situasi para pemulung ialah:
1. Sikap individual
pemerintah yang mencolok.
Dalam masyarakat indonesia nilai kebersamaan yang dulu di lambangkan dengan pancasila dan Bhieneka Tunggal Ika
yang telah ada dalam masyarakat Indonesia digantikan dengan nilai individualisme, yang
ditandai dengan mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan orang
lain. Sebagai contoh dalam
kepedulian Pemerintah terhadap para pemulung. Seandainya pemerintah memperhatikan kehidupan para pemulung baik dari segi
kesehatan dan ekonomi bisa jadi para
pemulung dapat hidup lebih sejahtra. Dan juga dengan Bank yang ada di Indonesia
seandainya memberikan pinjaman dengan bunga yang kecil kepada para pemulung
untuk membuka usaha mereka, bisa jadi mereka hidup lebih sejahtra untuk membuka
usahanya. Dan jika orang kaya
memperhatikan ini seharusnya tidak mengkucilkanya tetapi bagaimana cara
mengatasinya, sebab masalah rakyat yang kecil harus diperhatikan rakyat yang
besar.
2. Kurangnya pendidikan para
pemulung Ini menyebabkan para pemulung kurang terbuka cakrawala berfikirnya dan sulit
untuk mencari pekerjaan. Kaum Bapa yang tidak memiliki latarbelakang pendidikan
akhirnya menjadi pemulung.
dan terkadang menghabiskan
waktunya bermalas-malasan di warung tuak ketika dapat malam hari bersama dengan teman-temannya yang
lain.
Dengan melihat akar dari permasalahan tersebut diatas
dapat disimpulkan bahwa rakyat indonesia kurangnya persatuan. Seandainya kita
sebagai masyarakat indonesia menyadari ini bisa jadi rakyat yang ada di indonesia yang hidup dijaman
eraglobalisasi ini tidak akan mendapat masalah yang membuat rakyat lemah atau
rakyat kecil tertindas.
V.
Refleksi
Para Pemulung sampah yang di Tanjung Pinggir, yaitu
pekerjaan yang mencari barang-barang yang telah tidak dipakai lagi di Tempat
Pembuangan Sampah di Tj. Pinggir.
Pekerjaan untuk mencari nafkah dengan bergelut dengan sampah yang sudah tentu
sampah ini adalah sampah yang dibawa dari segala sudut kota madya
Pematangsiantar dan sudah barang tentu pula bahwa sampah ini sangat
bermacam-macam. Ada sampah logam yang berasal dari bengkel-bengkel, ada sampah
yang berasal dari Rumah Sakit/Klinik, Pajak dan lainnya. Dari sini saja sudah
nampak dengan jelas bahwa sampah ini dapat menimbulkan resiko kesehatan,
misalnya sampah logam dapat menimbulkan infeksi jika luka, sampah dari Rumah
Sakit/Klinik dapat menyebarkan penyakit, dan sampah makanan yang telah membusuk
akan menimbulkan aroma yang sangat menyengat penciuman. Entah bagaimana, secara
logika yang sehat seharusnya para pemulung sudah terkena penyakit yang dapat
digolongkan kedalam penyakit yang berbahaya. Namun sepertinya hal itu tidak
ada, Entah karena sudah kebal atau memang penyakit itu sudah menyatu dengan
fisik sehingga tidak menimbulkan rasa sakit lagi dalam tubuh. Seharusnya
pemerintah memperhatikan hal ini, dimana para pemulung adalah juga manusia yang
tedaftar sebagai Warga Negara Indonesia. Suara hati para pemulung yang paling
mendalam mengatakan “seharusnya kami juga diberlakukan sama dengan warga negara
yang lainnya, supaya kami tidak hidup dalam kesia-siaan.”
Pendidikan
yang diperoleh juga seharusnya dapat diakui dan disamakan dengan pendidikan
yang diperoleh orang lain. Pada sebagaian kecil ada pemulung yang mampu untuk mengikuti pelajaran yang
Formal, namun dampak globalisasi yang meminta untuk lebih mementingkan dan
memakai manusia yang telah menerima pendidikan Informal (PLSM) membuatnya
mau-tak-mau harus tersingkir. Ijazah yang diraih hanyalah sebagai formalitas
saja, tanpa ada yang bisa diandalkan dengan ijazahnya tersebut. Kalaupun ada
yang menerima dengan Ijazah yang dibawa, palinglah ditempatkan pada posisi
paling terendah, misalnya di bagian Cleaning Service (kebersihan), pekerjaan
yang melelahkan sebab sangat membutuhkan tenaga otot untuk melakukannya. Dan yang lebih tragisnya adalah bagi yang
tidak mampu untuk menikmati dunia pendidikan. Untuk mendapatkan makan
sehari-hari saja sudah tidak mampu, apalagi mendapatkan pendidikan Formal. Jika
bernasib mujur, pekerjaan yang bisa didapatkan hanyalah sebagai Pembantu Rumah
Tangga saja untuk menaikkan harkat dari pemulung, tak lebih dari itu. Walaupun
ada kebijakan pemerintah yang mengangkat harkat dan martabat orang miskin,
namun itu hanya “janji yang manis didengar, tetapi tawar dirasa”. Tak
sepeserpun bantuan pemerintah yang datang kepada para pemulung sampah ekonomi
lemah di Tj. Pinggir ini. Pemerintah harusnya memberikan pendidikan dan
pembinaan bagi para pemulung ini dan memberikan modal serta menjamin perjalanan modal ini agar
tidak dimangsa oleh para pemilik modal yang sudah berpengalaman dan kuat. Para pemulung ini membutuhkan dana dan
pembinaan serta jaminan..
Demikian
juga peran gereja bagi para kaum pemulung dan kaum miskin lainnya, gereja
harusnya melakukan Pelayanan Pembebasan, yaitu model pelayanan yang baru dan
dapat dikatakan ideal. Analogi model ini ialah bila ada orang lapar, jangan
hanya diberi roti, kail dan cangkul, tetapi berilah juga hak. Pemberian roti
dan kail serta keterampilan maupun pembangunan saran tidak berguna bila hutan,
tanah, laut sudah dikuasai kelompok tertentu. Gereja tidak lagi hanya diartikan
sebagai gedung yang statis, melainkan sebagai gerakan yang terbuka bagi
pembaruan dan menjalankan visi Kerajaan Allah. Bukan gereja yang harus menjadi
besar, tetapi Kerajaan Allah yang harus hadir dalam kehidupan manusia.
Perhatian
kepada mereka para pemulung bukan hanya berarti memberi makan, minum, pakaian,
pembangunan, dsbnya, tetapi bagaimana bersama masyarakat memperjuangkan hak-hak
hidup, seperti hak makan, nafas, kerja, sehat, dsbnya, yang telah hilang karena
dirampas oleh pihak lain. Manusia butuh nasi, tetapi hendaklah ingin nasi itu
diperoleh dengan keadilan, Manusia butuh nasi, tetapi hendaklah nasi itu
diperoleh dengan kebebasan. Manusia butuh nasi, tetapi hendaklah nasi itu
diperoleh dengan martabat dan pengharapan.
Dengan
kata lain, perhatian terhadap kaum pemulung yang miskin ini adalah pembelaan
yang membebaskan. Perhatian ini sangat dibutuhkan pada saat ini oleh masyarakat
karena kompleksitas masalah dan sistem serta struktur masyarakat yang semakin
tinggi. Harusnya pembelaan pemerintah dan gereja jauh lebih dasariah atau
radikal, kerena itu membantu masyarakat miskin mempertahankan hidupnya, seperti
tanah, hak asasi, lingkungan hidup yang damai, dll.
VI.
Penutup
Berdasarkan hasil penelitian yang ditulis
diatas maka dapat disimpulkan bahwa pemulung di TPAS Tanjung Pinggir melakukan
interaksi sosial yang baik antara yang satu dengan yang lainnya. Dan disana
mereka juga hidup dengan keterikatan sosisal, budaya , agama, politik dan
ekonomi serta norma-norma yang mengikat mereka.
Dan disini menyimpulkan bahwa semua yang
berlaku dalam kehidupan dipengaruhi oleh ekonomi. Begitu jugalah yang berlaku
dalam kehidupan masyarakat pemulung tersebut, dimana ekonomi adalah faktor
penting bagi kehidupan mereka. Namun mereka terkadang melupakan nilai
spritualitas mereka akibat ekonomi mereka yang sangat minim. Persaingan dalam
mengejar ekonomi adalah sah-sah saja, namun tidak ada persaingan yang cukup
besar diantara mereka. Siapa sajapun boleh bekerja disana namun harus minta izin dulu dari
mandor yang di TPAS Tanjung pinggir P. Siantar.
Komentar